Penginapan Nuansa Tempoe Doeloe Damai Residence Semarang
Semarang memiliki berbagai macam julukan salah satunya adalah' The Little Netherlands' karena kota ini menyajikan keindahan dan kemegahan arsitektur Eropa di masa lalu. Bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda jamak kita temui di kota sekaligus didaulat sebagai ibukota Jateng ini. Beberapa bangunan
kuno tersebut sudah di alihfungsikan sebagai perkantoran dan perbankan sehingga nampak terawat dan cantik namun sayangnya, ada pula bangunan yang dibiarkan begitu saja tergerus zaman sehingga terkesan kotor, kumuh, dan hampir ambruk. Salah satu bangunan heritage yang dijaga dan dilestarikan serta difungsikan kembali adalah Hotel Damai Residence.
Hotel Damai Residence merupakan salah satu penginapan di kota Semarang yang memanfaatkan bangunan peninggalan kolonial Belanda sebagai daya tariknya. Hotel yang terletak di pusat kota, di pinggir perempatan Bangkong, atau lebih tepatnya di Jl. MT. Haryono Nomor 854-856 Semarang ini menawarkan nuansa tempoe doeloe kepada para pengunjungnya. Bangunan hotel ini pada masa kolonial merupakan tempat tinggal seorang dokter keturunan china, dan pada masa kemerdekaan berubah fungsi menjadi Kodim, Pabrik Kecap, dan lembaga les bahasa asing seperti yang dipaparkan oleh Selo Emka, Pengelola Hotel Damai Residence,” Bangunan ini dulunya bekas rumah dokter keturunan china dan konon katanya, pernah dipake sebagai markas kodim dan bahkan menjadi pabrik kecap. Data-data rumah ini belum lengkap, masih dicari. Saya mencari hingga ke Kedutaan Belanda di Jakarta. Siapa tahu di sana ada datanya.” Layaknya hunian pada masa lalu, hotel ini mempunyai halaman yang luas dengan bangunan berada di ujungnya. Sebuah pohon besar dengan sulur-sulurnya menjuntai menjadi perindang di halaman ini yang sekarang difungsikan menjadi tempat parkir hotel. Pohon besar berukuran tiga kali ukuran orang dewasa ini sudah ada sejak zaman kolonial terang Selo.
Hotel ini mempunyai dua bangunan utama yang letaknya bersebelahan satu sama lain. Bangunan yang paling besar mempunyai bentuk arsitektur yang apik. Salah satu ujung bagiannya menjorok ke depan dengan dinding bagian atas berbentuk segitiga dan tambahan kotak persegi di sudut-sudut dindingnya. Beberapa kaca akrilik berwarna hijau muda mengelilingi dinding bagian atas. Dinding-dinding tersebut ditopang pilar-pilar kokoh berbalut marmer merah. Di kedua pilar yang berfungsi sebagai pintu masuk terdapat inisial LHK pada bagian bawahnya. Diduga inisial LHK itu merupakan singkatan dari Liem Hok Kyong, nama dokter keturunan china yang menempati rumah itu untuk kali pertama. Sebuah teras dengan langit-langit tinggi akan menyambut kita di bagian depan. Beberapa kursi dan meja beraneka warna memeriahkan teras rumah yang dimanfaatkan sebagai café hotel. Selain di teras, café ini juga menyediakan pilihan tempat bersantai di ruang sisi selatan, tepatnya ruang yang menjorok keluar dan memiliki atap segitiga. Nuansa zaman kolonial begitu terasa dengan hiasan-hiasan barang antik seperti telepon, mesin jahit, termos, dan botol minum.
Melangkah lebih dalam lagi kita kan menjumpai ruang resepsionis. Di ruang ini kita akan menemui meja marmer bulat dengan lampu gantung di tengah ruangan. Lantai dengan ubin model lawasan menjadi alas di ruang ini. Ubin ini merupakan ubin asli bawaan dari dulu. Kursi panjang dari besi serta sofa berwarna merah hati terdapat di sudut ruang sebagai tempat duduk sembari menunggu reservasi. Hotel yang mulai beroperasi Januari 2013 ini memiliki 23 kamar yang terdiri dari 6 kamar Platinum, 5 kamar Gold, dan 12 kamar Silver. Semua kamar di Damai Residence mempunyai fasilitas yang sama yaitu TV kabel, AC, water heater, dan kamar mandi dalam. Yang membedakan hanyalah luas ruangannya saja. Empat kamar Platinum menempati area depan dekat dengan ruang resepsionis dan dua lainnya berada di belakang ruang resepsionis, tepatnya di samping ruang santai. Untuk menuju ruang santai kita akan melewati dua pintu dengan kusen berhias kaca akrilik kuning yang terdapat di samping kanan-kiri meja resepsionis. Kamar Platinum ini sangat luas dan lapang karena pada masanya ruang-ruang ini memang difungsikan sebagai kamar tidur.
“Semua bagian rumah ini masih asli seperti sedia kala. Mulai dari lantai, pintu, ruangan tidak ada yang dirubah kecuali penambahan kamar mandi dalam di setiap kamar karena tidak mungkin kita membiarkan para tamu antri mandi,” papar Selo. Ruang santai merupakan sebuah ruang yang terletak di bagian belakang bangunan. Di ruang tersebut terdapat meja kayu dengan beberapa kursi yang mengelilinginya. Sebuah almari panjang dengan ukiran bermotif dewa-dewa dalam mitologi China menghiasi setiap daun pintunya terletak di sisi barat meja. Ruang santai tersebut terhubungkan dengan teras belakang di mana terdapat kamar Gold. Kamar Gold ini mempunyai sedikit keunikan dibanding dengan tipe kamar yang lain karena kamar Gold yang satu terhubung dengan kamar Gold yang lain hanya dipisahkan oleh sebuah pintu sehingga sangat cocok bagi keluarga. “Si anak tidur di kamar sebelah dan orang tua tidur di kamar sampingnya yang saling connect sehingga orang tua tetap dapat mengawasi buah hatinya, begitu pula si anak tidak merasa takut tidur sendirian. Jika ingin privacy tinggal menutup pintu yang menghubungkan kedua kamar tersebut,” terang Selo. Jika tipe kamar lain (Platinum, Silver) menyediakan twin bed di setiap kamarnya, kamar Gold ini mempunyai dua pilihan tempat tidur, yaitu twin bed dan queen bed.
Teras ini memiliki view ke taman belakang yang begitu luas. Menikmati suasana sore sembari duduk-duduk dengan pemandangan luas terhampar. Beberapa tanaman palem botol mempercantik taman. Di area taman ini terdapat sebuah sumur yang juga merupakan peninggalan kolonial. “ Bibir sumur ini kami tinggikan demi keselamatan dan masih kami manfaatkan sebagai sumber air di hotel,” ujar Selo. Sumur tua ini diperindah dengan atap dari rumbia serta tambahan ember kayu agar terkesan suasana lampaunya. Taman belakang ini sering dijadikan sebagai tempat menggelar resepsi pernikahan dan pesta. Taman belakang ini juga menjadi view bangunan di sebelahnya yang difungsikan sebagai kamar tipe Silver. Bangunan ini mempunyai bentuk memanjang dengan belasan kamar. Selo belum mengetahui pasti fungsi bangunan ini digunakan sebagai apa pada masa kolonial, “ Mungkin ini dulunya istal kuda atau semacamnya.” Tiap-tiap kamar di bangunan ini dihubungkan dengan selasar memanjang dengan bukaan lebar yang melengkung pada dindingnya. Sebuah pagar besi sebagai pembatas antara kedua bangunan utama ini. “Pagar ini merupakan pagar baru. Kami pasang demi keamanan sehingga cuma ada satu akses jalan masuk lewat resepsionis. Tapi, jika dibutuhkan bisa dibuka,” imbuh Selo.
Ketika malam mulai menjelang, nuansa hotel pun berubah. Jika bangunan lama atau kuno terkesan angker dan menakutkan, suasana tersebut tidak akan Anda dapatkan di sini. Jika malam menjelang hotel ini malah tampil semarak dan ceria dengan hadirnya permainan lampu yang berwarna-warni. Lampu-lampu spot diletakkan di tempat-tempat dan sudut-sudut yang pas sehingga tidak terlalu temaram, juga tidak terlalu menyilaukan mata. Untuk harga cukup terjangkau bagi kalangan travelling atau keluarga. Kamar Platinum dibandrol harga Rp 375 ribu, Kamar Gold Rp 325 ribu, dan kamar Silver Rp 300 ribu. Cukup murah bagi penginapan yang terletak di tengah kota dan dapat menjangkau segala sudut arah mata angin di kota Semarang dan obyek-obyek wisata seperti Simpang Lima, kompleks Kota Tua, dll. Jika Anda tengah bepergian ke Semarang dan ingin merasakan sensasi zaman kolonial serta dimanjakan seperti noni dan sinyo Belanda, singgahlah ke Hotel Damai Residence dan nikmatilah suasana rumah tinggal yang nyaman. Selamat bernostalgia di Hotel Heritage ini. Ganang-Red
DAMAI RESIDENCE
Jl. MT. Haryono (Perempatan Bangkong)
No. 854 - 856 Semarang
Telp. (024) 8419 557
Fax. (024) 8419 558
Email: damairesidence@yahoo.co.id

















































































