Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Konsep Tawadhu dalam Bangunan Djajanti House

    Djajanti House Semarang
    Djajanti House Semarang
    Djajanti House Semarang
    Djajanti House Semarang
    Djajanti House Semarang

    Bermula dari keinginan untuk mengenang memori masa kecil dalam sebuah bangunan. Konsep inilah yang berhasil disuguhkan dalam Djajanti House. Djajanti House adalah sebuah konsep penginapan yang berbeda dengan hotel-hotel yang berada di wilayah Semarang. Saat Anda berkunjung ke Semarang, maka sempatkanlah untuk menginap di Djajanti House dan nikmati pengalaman menginap dalam sentuhan alam yang bersahabat. Djajanti House ini terletak 6.5 km dari pusat kota dan menyediakan kemudahan akses ke berbagai fasilitas penting di kota Semarang. Dengan lokasinya yang strategis Djajanti House menawarkan akses mudah ke destinasi yang wajib dikunjungi.

    Sekilas melihat konsep bangunan Djajanti House dari luar tak ada yang berbeda dengan bangunan di sekitarnya. Namun, anggapan tersebut akan segera lingsir tatkala Anda memasuki kawasan. Menurut Owner Djajanti House, Kesi Wijayanti, konsep dasar pembangunan 'roemah nginap' tersebut adalah membangun sebuah tempat menginap yang ramah lingkungan. Memadukan setiap unsur alami, seperti taman dengan gaya bangunan di era 70 an. Kombinasi warna coklat dengan hijaunya taman sudah dihadirkan Owner di berbagai sudut kawasan.

    “Konsep awal saya adalah ingin membangun memori dalam sebuah penginapan yang tawadhu, ramah lingkungan, dengan menggunakan material-material daur ulang, sebagian besar bangunan ini menggunakan bahan-bahan yang sudah bekas, seperti pendopo ini misalnya, ini dulu dari rumah masa kecil saya ketika masih di Cepu”, kenang Wijayanti sembari menunjukkan pendopo.

    Ketika memasuki area Pendopo Djajanti House Anda akan dibawa pada kenangan masa lalu sang pemilik. Dalam Pendopo tersebut terdapat berbagai barang mulai dari furnitur dan pernik-pernik yang dimilikinya sejak Ia kecil. Dikisahkannya Pendopo tersebut dahulunya adalah rumah orang tuanya yang berada di Cepu. Banyak kenangan yang terdapat dalam Pendopo tersebut. Beberapa set meja kursi yang terletak dalam Pendopo tersebut merupakan furnitur yang berasal dari Cepu. “Meja kursi sebagian besar asli dari rumah orang tua saya”, kisahnya.

    Lebih lanjut Beliau mengisahkan, tak hanya meja kursi, namun pernik-pernik lain seperti almari buku, sebuah meja panjang yang digunakan sebagai meja resepsionis dan berbagai macam pernik-pernik penghias juga berasal dari masa kecilnya.

    “ Pernak-pernik ini banyak menyimpan memori saya sewaktu masih kecil,” ucap Dekan Ekonomi Universitas Semarang. Mengupas lebih dalam area pendopo tersebut sang pemilik mengungkap banyak cerita di dalamnya. “meja ini contohnya, dulu ini adalah tempat radio besar, dulu saya sering ngumpet di bawah sini,” ceritanya. Tak hanya berhenti di situ kenangan akan masa kecilnya juga terdapat dalam hiasan berupa kristek yang berada di dinding Pendopo. “Kristek ini hasil karya saya dan kakak, saya membuatnya waktu masih sekolah”, kenangnya sembari menunjukan kristek yang salah satunya dijadikan simbol roemah nginap tersebut.

    Djajanti House yang dibangun pada tahun 2011 tersebut tak henti-hentinya menyuguhkan hal yang berbeda dari penginapan lainnya. Soal suasana contohnya. Roemah nginap yang beralamat di Jalan Semeru Raya no. 4b, Semarang tersebut menyuguhkan sebuah konsep yang akan membuat Anda betah untuk menginap di sana. “ Saya ingin suasananya nyaman, tenang, asri, dan kekeluargaan, mereka yang menginap dapat merasakan seperti menginap di rumah eyangnya,” terang Ibu Tiga anak tersebut. Dari hal Pelayanan saja Anda tentu akan mendapatkan pelayanan yang tak mungkin Anda dapatkan ketika menginap di hotel. Ketika Anda datang pertama, Anda akan disambut seorang pria paruh baya yang dengan senyum tulus menyambut Anda. Dengan pakaian sehari-hari, Pak Pur panggilan akrabnya, dengan sigap siap melayani tamu yang menginap.

