Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Nostalgia Kuliner Ndeso Ngangeni Racikan Ingkung Kuali

    Ingkung Kuali
    Gasebo
    Bamboo Hall
    material bambu
    Menu Unggulan Ingkung Kuali

    Bicara Daerah Istimewa Yogyakarta, selain adat dan budaya yang masih kental, wisatawan juga berburu kuliner khas. Biasanya, mereka mencari gudeg atau oleh-oleh khas Jogja seperti bakpia. Padahal, Jogjakarta memiliki banyak pilihan kuliner yang tidak kalah nikmat bila dibandingkan dengan gudeg. Berwisata kuliner di Yogyakarta memang lebih asyik kalau disertai dengan perburuan kuliner yang masih tradisional atau ndeso, apalagi yang sudah mulai jarang dijumpai. Meskipun kerap kali lokasinya agak jauh dari pusat kota Yogyakarta, namun ada kepuasan tersendiri saat berhasil menemukan kuliner langka yang enak dan belum diketahui banyak orang. Bagi yang ingin bernostalgia dengan menu kenduri zaman dulu, mungkin akan tertarik dengan masakan ingkung ayam yang belakangan kembali digemari. Di daerah Bantul ada beberapa tempat yang menawarkan kuliner klasik ini beserta suasana khas pedesaan yang bersahaja.

    Salah satu tempat yang menjual menu tradisional ini yaitu Ingkung Kuali Kalakijo yang berlokasi di Dusun Kalakijo RT 02, Guwosari, Pajangan, sebelah Barat kota Bantul. Jaraknya kira-kira 20 km ke arah Selatan dari pusat kota Yogyakarta. Ciri khas ayam ingkung di sini adalah proses pemasakannya yang masih tradisional, dengan menggunakan kuali tanah liat dan perapian berbahan bakar kayu bakar. Daging ayam kampung yang cenderung keras konon lebih mudah empuk jika dimasak dengan cara ini. Belum lagi aroma khas yang dihasilkan karena penggunaan kayu bakar yang menambah sedap hidangan ingkung. “Kalau untuk cara memasak ingkung di sini memang masih tetap mempertahankan cara tradisional yaitu dengan menggunakan kuali tanah liat dan dimasak di atas perapian kayu bakar. Kami yakin cara memasak tersebut yang membuat cita rasa ingkung di sini mempunyai ciri khas tersendiri dan akan kami pertahankan terus,” kata Subandi, manager Ingkung Kuali.

    Ada cerita menarik di balik berdirinya rumah makan Ayam Ingkung Kuali Kalakijo. Tempat usaha berlandaskan sosial yang berdiri dibawah Yayasan Hozizora ini awalnya dibuat untuk memberdayakan dan menyokong perekonomian masyarakat setempat. Pengelolaannya menjadi satu dengan Desa Wisata Kalakijo. Bahan baku yang digunakan di rumah makan berasal dari hasil peternakan/pertanian warga, sehingga tercipta semacam rantai usaha yang terintegrasi. ”Saat ini, Ingkung Kuali bekerja sama dengan para masyarakat Dusun Kalakijo dengan merekrut masyarakat setempat untuk bekerja di Ingkung Kuali. Selain itu, manajemen Ingkung Kuali juga mengambil stok ayam dari warga setempat. Di sini warung ingkung tidak hanya satu, warung ingkung lainnya juga bersama-sama mempopulerkan ingkung untuk menjadikan ingkung sebagai ikon Dusun Kalakijo Pajangan ini,” cerita Sareh Supardi, Kepala Dukuh Kalakijo yang sekaligus perintis Ingkung Kuali. Selain menawarkan makanan tradisional tempat ini juga memiliki tempat yang luas dan cukup menarik. Pengunjung bisa bersantap di saung-saung yang ada di bagian luar sambil menikmati udara pedesaan. Bahkan disediakan pula berbagai fasilitas untuk kegiatan luar ruangan, camping ground, serta bamboo hall untuk ruang pertemuan. Barangkali ini karena konsepnya menyatu dengan desa wisata. Pengunjung tidak hanya dimanjakan dengan sajian ayam ingkung kuali yang ngangeni, tapi juga bisa melepas penat menikmati suasana pedesaan sekaligus berkontribusi untuk kesejahteraan masyarakat setempat.

    Area rumah makan yang berdiri di atas lahan seluas 4,5 hektar dengan view di sekeliling berupa sawah dan pegunungan yang asri membuat pengunjung betah berlama-lama di Ingkung Kuali. Tempat makan berupa saung-saung bambu tradisional dengan suasana yang sejuk sangat cocok digunakan sebagai tempat berkumpul bersama sanak keluarga sembari menikmati hidangan ayam ingkung yang lezat. Dikatakan Subandi, awal mula berdirinya rumah makan Ingkung Kuali yang mulai beroperasi pada bulan Februari 2014 tersebut hanya mempunyai tempat makan berupa dua buah gasebo bambu yang sampai sekarang bangunan tersebut masih tetap dipertahankan. “Dulu memang sewaktu pertama kali rumah makan ini beroperasi hanya berupa dua buah bangunan gasebo bambu ini. Kita mempertahankan gasebo ini sampai sekarang walaupun kondisinya sudah tidak seperti dulu karena bangunan tersebut adalah saksi sejarah berdirinya Ingkung Kuali,” kenang Supardi.

    Salah satu bangunan yang menjadi icon rumah makan Ingkung Kuali berada tepat di tengah area, yaitu berupa bamboo hall yang cukup besar dan mempunyai desain arsitektur yang cukup menarik. Bangunan hall tersebut diarsiteki oleh seorang alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) dan berkiblat dari bangunan-bangunan serupa di negara Korea. Terbuat dari susunan batang bambu yang membentuk sebuah bangunan megah dengan atap berupa anyaman daun tebu sehingga memberikan nuansa etnik. Pada sisi bangunan tersebut juga sengaja dibiarkan terbuka agar udara sejuk dapat tetap dapat masuk ke dalam ruangan. Tempat yang cukup luas dan nyaman dengan kapasitas ruangan yang dapat menampung banyak orang sehingga hall tersebut sering dipakai untuk acara seperti, pesta ulang tahun, arisan, maupun gathering yang melibatkan banyak orang. Pada sisi selatan bamboo hall juga terdapat sebuah bangunan limasan berbasis kayu yang difungsikan sebagai penginapan dan juga meeting room.

    Untuk menu andalan dari rumah makan Ingkung Kuali, yaitu ingkung ayam adalah ayam utuh yang dimasak secara tradisional dengan aneka bumbu seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, gula merah, daun salam, dan lengkuas. Yang digunakan biasanya adalah ayam kampung karena tidak terlalu berlemak dan serat dagingnya tidak mudah hancur saat dimasak lama. Ayam dan aneka bumbu tersebut direbus di dalam santan hingga ayamnya menjadi empuk dan bumbunya benar-benar meresap. Ciri khas ayam ingkung adalah tendangan bumbunya yang tidak terlalu kuat, namun kita bisa merasakan gurih yang khas dari ayam kampung. Mengapa ayamnya wajib diikat saat direbus? Ternyata hal tersebut mempunyai filosofi mengenai bagaimana watak si ayam jago yang mempunyai sikap angkuh, gagah dan sok jagoan. Diikat yaitu salah satu cara untuk menundukannya sehingga disebut ingkung (njerkungkung) atau sujud sebagai simbol kehambaan yang di akhirnya wajib tunduk di Tuhannya. Menu ini dulunya hanya dihidangkan pada saat momen-momen khusus seperti upacara adat, selamatan/syukuran, atau acara hajatan lainnya. Ingkung biasa dipadukan dengan nasi gurih dan sambal, kemudian disantap bersama-sama dengan menggunakan alas makan daun pisang. Kadang disajikan pula dalam pincuk daun pisang yang berisikan nasi gurih, daging ayam ingkung yang sudah disuwir-suwir, dan dilengkapi taburan kedelai hitam goreng.

    Rumah makan yang beroperasi pada pukul 09.00-17.00 WIB untuk hari Senin hingga Kamis, dan 09.00-21.00 WIB pada hari Jum'at sampai Minggu tersebut menawarkan menu dengan harga yang cukup terjangkau. Ingkung Kuali juga memberikan sentuhan baru pada pengolahan menu ingkung, seperti ingkung goreng, ingkung bakar, serta ingkung rica-rica dengan harga mulai dari Rp 60.000 – 80.000/paket untuk setengah ekornya, dan Rp 120.000 – 155.000/paket untuk satu ekor ayam utuh. Bagi yang ingin membawa keluarga dan rombongan, Ingkung Kuali bisa menjadi salah satu referensi tempat yang wajib dikunjungi, terutama untuk para pecinta kuliner tradisional. Tempat parkir yang luas, suasana pedesaan yang sejuk akan menjadikan momen berkumpul bersama terasa lebih sempurna. Farhan-red

    INGKUNG KUALI
    Desa wisata Kalakijo
    Kalakijo RT 02,
    Guwosari, Pajangan, Guwosari,
    Kec. Bantul, Bantul, Jogjakarta 55751
    Telepon : 0857-0110-1122

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain    Holcim Solusi Rumah