Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Kesederhanaan Dalam Kehidupan Muntowil

    Kesederhanaan Dalam Kehidupan Muntowil
    Joglo dan alat musik Jawa
    Koleksi radio kuno
    Kamar Jawa
    Kamar mandi

    Kesederhanaan dalam kehidupan. Itulah jalan yang dipilih oleh seorang Muntowil atau yang akrab dipanggil dengan Towil. Namanya terdengar asing di telinga sebagian orang. Namun banyak kisah yang menarik untuk diungkap dalam perjalanan hidupnya. Kesederhanaan dalam kehidupan sehari-hari dari cara berpakaian, bertutur kata, dalam pergaulan dan tempat tinggal tampak dari Bapak dua anak asal Boyolali, Jawa Tengah yang kini menetap di sebuah kampung di tepi sungai Progo.

    Towil, itulah sosok yang kami kupas dalam rubrik sosok kali ini. Siang itu tim liputan Rumah Jogja Indonesia disambut hangat oleh pria berperawakan kurus dengan rambut panjang sebahu yang dibiarkan terurai tersebut. Setelah bertegur sapa sebentar, tanpa canggung, Towil langsung menawari kami untuk memesan minuman. Dengan gaya khas yang dia miliki yaitu jujur, terbuka dan rendah diri Towil langsung akrab menyapa kami di sebuah bangunan Joglo yang terletak persis di depan rumah induknya.

    Banyak hal yang dikisahkan Towil mengenai rumah miliknya yang terletak di Desa Bantar, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta. Awalnya, Towil tidak tinggal di rumah yang sekarang dihuni oleh seluruh keluarganya. Petualangan hidupnya dimulai sejak dia meninggalkan kampung halamannya kemudian pindah ke kota Jogja. Latar belakang keluarganya yang sederhana membulatkan tekad untuk meninggalkan kampung tercinta. “Di kampung saya memang banyak pemuda yang merantau ke luar kota seperti Jakarta, tetapi saya memilih Jogja sebagai tujuan. Sebab, Jogja itu pusat dari segala ilmu dan modal saya hanya satu. Semangat”, tutur Towil.

    Di Jogjakarta Towil awalnya bekerja sebagai pegawai di sebuah obyek wisata selama kurang lebih setahun. Lalu dia pindah untuk menjadi karyawan di bidang perhotelan selama lima tahun. Berkat pergaulannya yang luas pada tahun 1998 sampai dengan 1999 seorang pengusaha dari Filipina merekrutnya sebagai pegawai di ekspor barang kerajinan. Berkat pengalaman yang telah dia miliki dan relasi yang luas maka pada tahun 2000an awal dia mencoba mendirikan sendiri bisnis ekspor kerajinan. “Saya hanya menjadi jembatan antara buyer dan supplyer tetapi setelah tahu celahnya, saya kemudian menjadi pelaku bisnis juga”, kata Towil. Bisnis tersebut berkembang pesat, namun pada tahun 2006 bisnisnya tidak berjalan dengan lancar. Kesibukannya berkeliling Jogja dengan sepeda onthel membuat usahanya tersebut terbengkalai.

    Namun, seperti kata pepatah segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Kecintaan Towil pada sepeda onthel berbuah manis pada akhirnya. “Awalnya saya dari hobby bersepeda onthel. Saya melihat peluang usaha dalam hobby saya itu. Dan ternyata pekerjaan yang menyenangkan adalah hobby yang menghasilkan”, ucapnya sambil tertawa. Menurutnya, sepeda onthel mengandung makna filosofis tersendiri. “Sepeda onthel tidak bisa berjalan cepat. Tidak ada patokan jarak dalam bersepeda onthel. Jika melewati tanjakan onthel harus didorong, tidak bisa dinaiki. Begitu pula saat berada di jalanan, harus selalu melihat ke bawah karena tidak ada spion. Itu juga saya terapkan dalam kehidupan. Saya menjalani kehidupan apa adanya, tanpa harus mengejar target”, kisah Towil.

    Karena luasnya relasi dan keluwesannya dalam pergaulan, akhirnya dia mendirikan usaha wisata sepeda yang bernama Towil Fiets. Fiets berasal dari bahasa Belanda yang berarti sepeda. Usaha yang dirintisnya pada tahun 2006 berkembang pesat yang awalnya melalui sistem getok tular kini sudah merambah ke luar negeri melalui jasa biro wisata yang berpusat di Belanda.

    Kecintaannya blusukan menggunakan sepeda onthel membuatnya mendirikan sebuah komunitas pecinta onthel Jogja yang diberi nama Pojok (Paguyuban Onthel Jogjakarta) bersama dua orang temannya pada tanggal 19 November tahun 2006. Awalnya Towil hanya memiliki satu sepeda onthel saja. “Sepeda onthel pertama saya berharga ratusan ribu. Kini jumlah koleksi sepeda onthel sudah mencapai 100 sepeda yang terdiri dari beragam merk. Dari 100 sepeda, 70 buah yang bisa digunakan tamu. Itupun proses pengumpulannya secara bertahap”, papar lelaki kelahiran 16 November 1973.

    Konsep yang dia pilih dalam usaha wisata juga terbilang unik. Dia memilih wisata desa bukan desa wisata. Menurut Towil, wisata desa adalah kegiatan berwisata ke desa. Tidak ada setingan mengenai paket wisata sepeda yang dia kembangkan. Kehidupan pedesaannya juga mengalir begitu saja. Beragam aktifitas seperti penduduk kerajinan tenun, pembuatan kedelai ataupun kegiatan di sawah semuanya merupakan aktifitas alamiah warga desa Bantar. “Modal saya dalam melayani turis ataupun wisatawan yang datang hanyalah bahasa. Bahasa Inggris saya pun sederhana, yang penting dapat dipahami. Saya belajar banyak hal mulai dari bahasa, komputer, marketing hingga accounting dari teman. Saya menyerap ilmu dari semua orang. Tidak ada yang lewat sekolah”, imbuh Towil. Berkat keunikan yang dimiliki dalam diri seorang Towil, namanya kini mulai dikenal banyak orang. Mulai dari turis, artis hingga pejabat telah datang silih berganti ke rumahnya.

    Ketika ditanya kesibukannya saat tidak ada tamu yang datang, Towil menjawab dengan santai. “Kalau tidak ada yang datang, kegiatan saya ya hanya menikmati hidup. Rejeki bisa datang dari mana saja, yang penting kita jangan lupa untuk berbagi kepada yang membutuhkan. Saya bisa seperti sekarang karena masa-masa pahit kehidupan dulu telah saya alami. Mulai dari tidak makan sampai hidup berpindah-pindah semuanya pernah saya rasakan. Dan saya selalu mengingat nasehat bapak. Bapak berpesan, jadilah orang yang sederhana dan jujur apa adanya”, jawab Towil.

    Pilihan hidup sederhana juga diterapkan dalam rumahnya. Dengan tanah seluas ± 300 m², Towil menganut konsep rumah tumbuh berlanggam arsitektur Jawa. Rumah induk berada di belakang bangunan Joglo. “Rumah ini dibangun sedikit demi sedikit menyesuaikan kata hati dan rejeki. Joglo ini awalnya berukuran 8x10 m², namun karena tidak memiliki halaman yang cukup lalu saya potong seusuai dengan lahan yang tersedia Joglo. saya gunakan untuk menerima siapapun yang datang, baik tamu maupun yang sekedar main-main saja”, kata Towil.

    Di dalam Joglo terdapat beberapa meja kursi yang dirancang unik. Misal kaki-kaki meja dan kursi dipotong sehingga siapapun yang bertamu seperti duduk lesehan. Di sisi selatan terdapat satu set alat musik Jawa berupa demung, saron dan bonang. “Saya tidak bisa bermain musik.Tetapi saya suka dengan musik Jawa. Jadi peralatan ini sengaja saya beli sebagai pelengkap. Apabila ada yang bisa menggunakannya ya silakan saja”, terang seorang Klanis (pengagum berat grup musik Kla Project-red) ini. Suasana khas pedesaan Kulonprogo juga tampak dalam rumah Towil. Beragam pohon buah-buahan seperti pisang, kelapa dan nangka masih dibiarkan tumbuh. Bahkan pohon nangka menjadi “kanopi” antara Joglo dengan bangunan induk. “Pohon nangka ini saya biarkan tumbuh, sebagai nafas kesegaran bagi bangunan induk dan Pendopo”, terangnya.

    Bangunan rumah induk berbentuk limasan. Limasan khas kampung Kulonprogo dengan deretan bambu memanjang pada atap penopang limasan. Banyaknya bukaan dalam rumah induk milik pria berusia 41 tahun ini memang sengaja diciptakan. Material yang digunakan dalam limasan berasal dari beragam kayu yaitu pohon Nangka, Mahoni dan Jati. “Limasan saya dapatkan dari daerah pinggiran Kulonprogo. Pembangunanya pun melalui proses gotong royong bersama warga. Untuk limasan ini sudah tidak pakem lagi. Genteng sudah saya ganti dengan model baru dan lantai sudah keramik”, terang Towil.

    Interior bangunan induk rumah Muntowil pun juga sangat sederhana. Di teras terdapat beberapa meja kayu dan kursi yang bisa ditempati siapa saja. Dituturkan Towil jika dalam teras ini dulu merupakan tempat paling disuka para turis. “Rumah saya terbuka 24 jam untuk siapapun”, tutur lelaki yang kini juga menyukai fotografi. Terdapat tiga bagian dalam rumah Limasan yaitu ruang utama sekaligus ruang keluarga, ruang tidur dan ruang samping. Beragam foto dan dokumentasi media tentang profil Towil terpampang pada gebyok sebelah kanan ruang utama. Di depan kamar tidur terdapat sebuah lemari kayu yang berisi koleksi album Kla Project. Di sisi kiri beragam koleksi radio kuno. “Radio saya berasal dari tahun 70an. Saya memilih radio dengan spesial transistor. Meskipun suaranya kemresek namun justru itu yang saya suka. Saya dulu juga belajar bahasa Inggris dari radio BBC”, cerita penggemar membaca buku budaya ini. Kamar tidur utama terletak di belakang ruang utama. Kesederhanaan juga terlihat di ruangan privasi ini. Hanya terdapat spring bed. Banyaknya pintu yang terdapat di dalam Limasan memungkinkan siapa saja yang datang untuk dapat melihat apa saja yang terdapat di dalam rumah induk milik Towil ini. “Semuanya saya biarkan terbuka dan apa adanya.Tidak ada penataan khusus dalam interior”, papar Towil.

    Yang menarik dari bangunan induk adalah bagian kamar mandi. Area Kamar mandi terpisah dari bangunan induk. Untuk mencapainya harus melewati belakang rumah induk. Senada dengan konsep rumah induk dan Joglo yang terbuka, keterbukaan juga dijumpai pada kamar mandi. Terdapat sebuah shower dan bak mandi. Yang membedakannya adalah jumlah toilet. “Kamar mandi saya sebut kamar mandi demokrasi karena ada toilet duduk dan toilet jongkok. Atap saya biarkan terbuka tanpa tutup supaya orang yang berada di kamar mandi bisa merasakan langsung indahnya alam. Apabila hujan, tinggal menggunakan payung. Toh, pada dasarnya orang mandi itu adalah membasahi tubuhnya”, pungkas Towil saat menunjukkan wujud kamar mandi tersebut. Dika-Red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain