Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


EATERNITY, Padukan Pizza dengan Konsep Industrial

    Eaternity
    Eaternity Solo
    Meja Unik berbentuk bekas rol kabel fiber optic
    Eddi Siswoyo
    Aneka Menu Eaternity

    Dalam memilih restoran untuk memenuhi kebutuhan makan, saat ini masyarakat bukan hanya mencari menu makanan saja, akan tetapi tempat yang unik serta cozy menjadi cukup diminati. Hal tersebut yang menjadi dasar Eddi Siswoyo dalam membangun sebuah restoran yang tidak hanya mengunggulkan menu makanan yang lezat, tapi juga tempatnya yang lain daripada yang lain. Dan akhirnya pada bulan Agustus 2014, Ia mulai membuka restoran yang diberi nama Eaternity.

    “Kalau untuk namanya sendiri sebenarnya ini (red: Eaternity) adalah plesetan dari kata eat (makan) dan eternity (berkesinambungan). Jadi harapannya sih orang-orang yang makan ke sini bakal selalu berkesinambungan,” ungkap Eddi. Restoran yang terletak di Jalan Ir. Soekarno no. 27 ini memiliki konsep industrial dengan sentuhan unfinished yang nampak mendominasi sudut bangunannya.

    Ide untuk tempat ini sendiri, Eddi memperolehnya dari pengalamannya bermain ke tempat-tempat serupa, serta banyak membaca majalah dekorasi. Nampak dari tampilan depan bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 220 m2, dinding luar lantai bawah dipenuhi dengan ornamen kayu berwarna coklat natural yang nampak serasi dengan model pintu dan jendela minimalis berwarna hitam. Bergeser ke atas, dinding luar lantai atas dipilih dengan model batu bata ekspos dengan cat putih yang dilengkapi dengan jendela model vintage berwarna kuning dan kanopi mini bermotif belang.

    Memasuki ruang utama lantai bawah, nuansa industrial langsung mendominasi isi ruangan. Meja makan yang digunakan sengaja mengacu dari bentuk rol bekas kabel fiber optic yang sering dijumpai pada pekerjaan jalan. Untuk kursinya dipilih kursi model jaman dahulu berbahan pipa dan plat besi yang dicat berwarna abu-abu. Pada sisi lain juga nampak meja dan kursi yang nampak berbentuk seperti bekas pallete. Dinding sekeliling ruangan sengaja dibuat unfinished tanpa cat lengkap dengan berbagai lukisan dinding yang bertuliskan beberapa kata-kata unik. Lampu ruang juga didesain menyerupai lampu bunker dengan cup berbahan plat besi berwarna kuning. Meja pada main bar juga tetap bernuansa tanpa cat dengan top table berbahan kayu berwarna kuning. Di atasnya terdapat rak besi berwarna senada dengan top table yang dihiasi berbagai macam botol minuman.

    Pada dinding di belakang meja kasir terdapat hiasan berupa ban mobil bekas yang tergantung oleh sebuah tali besar layaknya sebuah gudang penyimpanan di pelabuhan. Bergeser agak ke kiri terdapat satu sisi dinding berwarna hitam yang dipenuhi graffity bergambar beberapa menu andalan di restoran ini lengkap dengan nama makanannya. Pada sisi tembok ini juga terdapat sebuah lubang berbentuk persegi panjang yang juga menjadi akses keluar makanan yang akan dihidangkan kepada konsumen setelah selesai dimasak. Toilet di lantai bawah juga bernuansa industrial dengan wastafel yang memanfaatkan drum bekas minyak pelumas serta pintu toilet model geser yang berbahan galvalium berwarna kuning.

    Tangga sebagai akses menuju lantai atas didesain berbentuk melingkar tanpa cat senada dengan dinding dilengkapi railing bergaya minimalis berwarna hitam. Memasuki ruangan pada lantai atas, nampak nuansa yang sedikit berbeda dengan lantai bawah.

    Apabila di ruangan lantai bawah lebih bernuansa kekuningan, di sini lebih dominan warna tosca dengan sedikit sentuhan batu bata ekspos pada beberapa sisinya. Aroma vintage lebih terasa pada ruangan ini, dengan desain meja dan kursi bergaya klasik berwarna coklat natural berpadu dengan rangka yang berwarna putih. Pada sudut ruangan juga terdapat sebuah minibar yang bersanding dengan tungku wood fire oven bergaya ala italiano.

    Resto yang memiliki jam operasional antara pukul 10.00 s.d. 23.00 setiap harinya ini lebih fokus pada menu makanan western.Eddi mengaku awalnya ia kecewa dengan beberapa restoran western yang lebih memilih cara instan dalam mengolah menu makanannya sehingga mengesampingkan keotentikan dari makanan tersebut.

    Berawal dari kekecewaan itu akhirnya ia memilih untuk mengedepankan cara memasak homemade pada setiap makanan di restorannya. “Kalau di sini sebagian besar kita buat benar-benar dari bahan fresh, misalnya beberapa saus dan mayonais itu kita bikin sendiri bukan memakai produk jadi yang sudah banyak beredar di pasaran. Pokoknya kita pengen menonjolkan sisi home made pada semua menu di sini”, ujar pria yang pernah mengenyam pendidikan di bidang kimia makanan ini. Eaternity juga memiliki Captain dan Head Kitchen yang telah berpengalaman di bidang masakan western untuk menjaga kualitas menu masakannya.

    Kurang lebih terdapat 60 menu makanan di restoran ini. Beberapa menu yang menjadi andalan misalnya Home made Pasta Capelleti con Gambereti. Pasta dengan isian udang cacah yang dicampur dengan tomat sehingga berwarna kemerahan. Kemudian dihidangkan dengan garlic butter sauce di atasnya yang mempunyai cita rasa gurih merupakan favorit pecinta makanan pasta yang datang ke tempat ini.

    Untuk pecinta hidangan burger, ada satu menu andalan restoran ini yang diberi nama Japanese Hamburg Gratin. Panties burger dengan modifikasi nasi putih sebagai pengganti roti burger biasanya, disiram dengan saus hamburg bercitarasa asia yang manis dengan sedikit asam. Topping keju mozarella dan jagung manis menjadikan makanan ini cocok di lidah lokal.

    Kemudian satu lagi hidangan andalan dari resto ini yaitu Pizza Flammkuchen. Adonan roti pizza home made dari Eaternity yang dipanggang dengan suhu tinggi di dalam tungku wood fire menjadikan tekstur roti yang begitu garing di luar namun empuk di dalamnya. Dengan base sour cream hasil olahan para chef berpengalaman memberikan rasa creamy khas autenthic italian pizza. Ditambah dengan taburan smoke beef, onion, dan daun parsley yang dicop menambah kenikmatan citarasa hidangan ini.

    Sebagai pelengkap hidangan makanannya, restoran ini juga menawarkan beberapa menu minuman yang tak kalah dalam menggugah selera. Salah satu yang menjadi andalan yaitu Mocca Cookies. Dengan basic kopi dan coklat yang diblend bersama oreo. Lalu dihidangkan dengan topping es krim vanilla di atasnya, cocok bagi pecinta kopi yang ingin mencoba sensasi minuman ini. Kemudian resto ini juga menawarkan minuman dengan sensasi creamy lainnya yaitu Royal Cream Caramel. Susu yang dipadukan dengan krimer lalu diblend menjadi satu menciptakan rasa yang manis dengan sedikit gurih dari krimer. Ditambah taburan kacang almond di atasnya menjadikan paduan yang pas pada minuman ini.

    Bagi yang menyukai minuman segar, resto dengan dua lantai ini juga menawarkan Watermelon Granita. Buah semangka segar yang kemudian dicrush dan dishake bersama daun mint, menjadikan minuman ini sangat cocok dinikmati saat siang hari yang terik.

    Untuk harga yang ditawarkan restoran yang menyasar pada segment anak muda dan family ini masih relatif terjangkau. Berkisar dari 13 ribu hingga 118 ribu rupiah untuk menu makanannya. Sedangkan untuk minuman dipatok dari harga 7 ribu hingga 19 ribu rupiah. Eddi juga menambahkan bahwa pada bulan ini ada promo menarik yang ditawarkan Eaternity resto, yaitu berupa potongan harga langsung sebesar 50% untuk pemesanan menu steak yang kedua. Syarat dan ketentuan promo ini yakni hanya berlaku untuk makan di tempat, steak kedua harus berharga sama atau lebih rendah, serta masing-masing pesanan steak harus disertai pembelian makanan. Farhan-red

    EATERNITY
    Jalan Ir. Soekarno No. 27, Grogol,
    Kabupaten Sukoharjo,
    Jawa Tengah 57552, Indonesia
    telepon: +62 271 621434
    twitter : eaternity_solo
    instagram : eaternity_solo

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain