Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Kebebasan Menikmati Wedangan & Panganan di Pendopo Nde' Luweh

    Pendopo nde'Luweh
    Area VVIP dan Irsyam Sigit Wibowo(owner)
    Pendopo dan Limasan yang nyaman
    Area Outdoor Pendopo Nde'Luweh
    Aneka hidangan Pendopo Nde'Luweh

    Perkembangan rumah makan di Yogyakarta semakin banyak memberikan pilihan bagi para konsumen dalam memilih menu serta konsep resto yang akan dinikmati. Kreatifitas serta jatidiri sebuah rumah makan akan menjadi kekuatan dalam menjual konsep serta menu kuliner yang akan ditawarkan.

    Pendopo Nde Luweh menawarkan sebuah konsep rumah makan dengan konsep bangunan tradisonal yang dipadukan dengan konsep alam untuk mendukung gerakan pro lingkungan (go green). Nde Luweh sendiri merupakan kata-kata yang dipilih oleh Sang Owner, Irsyam Sigit Wibowo, untuk menegaskan filosofi ”Luweh” yang berarti sak karepmu atau terserah. Resto tersebut memberikan kebebasan bagi para pengunjung untuk menemukan kenyamanannya meski hanya sekedar ngobrol berlama-lama tanpa larangan apapun. Terlepas dari kata Luweh, pelayanan yang diberikan bukan berarti asal-asalan tetapi tetap mengacu pada standar pelayanan resto yang mengutamakan kenyamanan pengunjung.

    Pendopo Nde Luweh menempati lahan seluas 1300 m² yang sebelumnya merupakan bangunan pabrik furnitur. Beralamat di Jalan Ngeksigondo No. 54, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta sepintas dari depan tidak nampak bangunan pendopo yang merupakan bangunan utama dari resto tersebut. Dari depan nampak bangunan besar menyerupai gudang workshop yang saat ini difungsikan sebagai tempat parkir pengunjung Nde Luweh. Keuntungan dari pemanfaatan bangunan bekas pabrik tersebut sebagai tempat parkir dalam yang memberikan kesan aman dan tenang bagi para pengunjung karena lokasi parkir yang tertutup. Masuk ke dalam lagi akan banyak ditemui berbagai jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan menu andalan resto Pendopo Nde Luweh ini. Tanaman yang ditanam antara lain adalah kemiri, pandan, kayu manis, kopi, dan markisa yang mulai ditanam sejak resto ini didirikan 3 tahun lalu.

    Bangunan utama dari Nde Luweh ini adalah sebuah Pendopo dengan kapasitas 60 sampai 70 orang. Pendopo yang didatangkan dari Nganjuk tersebut merupakan bangunan Jawa dengan konsep ”Cere Gancit”. Menurut pria kelahiran 12 Desember 1968 ini, Yang dimaksud Cere Gancit adalah penggabungan 2 bangunan limasan menjadi satu pendopo dengan material kayu yang dipergunakan adalah kayu jati dan nangka. Kedua jenis kayu tersebut telah banyak dipergunakan oleh masyarakat dari jaman dahulu karena terkenal akan kekuatan dan keawetannya. Pada salah satu sisi pendopo terdapat Geber Wayang lengkap dengan gamelannya. Pada acara-acara tertentu diadakan pertunjukan wayang secara singkat yang disesuaikan dengan agenda para pengunjung. Pengunjung yang secara rutin menikmati wayang biasanya adalah turis asal Jepang dengan spesial pertunjukan wayang dengan bahasa jepang karena adanya kerjasama dengan Tour Agent yang biasa mendatangkan turis asal Jepang.

    Furnitur yang digunakan untuk melengkapi Nde Luweh sebagian besar merupakan furnitur dengan material utama berupa kayu. Berbagai jenis furnitur yang merupakan kayu repro dengan kesan antik tidak lepas dari hobi Sang pemilik yang sebelumnya berbisnis kayu repro dan antik. Selain kayu ada juga beberapa furnitur dengan material kombinasi metal dan kayu yang difungsikan pada bagian outdoor resto agar terjaga keawetannya. Pemanfaatan lesung lama yang dikombinasikan dengan kaca berukuran panjang menjadi meja memberikan kesan keunikan tersendiri.

    Pencahayaan pada waktu malam hari tidak lepas dari perhatian ayah 2 anak ini dalam merencanakan dan memilih material pencahayaan. Pemilihan lampu dengan warna kuning dan penggunaan berbagai jenis anyaman bambu yang mudah didapat serta ditutup dengan kain agar cahaya tidak pecah ketika difoto menjadi nilai tambah resto yang menjadi perhatian Sang owner. Tambahan lilin apung pada setiap meja menjadikan suasana tenang dan romantis.

    Keunikan lain dari resto ini adalah pemanfaatan bahan-bahan alami sebagai alternatif pengganti produk pabrik untuk mendukung konsep go green. Tanaman pandan yang banyak tumbuh di sudut-sudut resto ini selain dimanfaatkan sebagai bahan pelengkap resep makanan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pengharum ruangan. Aroma khas pandan yang tidak terlalu keras dibanding pewangi kimia diyakini juga oleh Sang Pemilik dapat berfungsi untuk mengusir nyamuk di lingkungan resto. Selain pandan, aroma wangi bunga kopi dan bunga kenanga yang terdapat di lingkungan resto Nde Luweh juga dipercaya dapat mengusir nyamuk. Nde Luweh juga memberikan inovasi berupa pemanfaatan daun kecombrang sebagai pengganti sabun cuci tangan dengan aroma yang khas.

    Beralih ke menu yang ditawarkan, Nde Luweh menghadirkan menu-menu yang merupakan kreasi orisinil dari dapur Sang Pemilik. Menu andalan dari Nde Luweh adalah Pitek Goreng Jinten, Pitek Garang Markisa dan Sate Wedhos Jinten. Menu-menu tersebut merupakan menu andalan Nde Luweh dengan predikat bintang 3 yang diberikan oleh Sang Owner yang merupakan kreasi asli Sang Pemilik sebagai identitas dan pembeda dengan resto lainnya. Keunikan dari penyajian menu tersebut adalah pasangan menu utama bukan nasi melainkan singkong rebus. Penggunaan singkong rebus merupakan komitmen dari pemilik untuk mengembalikan kejayaan singkong sebagai salah satu alternatif pemenuhan karbohidrat yang lebih sehat daripada nasi karena kandungan gulanya yang lebih rendah. Pemanfaatan singkong tidak hanya pada menu utama, tapi menu yang merupakan top selling dari Nde Luweh yaitu bakmi godhog dan bakmi goreng. Bahan utama pembuatan mie adalah tepung singkong atau yang lebih populer disebut Mocaf (Modified Cassava flour) yang diproduksi di daerah Gunungkidul.

    Memanfaatkan serta mempromosikan produk lokal merupakan komitmen pria yang telah mendampingi beberapa resto bertema alam, seperti kopi menoreh di Kulon Progo dan warung Ngereng-Ngereng di Bantul ini. Selain Mocaf sebagai bahan pembuatan mie, material kopi yang disajikan didatangkan dari daerah sekitar DIY, yaitu kopi Menoreh yang merupakan kopi jenis robusta, dan kopi merapi yang merupakan kopi jenis arabika.

    Konsep wedangan sendiri yang memiliki makna minuman panas, merupakan upaya mendukung gerakan go green, dimana penyajian minuman panas tidak identik dengan penyediaan sedotan sehingga dapat meminimalkan penggunaan material plastik. Berbagai jenis wedang yang ditawarkan antara lain Kotagedhe (Kencur, tape, gulo jowo,sereh, dhele, dan jahe), Nde Luweh, wedang pandan, dan wedang markisa. Kendati demikian, berbagai menu minuman dingin tetap tersedia untuk memberikan alternatif pilihan bagi para pengunjung.

    Harga yang dipatok untuk menu di Nde Luweh relatif murah dan terjangkau untuk berbagai kalangan. Menu spesial seperti Pitek Goreng jinten dan Pitek Garang Markisa untuk ukuran besar Rp 35.000,- sedangkan untuk ukuran kecil Rp. 20.000,-. Sedangkan untuk menu bakmi baik godhog maupun rebus, serta sego goreng lombok ijo dibandrol dengan harga Rp. 15.000,-. Untuk minuman jenis wedang dibandrol dengan harga Rp. 5000,- dan berbagai varian kopi dengan harga Rp 10.000. untuk menu dessert yang dilabeli sebagai “ sajian ngumbah tutuk” yang berarti hidangan pencuci mulut seperti jenang jempol, gedhang krenyes, gedhang goreng, dan gedhang susu keju dibadrol dengan harga Rp. 10.000,-. Mari mencicipi wedangan dan panganan di Pendopo nDe' Luweh, Sebuah pilihan menikmati menu asli dengan suasana tradisional yang alami di tengah kota. Dwi-red

    Pendopo Nde' Luweh
    Jl. Ngeksigondo No. 54, Prenggan,
    Kotagede, Yogyakarta
    Hotline Reservasi: 081904221533

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain    Holcim Solusi Rumah