    “ Pelayanan kami lebih mengutamakan rasa kekeluargaan, jadi setiap tamu yang menginap kami anggap seperti keluarga sendiri, dulu pernah ada hotel yang mengajukan untuk mengelola, tapi saya tolak, karena jika dikelola hotel bisa merusak suasana kekeluargaan yang saya bangun, terkesan lebih prosedural, disini Anda tidak akan menemukan pelayan berseragam seperti di hotel, hanya ada pak Pur saja, tapi pelayanan tak kalah dengan hotel, dia yang biasa masakin tamu untuk sarapan, ada dapur di sana, mereka boleh menggunakan dapur yang kami sediakan untuk memasak, meski kami sudah memberikan fasilitas breakfast” terang Wijayanti.

    Untuk menyuguhkan suasana yang tenang, asri, dan menyejukan, diantara deretan kamar dan pendopo tersebut terdapat lahan luas yang hanya digunakan sebagai taman. Dituturkan sang pemilik jika taman tersebut sengaja dihadirkan untuk mendukung kesan asri dan ramah lingkungan. Bahkan pada masa pembangunan Djajanti House roemah nginap tersebut dikisahkan Wijayanti ada beberapa pohon yang tidak boleh ditebang. Sehingga desain bangunan lah yang menyesuaikan. Suara gemercik air dari kolam di salah satu sudut taman akan menambah kenyamanan Anda saat beristirahat, atau sedang menikmati malam di Pendopo. Untuk mencapai kamar-kamar di Djajanti House, dari area pendopo, ada jalan setapak yang terbuat dari kayu.

    Deretan kamar Djajanti House dari fasad sudah menyuguhkan karakternya sebagai roemah nginap yang nyaman. Didominasi penggunaan batu bata ekspos, dan dikombinasikan dengan kayu, menyuguhkan sebuah perpaduan bangunan yang serasi. Menurut sang pemilik, pembangunan Djajanti House tersebut menggunakan jasa arsitek, sehingga setiap kamar pasti memiliki perbedaan. “Setiap kamar ada perbedaan meskipun hanya sedikit, terutama dalam penataan interiornya”, katanya. Di kamar atas misalnya, imbuh Wijayanti, di setiap dinding pembatas antar kamar digunakan genteng kaca yang ditata sebaris sepanjang atap, ketika pagi datang sinar matahari masuk melalui genteng kaca tersebut dan akan membentuk “ayang-ayang” di dinding. “ Genteng tersebut untuk membentuk ayang-ayang, sangat indah saat cahaya matahari menembusnya”, tuturnya.

    Djajanti House, menawarkan 8 kamar sebagai pilihannya. Empat kamar di bawah tipe standar yang berkapasitas 2 orang, dan 4 kamar di atas tipe studio berkapasitas 3 orang. Setiap kamar Djajanti House dilengkapi dengan fasilitas berupa WiFi, TV, hot water, AC, dan toilet. Setiap kamar tersebut dilengkapi dengan teras dengan view sekitar. Selain itu saat menginap di Djajanti House Anda dapat menggunakan fasilitas lain seperti, perpustakaan dan movie rooms. Harga yang ditawarkannya pun terbilang cukup terjangkau dan sesuai dengan fasilitas dan suasana yang di dapat. Harga kamar berkisar mulai dari harga 350 ribu per malam.

    Penataan kamar di lantai dua cukup menarik bagi Anda yang menginap bersama keluarga. Dengan memanfaatkan ketinggian plafon yang ada, setiap kamar di lantai dua memiliki lantai mezanin. “ konsep mezanin ini saya ambil dari pengalaman saat berkunjung di Jepang, di sana karena keterbatasan lahan maka diaplikasikan lantai mezanin, di sini saya aplikasikan juga, dapat digunakan tempat tidur sendiri”, terangnya.

    Di akhir perbincangan Kesi Wijayanti, menuturkan bahwa konsep dasar dari bangunan yang ada di Djajanti House adalah sebuah konsep bangunan yang Tawadhu. “Pada intinya saya ingin bangunan ini memiliki sifat yang tawadhu, rendah hati, sederhana, nyaman, dan tetap menyuguhkan fungsinya yang ramah lingkungan”, tutupnya. Greg-Red

    Djajanti House Roemah Nginap
    Jalan Semeru Raya no 4b,
    Semarang 50231, Central Java,
    Indonesia
    (+62) 8579 972 2385
    (+62) 24 8501 192

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain