Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Omah Kebon, Tempat Berkesenian Whanny Darmawan

    Whanny Dharmawan
    hunian unik
    Omah Kebon
    material bekas

    Menyusuri jalan beraspal di kampung seniman, Nitiprayan, dan berbelok ke sebuah gang kecil beralas tanah akhirnya tiba juga di sebuah rumah asri dengan rimbunnya pepohonan yang mengelilinginya, khas rumah pedesaan. Rumah yang kami kunjungi ini adalah kediaman dari seorang aktor dan penulis, Whanny Dharmawan. Nampak dari kejauhan, rumah berlantai 2 ini agak berbeda dengan bangunan di sekitarnya. Batu bata yang dipadukan dengan batako serta diselingi dengan plastik mika serta pecahan genteng dan atap rumbai dari daun kelapa seolah-olah seperti asal pasang, yang penting nempel, namun disitulah letak keunikan rumah yang beralamat di Nitiprayan RT 02, Jomegaran DK VII, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul ini.

    Rumah yang dibangun pada tahun 2004 oleh arsitek Dr. Ir. Ing. E. Pradipta, yang juga dosen UGM ini memenangkan kejuaraan dari KKI (Komunitas Konstruksi Indonesia) sebagai rumah contoh konstruksi tepat guna pada tahun 2012. Penghargaan ini diberikan karena hunian Wanny menggunakan material-material bekas sebagai bahannya. Misalnya saja penggunaan papan kayu bekas gulungan kabel listrik. Kayu bekas gulungan tersebut dimanfaatkan sebagai bahan lantai dan tangga putar di lantai 2. “ Tangga naik ini menggunakan 2 los kayu gulungan kabel dengan diameter 2 m. Waktu itu harganya cukup murah sekali. 2 los itu Rp 180 ribu, “ terang Wanny.

    Tangga penghubung antar lantai itu disandingkan dengan batako berongga yang dicetak khusus dengan beragam pola. Ada yg berbentuk lingkaran kecil, garis memanjang hingga berbentuk hati. Di sela-sela rongga tersebut dipasang kaca beraneka warna. Potongan kaca ini merupakan limbah yang didapatkan di toko besi. Potongan kaca dengan aneka warna tersebut menjadikan tampilan dinding batako ini tampil cantik dan unik dengan mozaik kacanya. Unsur tradisional juga dimasukkan dalam hunian yang berkonsep tumbuh kembang sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Langit-langit kamar di lantai 2 menggunakan bahan anyaman bambu (gedek). Gedek ini juga menghiasi sebagian dinding kamar. Jalinan atap rumbia diletakkan di ujung genteng di bagian luar rumah. Selain memberikan aksen tradisonal juga berfungsi sebagai penghalang air cucuran dan tampias ketika hujan. Lantai 2 hunian Whanny ini terdiri dari 2 kamar yang salah satunya diisi dengan tenda yang pada umumnya digunakan sebagai tempat tidur ketika bertualang di alam atau ruang terbuka lainnya. “ Karena berada di daerah tropis, saya menggunakan gedek sebagai atap kamar sehingga ketika panas tidak terlalu panas, tapi ketika musim hujan akan dingin sekali maka saya menaruh tenda dalam kamar. Selain unik, biar terasa tidur di alam terbuka. Atap gedek sebagai identitas tradisonal itu bikin saya adem dari pada eternit putih, ” beber pria kelahiran Jogja ini.

    Di dalam Kamar ini selain berisi tenda juga terdapat beberapa almari yang memajang CD music serta buku koleksi Whanny. Poster-poster pementasan drama dan teater tergantung manis menempel di dinding anyaman bambu yang menyatu dengan plastik-plastik mika beraneka warna. Bila tertimpa cahaya mentari, mika-mika tersebut akan menyuguhkan permainan warna yang indah dalam ruangan.”Mika-mika tersebut memang seadanya, tidak memilih. Nemunya warna ini pasang, nemu warna itu pasang,” ujar aktor yang bergabung dengan teater Gandrik ini. Pintu - pintu kamar ini juga dibuat dari material kayu bekas dengan kusen dari kayu glugu yang tua. Whanny bercerita ketika proses pembangunan rumahnya, kayu glugu tua ini sangat susah sekali dipaku saking keras dan uletnya, bahkan tak jarang paku yang bengkok karna tak berhasil menembus kayu glugu tersebut. Kayu glugu juga dimanfaatkan sebagai kayu blandar penopang atap di lantai 2. Rangka atap ini ditopang dengan konstruksi cakar ayam berupa pilar-pilar bulat dalam balutan warna putih.

    Turun menyambangi ke lantai dasar, kita akan menjumpai ruang keluarga. Sebuah TV yang diletakkan di atas lemari kecil berada di sudut ruang ini. Foto-foto keluarga menghiasi dinding sisi barat yang menyatu dengan sebuah jendela berteralis. Jendela ini menyuguhkan pemandangan pematang sawah yang berada tepat dibelakang bangunan. Di sisi selatan ruang keluarga terdapat kamar mandi yang dinding dan lantainya berupa mozaik dari pecahan lantai ubin. Supaya tidak terlalu licin dan memberikan sedikit sentuhan alam, ditaruhlah batu-batuan kecil pada bagian lantai kamar mandi. Sebuah dinding dengan permukaannya yang berlekuk-lekuk. Dinding ini dulunya mempunyai sela pada setiap sambungannya yang difungsikan sebagai ventilasi. “ Batako yang di dekat tangga dan dinding berlekuk ini merupakan hak paten dari Pak Pradipto. Dulunya, dinding ini memiliki sela pada setiap bagiannya, karena suatu kebutuhan maka saya tambal, “ terang ayah dari Olga Paksindra Nareswara. Ia juga menambahkan, ruangan tersebut dulunya difungsikan sebagai dapur karena dirasa terlalu sesak dan penuh maka dapur dipindah di bagian depan dekat teras rumah.” Dulu konsepnya dapur ada di dalam rumah. Kami tumbuh tapi sementara rumah belum tumbuh dan anak saya mulai beranjak dewasa. Dengan adanya dapur di dalam, kebutuhan rileks di dalam rumah berkurang sehingga dapur saya pindahkan ke bagian depan.”

    Bagian depan rumah Whanny berupa sebuah pekarangan yang beralaskan tanah yang dikelilingi dengan batuan putih sebagai pembatas area rumahnya dengan lingkungan sekitar. Rindangnya pepohonan dan beberapa taman kecil menjadi wajah dari rumah ini. Batuan putih dan tanaman tersebut ditata sendiri oleh Whanny. Omah Kebon sebutan Whanny untuk huniannya ini karena berada di lingkungan pedesaan yang asri serta dikelilingi kebon serta sawah. Omah kebon juga dijadikan Whanny sebagai nama publisher yang menerbitkan buku serta esai Whanny. “ Karena saya suka berolah raga, batu dan tanaman itu saya tata dan tanam menggunakan tangan saya sendiri. Selain sebagai pembatas juga membuat indah lingkungan sekitar. Dulu saya tidak membayangkan dapat tanah dimana. Yang penting dekat dan akses kemana-mana mudah. Mungkin sudah pulung dan jodoh ya. Ada orang yang nawari tanah ini dan setidaknya seperti yang saya inginkan dan kemudian saya beli,” terang Whanny menceritakan sejarah rumahnya. Omah Kebon ini juga sebagai sarana Whanny tuk berkesenian dan berkreatifitas. Sebuah bangunan dari bambu dijadikan sebagai sanggar dan tempat sosial, tempat berkumpul dan berinteraksi bersama teman-temannya. Di samping sanggar bambu tersebut terdapat sebuah bangunan yang difungsikan sebagai dapur dan di sisi timurnya terdapat sebuah kamar mandi kecil berdinding seng. “Dulunya direncanakan untuk kebutuhan ibu saya, memberikan ruang untuk ibu. Ternyata ibu tidak mau. Sempat juga saya fungsikan sebagai tempat sosial dan kemudian berubah menjadi dapur. Saya suka memasak. Ketika kumpul bersama teman, kita masak, dan itu memberikan ruang bagi saya. Mau bikin minum dekat, ga perlu masuk ke dalam rumah sehingga ruang sosial tidak perlu merusuhi ruang keluarga. Begitu pula jika ada orang yang numpang ke belakang, di situ juga bisa karena saya sediakan kamar mandi,” ujar salah satu pemilik warung makan Sapi Cebol ini.

    Sebuah meja kayu bulat berukuran besar dengan beberapa kursi kayu yang mengelilinginya terdapat di teras rumah. Meja dan kursi ini dipesan khusus oleh Whanny. Meja ini sengaja dibuat besar supaya luas sehingga bisa menampung banyak gelas, buku, dll karena Whanny dan teman-temannya sering berbincang di sini. Dinding dengan batuan kali dengan hiasan wayang terdapat di sisi barat dari meja besar. Sentuhan alam juga diberikan Whanny kepada huniannya berupa kolam kecil di samping teras. Kolam ini mengunakan pecahan genting pada dinding pembatasnya. “Rumah itu tempat berdiam, merefresh diri. Rumah bagi saya harus dimiliki. Kita bekerja, beraktifitas di luar pasti kembali karena kita mengenal kata pulang. Jangan sampai orang pulang tapi tidak menemukan dirinya disitu. Dia menjadi asing di rumah sendiri. Berdiam, pulang mendapatkan kenyamanan, mendapatkan Sesuatu yang bisa merefresh sehingga kembali segar,” tutur Whanny penutup perbincangan sore itu. Tertarik untuk menghiasi dan menggunakan material bekas pada rumah Anda seperti yang dilakukan Whanny? Selamat mencoba dan berkreasi! Ganang-red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain