Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Rencana Trase & Pintu Tol Kabupaten Sleman

    Peta Rencana Trase & Pintu Tol Kabupaten Sleman
    Dona Saputra Ginting, ST., MES., M.AP

    Jalan tol melintasi DIY bakal segera terwujud. Pemerintah telah menentukan jalur atau trase tol yang akan melintasi wilayah DIY. Telah diputuskan pembangunan proyek strategis nasional yakni tersambungnya tol trans jawa akan melewati kota pendidikan Jogjakarta. Semakin jelas dengan penetapan trase ruas tol yang akan dikerjakan secara bertahap. Akan ada tiga trase tol, yakni Jogja – Bawen, Jogja – Solo, dan Jogja – Cilacap.

    Dikutip dari situs KPIPP (Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas) bahwa Tol Jogja-Bawen memiliki panjang 71 kilometer. Bagian dari jalan tol trans Jawa ini, akan melintasi beberapa daerah, seperti Ambarawa, Pringsurat, Magelang, Mungkid, dan Sleman. Dan salah satu wilayah yang cukup banyak mendapatkan porsi tol ini ialah wilayah Kabupaten Sleman.

    Seperti disampaikan Kepala Sub Bidang Pertanahan dan Penataan Ruang Bappeda Sleman, Dona Saputra Ginting, bahwa Pemkab Sleman mendukung rencana pembangunan tol karena merupakan kebijakan pemerintah pusat, sekaligus demi memajukan ekonomi wilayah DIY yang merupakan daerah tujuan wisata. Pembangunan jalan tol Jogja - Bawen maupun Jogja - Solo diperkirakan bisa dilakukan bersamaan. Namun masih perlu beberapa pertemuan untuk memantapkan ground survey serta mencocokkan jalurnya, selanjutnya akan disambungkan ke ruas tol Jogja – Cilacap.

    Rencana pembangunan jalan tol Jogja-Bawen dan Jogja-Solo masih dalam tahap penyusunan Detail Engineering Design (DED). Bahkan saat ini proses lelang dokumen DED telah berjalan. “Pelaksanaan pembangunan tol belum menyentuh fisik. Terdapat berbagai tahapan dan proses, bakal ada kajian termasuk perhitungan bisnis dan bentang lokasi untuk mengidentifikasi lahan yang akan segera dibebaskan.”

    Untuk tahapan identifikasi, lamanya tergantung kondisi di lapangan, kalau kondusif paling tidak selesai dalam waktu tiga sampai lima tiga bulan. “Kami juga sudah berdiskusi dan berkoordinasi dengan pemerintah pusat guna memberikan masukan tentang entry-exit toll. Sedangkan, pada awal 2020 diharapkan tahapan pembebasan lahan bisa terlaksana, kendati hal itu belum dapat diprediksi lantaran tergantung kondusifitas lapangan.

    Saat ini tengah disusun DED dengan alternatif konstruksi elevated (ruas melayang), dan non-elevated (ruas bawah). Terkait dengan konstruksi tol yang berada di bawah, Pemkab Sleman memberi masukan agar menghindari situs-situs sejarah, lahan permukiman, dan persawahan produktif. Adapun, berkaitan dengan pembebasan lahan, Dona, sapaan akrabnya mengatakan hal itu merupakan wewenang pusat, kami dari pemerintah daerah tentu harus juga siap membantu sosialisasi.

    Pemerintah Provinsi (Pemprov) DIY saat ini sudah menerima dokumen perencanaan, sebelum penerbitan penetapan lokasi tol. Selanjutnya akan dikoordinasikan dan disusun administrasinya, sembari menunggu penerbitan Izin Penetapan Lokasi (IPL) yang akan disampaikan Ditjen Bina Marga Kementerian PUPR, untuk selanjutnya baru sosialisasi dan pembebasan lahan.

    Panjang tol Bawen-Yogyakarta diperkirakan mencapai 71 kilometer. Sedangkan Yogyakarta-Solo 40,5 kilometer. Untuk mendukung kebutuhan pengadaan lahan tol Jogja - Bawen berada di beberapa wilayah Sleman, yakni meliputi area di Kecamatan Prambanan, Kalasan, Depok, Ngaglik, Gamping, dan Mlati. “Untuk pembangunan tol tersebut tidak banyak membebaskan lahan. Karena dibangun melayang atau elevated, tepatnya di atas area Selokan Mataram," kata Dona.

    Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, cukup optimis terhadap impact positif terhadap proyek tol Yogyakarta-Bawen dan Yogyakarta-Solo dan tidak akan mematikan perekonomian daerah Utara kota ini, justru bakal memberikan nilai tambah terhadap usaha rakyat.

    Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman diberi kesempatan berdiskusi dengan Pemerintah Pusat guna memberikan masukan tentang entry dan exit toll. Dihasilkan rencana 6 entry-exit toll akan dibangun di tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen. Namun, konsep pintu keluar masuk tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen yang masuk wilayah DIY bukan berupa entry-exit toll, melainkan on off. Pasalnya, pembangunan entry-exit toll membutuhkan lahan sekitar 2 hektar. Adapun konsep on off bisa menggunakan lahan di bawah 2 hektar. “Misalnya di titik Utara RS PDHI namanya bukan entry exit melainkan on off. Bedanya kalau on off, penggunaan lahannya lebih minimal sedangkan entry-exit toll setidaknya 2 hektar area yang akan terkena dampak,” jelas Dona di Kantor Bappeda Sleman.

    Pemkab Sleman juga mengusulkan titik keluar-masuk di sekitar Lottemart, tetapi kepastiannya baru akan diketahui setelah Detail Engineering Design (DED) disusun. Pasalnya, penentuan entry-exit toll ini mempertimbangkan sejumlah faktor di antaranya perhitungan derajat kemiringan, dan topografi.

    Kemungkinan besar berada di sekitar Lottemart untuk entry-exit toll. Selain itu akan ada di atas Ring Road tetapi belum ada usulan, kemungkinan di lokasi tersebut ada dua On-Off untuk membuka kawasan perkotaan Jogja dari arah Solo dan Magelang,” papar Dona. Diprediksi titik keluar-masuk tol tersebut ada di seputaran Monumen Jogja Kembali dan UPN Veteran Jogja yang merupakan simpul keramaian.

    Perkiraan entry exit toll yang kelima ada di utara Resto Westlake, Gamping. Di daerah itu terdapat tanah kosong yang direncanakan menjadi titik pertemuan tol Jogja-Solo dan Jogja-Bawen. Untuk kawasan Sleman bagian Barat juga akan ada entry-exit toll yang diprediksi ada di sekitar Desa Margodadi, Seyegan. Menurut Dona, lokasi entry-exit toll dipilih karena kawasan perkotaan sudah terlampau padat. Jika dilebarkan ke Sleman sisi Timur, di kawasan itu terdapat banyak situs Candi dan hanya tersedia sedikit ruang.

    Bappeda Sleman menaksir, kebutuhan pembebasan lahan di wilayahnya mencapai 60 hektar. Tersebar di Desa Purwomartani, Tamanmartani, Selomartani, dan Tirtomartani, Tirtoadi, Tlogoadi, Banyurejo, dan Sidomoyo. Selanjutnya mencakup lahan sepanjang lingkar luar utara. Di Kecamatan Depok, Ngaglik, Mlati, dan Gamping. "Itu masih perkiraan trace. Cuma menarik garis kasar. Lalu di-buffer 90 meter kira-kira luasannya. Untuk fix-nya, nanti, kalau DED sudah selesai disusun dan disetujui," lanjut Dona.

    TOL JOGJA – BAWEN
    Jalur Elevated di atas Selokan Mataram ke junction (simpang susun) tol di Seyegan, menuju junction di area Bligo yang menyambung ke arah toll Magelang – Bawen lewat sisi Timur Borobudur. Juga terdapat entry-exit toll yang di sambung ke ruas jalan arteri menuju Bandara Yogyakarta International Airport.

    TOL JOGJA – SOLO
    Dari Manisrenggo Klaten tersambung menuju arah Selokan Mataram (Utara RS PDHI Kalasan), menyambung elevated (melayang) ke entry-exit toll Lottemart Maguwo dan tersambung secara elevated di atas Ringroad Utara sampai di entry-exit toll area Trihanggo (area Utara Resto Westlake).

    TOL JOGJA – CILACAP
    Menyambung elevated dari entry-exit toll Trihanggo menuju wilayah Banyuraden Gamping, selanjutnya turun (di atas tanah) berbelok ke Barat yang berada di samping Rel Kereta Api menuju entry-exit toll di area Sentolo Kulon Progo, yang akan dihubungkan jalan arteri menuju Bandara Yogyakarta International Airport (YIA). Dari Sentolo tersambung di sisi jalur Daendels dan atau Pantai Selatan menuju Cilacap. Wahyu Pras-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain