Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Pendopo Agung Kahuripan, Filosofi Rumah Tinggal Agung W. Utomo

    Agung W. Utomo beserta keluarga
    Pendopo utama sebagai simbol rumah Jawa
    Pendopo dan koleksi benda antik keluarga Agung
    Koleksi keris dan lukisan antik di ruang Utama omah mBuri
    Mushola dan kamar mandi terbuka simbol Wilwatikta

    Rumah tradisional Jawa, itulah kesan yang muncul pertama kali ketika memasuki gerbang rumah milik Agung Wahyu Utomo yang terletak di kawasan Karanganyar, Jawa Tengah. Konsep bangunan Jawa dengan bagian-bagian utamanya dapat ditemui di rumah PNS yang sehari-hari berdinas di Pemkab Karanganyar tersebut. Bangunan utama berupa Pendopo, Peringgitan dan Omah mBuri menjadi identitas utama rumah Jawa yang dilengkapi bangunan khas lainnya berupa “Kandang kebo” yang difungsikan sebagai garasi mobil.

    Bapak dari Huzaefah Pedrag, Tallulah Rimang, dan Wilwatikta Radarpa tersebut menuturkan bahwa dirinya merupakan pengagum filosofi Jawa sehingga berusaha untuk menuangkan segala inspirasinya terkait budaya Jawa kepada rumah impiannya. Filosofi-filosofi Jawa yang dituangkan dalam konsep bangunan antara lain adalah konsep perundakan atau tingkatan struktur bangunan yang terdiri dari tiga tingkat. Tingkat pertama merupakan simbol kelahiran, dimana manusia memulai hidupnya di bumi, tingkat kedua merepresentasikan dunia dimana manusia mulai mencari dunianya dengan kegiatan mencari penghidupan seperti pekerjaan dan bersosialisasi. Sedangkan tingkat ketiga memiliki filosofi dimana manusia mencari “nirwana” sebagai persiapan manusia menuju alam selanjutnya.

    Level pertama dituangkan pada wilayah gerbang hingga teras pendopo, tingkat kedua diaplikasikan pada bagian pendopo rumah, dan tingkat ketiga berada pada bagian private rumah yaitu omah mburi yang berfungsi sebagai rumah tinggal. Level atau tingkat pertama yaitu bagian gerbang hingga teras yang memiliki makna sebagai kelahiran. Pada bagian ini banyak ditemukan berbagai jenis tanaman untuk menghadirkan kesan sejuk dan alami. Ketika memasuki pintu gerbang, terdapat air mancur pada bagian depan pendopo, sedang pada sisi bagian kanan terdapat bangunan unik yang disebut “kandang kebo” yang difungsikan sebagai garasi mobil. Garasi tersebut dibangun dengan memanfaatkan material kayu yang biasa digunakan sebagai kandang ternak pada rumah-rumah Jawa, sehingga penampakannya memang seperti kandang pada umumnya.

    Pada bagian lain disebelah “kandang kebo” terdapat bangku taman berbahan material batu dan marmer. Yang menjadikannya unik adalah kaki-kaki atau alas bangku taman tersebut adalah berupa lesung batu berukuran panjang yang posisinya dibalik dengan kombinasi dengan batu marmer sebagai alas duduknya. Lebih ke dalam lagi terdapat gasebo berbahan material kayu yang berfungsi sebagai mushola, pada bagian dinding gasebo tersebut terdapat hiasan berupa lukisan bergambar Sunan Kalijaga pada sebuah lembaran kulit sapi. Sunan Kalijaga merupakan salah satu tokoh yang menjadi inspirasi bagi pria kelahiran 9 Juli 1978 ini, sehingga gambar lukisan sunan asli Jawa ini juga terdapat pada bagian dalam rumahnya. Kekagumannya pada Sunan Kalijaga ini didasarkan pada kemampuannya untuk mengakulturasikan antara budaya Jawa dengan agama Islam.

    Pada tingkatan kedua, Pendopo sebagai ciri khas rumah Jawa menjadi bagian utama rumah yang berdiri diatas lahan seluas 1500 m2 tersebut. Ketika memasuki pendopo, mata para tamu tidak akan terlepas dari setiap sudut pendopo yang dihiasi dengan hiasan berbagai benda-benda unik yang kental dengan nuansa budaya Jawa.

    Pendopo yang memiliki jumlah pilar sebanyak 16 ini memiliki keunikan pada pemanfaatan lesung sebagai umpaknya. Menurut sang pemilik rumah, lesung memiliki makna sebagai Yoni sedangkan pilar kayu bermakna sebagai Lingga yang dalam budaya Hindu memilki makna sebagai lambang kesuburan. Budaya Hindu memang tidak dapat terlepas dari budaya Jawa karena sejarah mencatat bahwa sebelum agama Islam masuk ke Indonesia, budaya Hindu terlebih dahulu berkembang dan memberi filosofi-filosofi dasar budaya Jawa sebelum terakulturasi dengan budaya Islam.

    Pendopo utama didatangkan langsung dari Sragen, yang merupakan bangunan sebuah rumah asli yang dipindahkan ke lokasi rumah dengan sedikit perbaikan. “Pendopo ini saya dapatkan di daerah Sragen. Bentuk dan ukurannya ya masih asli, hanya saya berikan tambahan pada plafond atap,” ungkap Agung.

    Kegemaran pemilik mengoleksi furnitur dan benda-benda unik serta antik terlihat dari beberapa koleksi furnitur dan hiasan di bagian pendopo rumah. Furnitur berupa meja besar bermotif naga, lesung kayu yang difungsikan sebagai kursi, serta berbagai jenis batu alam menghiasi segala sudut pendopo. Keunikan koleksi antara lain adanya sebuah kayu yang sudah mengalami erosi yang didapatkan dari daerah aliran sungai Bengawan Solo dan diyakini sebagai salah satu bagian “gethek” atau rakit untuk menyeberang seorang tokoh penting pada zaman dahulu. “Kayu tersebut sudah berumur ratusan tahun, dan ini memiliki sejarah” ucapnya singkat.

    Lantai berbahan batu alam berukuran besar dan utuh berada tepat di tengah pendopo. Menurut sang pemilik, penggunaan material batu alam dan kayu bertujuan untuk memberikan kesan dingin ketika berada di dalam lingkungan rumah. “Dalam membangun hunian bergaya Jawa dengan material-material lama memberikan banyak cerita yang saya peroleh, bahkan kejadian-kejadian yang bersifat mistis,” ceritanya sambil tersenyum.

    Penggunaan sarung bermotif bali pada beberapa pilar memberikan kesan kontras namun berpadu dan tampak serasi dengan bangunan pendopo. Suami dari Tweyrianti Nuzulita Sabatun ini memiliki pandangan bahwa budaya Jawa dan Bali tidak dapat dipisahkan, karena konsep budaya orang Bali sama dengan orang Jawa jika dilihat dari sudut sejarah.

    Salah satu keunikan lain yang ditemui adalah sebuah ruangan di bagian samping rumah yang berfungsi sebagai kamar mandi dengan konsep open air. Keunikan kamar mandi tersebut adalah penggunaan batu besar yang memiliki cekungan sebagai tempat menampung air serta lantai dengan motif sembilan matahari atau yang biasa disebut dengan “wilwatikta” yang merupakan simbol kerajaan Majapahit. Perabotan dengan motif wilwatikta ini juga dapat ditemui pada bagian pendopo berupa perabot hiasan pada beberapa meja tamu yang ada. Penggunaan batu alam yang sering disebut akik juga menghiasi lantai ruangan kamar mandi tersebut.

    Menelusuri bangunan rumah tinggal atau bagi orang Jawa yang disebut sebagai omah mburi, mata setiap tamu pasti akan tertuju dengan pintu ukiran yang berada tepat ditengah bangunan dan diapit dengan dua jendela ukiran dengan motif serupa. “Pintu gebyok ini tergolong baru dengan gaya ukiran 3 dimensi Jepara,” terang bapak tiga anak tersebut.

    Bangunan dengan konsep bata ekspos tidak hanya di bagian depan namun juga di bagian dalam rumah dipilih untuk memperkuat konsep bangunan Jawa kuno. Pemilihan dan penggunaan perabotan kuno dapat ditemui di berbagai sudut bagian dalam rumah. Sebuah ranjang dengan tempat penyimpanan uang di bagian bawah sandaran kepala serta sebuah lemari ukir disalah satu sudut ruangan memiliki nilai keunikan tersendiri. Koleksi berbagai macam keris tertata rapi tepat di tengah ruangan utama bagian rumah tinggal yang diapit dengan dua “senthong” yang berfungsi sebagai kamar tidur.

    Selalu menarik menelusuri tempat tinggal pengusaha Developer Puri Kahuripan yang beralamat di Kompleks Perumahan Puri Kahuripan, Jati Jaten, Karanganyar,Solo Jawa Tengah tersebut. Pemahamannya terhadap budaya Jawa dalam mencipta sebuah rumah tinggal, mengajarkan bahwa sebuah tempat tinggal haruslah memiliki makna dan filosofi yang menjadi pegangan hidup bagi para penghuninya. Manusia dilahirkan untuk mencari dunianya tetapi tidak boleh lupa untuk mencari “nirwana”nya. Dwi-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain