Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Konsep Membentuk Identitas Masjid

    Desain Masjid
    Bukaan berupa roster pada dinding masjid
    Desain Interior Masjid
    Fasad Masjid
    Contoh fasad Masjid

    Seperti yang sudah kita ketahui bersama masjid adalah tempat ibadah kaum muslimin (sholat) yang dilakukan secara berjama'ah ataupun dilakukan secara sendiri-sendiri. Selain disebut masjid, sebutan lain untuk rumah ibadah ini di Indonesia ada beberapa sebutan, misal seperti langgar, mushola ataupun surau. Namun bedanya istilah-istilah tersebut diperuntukkan untuk masjid yang tidak dpergunakan untuk sholat Jum'at dan jika dilihat dari ukurannya relatif lebih kecil. Selain digunakan sebagai tempat sholat fardhu, masjid dipergunakan untuk kegiatan-kegiatan keislaman, misal pengajian, akad pernikahan, sholat hari Raya (jika tidak menggunakan tanah lapang ), sholat tarawih, maupun i'tikaf. Maka jika di simpulkan masjid dapat menjadi pusat aktifitas kaum muslim khususnya di Indonesia.

    Karena fungsinya sebagai pusat aktifitas kaum muslim, maka masjid didisain untuk aktifitas yang banyak dan banyak pengguna. Untuk itulah sangat dibutuhkan konsep disain yang baik agar dapat mewadahi aktifitas-aktifitas tersebut. Beberapa konsep materi mendisain masjid dapat dijabarkan sebagai berikut :

    1. Zonasi
    Zonasi merupakan pengelompokkan area tertentu berdasarkan fungsi atau aktifitas. Tujuannya agar memilah dengan jelas fungsi ataupun aktifitas yang terjadi dalam bangunan. Zonasi masjid bisa di bagi dalam dua kategori besar, Zona Sholat dan Zona non Sholat. Adapun pembagian ini bertujuan untuk bisa menampung aktivitas-aktivitas pengguna masjid diluar aktivitas utama yaitu sholat berjama'ah. Karena perlu diingat, tidak semua yang datang ke masjid dalam keadaan “suci”, serta dengan konsep ini, masjid dapat menampung kegiatan masyarakat yang lain misal berupa acara pernikahan, pengajian akbar ataupun sekedar ingin berekreasi di seputaran masjid. Zona Sholat dapat dibagi dijabarkan berupa : 1. Zona utama (Ruang Sholat Utama, Mihrab), 2. Zona Privat (Ruang perlengkapan masjid, Gudang), 3. Zona semi privat/ sirkulasi (Teras, Serambi masjid), 4. Zona Servis (Tempat Wudhu dan WC). Untuk zona servis ini bisa disesuaikan dengan keadaan ataupun kebutuhan bangunan, terkadang bisa bisa berdampingan langsung dengan zona sholat ataupun dibuat terpisah.

    2. Sirkulasi
    Idealnya sirkulasi di dalam masjid dipisahkan antara jalur pria dan wanita, sehingga tidak membatalkan wudhu ataupun mengganggu kosentrasi jama'ah agar tetap fokus dan khusyuk beribadah. Maka ciri masjid yang baik yaitu menghindari potensi saling bersentuhan antar lawan jenis serta tidak menyulitkan ketika wanita hendak membuka jilbabnya atau menyingkap pakaiannya ketika akan wudhu sehingga terlihat auratnya.

    3. Penghawaan dan Pencahayaan
    Penghawaan dan pencahayaan termasuk salah satu kebutuhan sentral pada bangunan. Hal ini dikarenakan sangat mempengaruhi kenyamanan serta bangunan. Untuk penghawaan misalnya jika sholat jum'at berlangsung kondisi dalam masjid pastilah penuh, maka pada keadaan seperti ini pengguna sangat membutuhkan udara segar yang mengalir terus menerus agar menghindari rasa gerah dan tetap menjaga kenyamanan beraktivitas dalam ruangan. Maka solusi dari kondisi ini dengan memperbanyak bukaan serta menggunakan metode bukaan ventilasi silang. Adapun fungsi utama ventilasi silang ini yaitu mengalirkan udara secara terus menerus kedalam ruangan sehingga udara kotor atau yang kurang bersih dapat tergantikan dan terbuang ke dalam ruangan.

    Adapun pencahayaan pada masjid dapat dilakukan dengan cara mendisain masjid dengan memiliki banyak bukaan ataupun disain dinding yang tidak 100% menutup keseluruhan bangunan. Disain dapat berupa dinding roster seingga cahaya dan udara dapat masuk kedalam ruangan ataupun bisa pula dengan mendesain bukaan cahaya pada kubah ataupun pada lokasi yang tinggi.

    4. Mihrab
    Mihrab merupakan kebutuhan yang sangat mendasar dalam sebuah masjid, yang fungsinya sebagai penentu letak posisi imam. Karena posisi strategis yang dimiliknya, disain mihrab biasanya dibuat agak menonjol dari ruangan yang lain. Area mihrab biasanya berdimensi 2m x 2m - 5m x 5m, ataupun bisa lebih besar daripada itu, sesuai dengan besaran/ klasifikasi masjid. Namun yang perlu diperhatikan dalam mendesain mihrab yaitu dengan menjauhi disain yang bisa mengganggu kekusyu'an dalam sholat, contohnya tidak menggunakan disain yang menggambarkan manusia ataupun hewan sehingga menghindari pengkultusan hingga menimbulkan kesyirikan/ menyembah selain Allah. Maka umumnya desain geometri berkarakter islami menjadi pilihan yang paling bijak dalam dekorasi mihrab.

    5. Interior
    Serupa dengan mihrab, mendisain interior masjid sebisa mungkin untuk menghindari bentuk desain ataupun ornamen yang menggangu kekusyu'an dalam sholat. Maka penggunaan ornamen geometri sebisa mungkin menghindari pemecahan kosentrasi pengguna (jama'ah), dengan menghindari penggunaan ornamen yang ramai ataupun berlebih-lebihan ataupun warna yang mencolok.

    6. Sign in Masjid
    Sudah menjadi keumuman bahwa kubah dan menara/ minaret merupakan simbol dari keberadaan suatu masjid. orang-orang pada umumnya pun jika mencari masjid maka terlebih dahulu mencari kubah ataupun menaranya. Maka disain suatu kubah ataupun minaret menjadi hal yang patut diperhitungkan dalam membangun masjid.

    Misal untuk kubah, selain fungsinya sebagai atap masjid kubah dengan keberadaannya akan dapat tercipta suasana yang agung (terkesan monumental), sehingga menciptakan perasaan “manusia adalah makhluk yang sangat kecil dihadapan sang Khalik” bagi jama'ah (pengguna). Dalam mendisainnya dapat pula menggunakan ornamen-ornamen yang dapat menciptakan daya tarik lebih bagi jama'ah. Namun penggunaan kubah dalam mendisain masjid tidaklah menjadi standar wajib khususnya di Indonesia. Ini dikarenakan iklim tropis yang dimana curah hujan cukup tinggi dan hawa Indonesia yang cukup panas. Maka disain atap miring menjadi pilihan yang paling sesuai untuk kondisi ini.

    Minaret pada umumnya memiliki fungsi sebagai penunjuk lokasi masjid dan menjadi letak pengeras suara agar terdengar adzan di penjuru kota. Karena status fungsinya tersebut maka minaret dapat didesain seunik mungkin mengikuti desain masjid yang beragam agar jama'ah dapat dengan mudah mengenali dan menentukan letak keberadaan masjid yang dicari. Fariz M. Falza – ARCHIRA Archsketch Cipta Inspira

    ARCHIRA – Archsketch Cipta Inspira
    Jl. Garuda 185 B, RT 05/RW 30,
    Gejayan, Condongcatur, Depok, Sleman,
    Yogyakarta 55283
    Telp. (0274) 882480 / 0821 3453 5876
    Email : archsketchstudio@gmail.com
    www.arsitekarchira.com

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain