Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Romantisme Hunian dalam Balutan Fuchsia

    Living Room
    Kitchen Set
    Kamar Tidur
    Bathroom
    Kristyaningsih

    Dari penampakan luar, rumah ini hampir tidak ada bedanya dengan rumah di sekitarnya. Namun bila melihat ke dalam, maka akan terlihat jelas perbedaannya. Ketika menginjakkan kaki di rumah ini, landscape taman nan segar akan membuat kita betah berlama-lama memandanginya. Taman ini memang tidak besar, tetapi mampu mengusir kejenuhan. Di tengah taman mungil ini, terpajang sebuah air mancur kecil dari batu pualam. Di sekelilingnya ditanami beberapa tumbuhan yang ikut menambah suasana dramatis dari taman yang berukuran mini ini.

    Begitu memasuki hunian bergaya minimalis, kita akan merasakan aroma kenyaman di dalam rumah. Sebuah ruang kecil dengan beberapa kursi bergaya minimalis digunakan sebagai ruang tamu sementara. Menurut sang pemilik rumah, ruang ini biasa digunakan sebagai ruang tamu sementara. “Tamu yang datang dapat menunggu di ruang tersebut”, terang sang empunya rumah. Pada ruang ini Tya menghadirkan pembatas ruang berupa foyer. “Desain ruang standarnya dulu tidak ada pembatasnya lalu saya hadirkan foyer, supaya ada pembatasnya”, ucapnya.

    Melangkahkan kaki lebih dalam kita akan menemui sebuah ruangan yang berukuran lumayan luas. Ruang ini meminimalkan penggunaan sekat pasif. Penataan ruang ini mengusung kesan kesederhanaan namun menyuguhkan suasana yang hommy. Garis-garis tegas pada sudut ruang dan permainan warna tampak menyatu mengusung gaya interior minimalis modern. “Desain interior rumah saya ini mengusung gaya minimalis-modern, saya coba memadukan warna sehingga nyaman di mata dan membuat betah di dalam rumah”, ujar ibu yang bernama lengkap Kristyaningsih ini. Penataan interior ruang ini meski terlihat simple, namun terlihat match di mata.

    Pernik-pernik penghias ruang pun ditatanya begitu menarik. Pajangan karpet bermotifkan kaligrafi. Di bawah pajangan itu, mata kita disajikan sebuah sofa hitam berbahan kulit sintetis. Bentuknya yang besar, seolah mengajak kita untuk beristirahat di atasnya. Untuk lantainya, rumah ini menggunakan keramik berukuran besar. Rumah yang terletak di dalam area perumahan elite ini secara keseluruhan mengusung konsep minimalis-modern. Sang pemilik rumah yang merupakan pengusaha desain interior ternama di Jogja, sore itu menunjukkan desain interior hasil karyanya. “Interior ini hasil karya saya, semoga bisa menginspirasi siapa saja”, ucapnya semangat.

    Ditengah-tengah kesibukannya, Kristyaningsih atau yang akrab disapa Tya, meluangkan waktunya untuk menunjukkan karyanya. Meskipun dirinya sudah berstatus ibu beranak dua, namun beliau memiliki semangat jiwa muda yang selalu ceria. Diungkapkannya bahwa selain kerap traveling, ia juga sibuk menjalankan usahanya. Ia menjalankan usahanya yang bergerak di bidang desain interior. “Saya senang mendesain sebuah ruangan, banyak teman yang minta didesainkan interior rumahnya, proyek saya ya sudah banyak, desain minimalis seperti ini saya suka”, terang Tya sembari menunjukan desain dalam rumahnya.

    Untuk menambah kesan hangat pada langit-langitnya, Ibu yang menggemari makan mie godhog ini, menyuguhkan sebuah permainan cahaya yang cukup menarik. “Permainan cahaya dengan sistem dropceiling saya hadirkan untuk memberi suasana yang berbeda, terkesan lebih hangat dan romantic”, paparnya. Rumah dua lantai yang berada di dalam kawasan perumahan Taman Palagan Asri 3 ini menyuguhkan sebuah mixing warna yang mempertegas kesan minimalisnya. Ketika ditanya alasannya, Tya menerangkan bahwa warna-warna yang dipilihnya, seperti grey, hitam, dan putih adalah warna-warna yang dapat mempertegas karakter minimalis. “Warna tersebut cocok untuk mengusung karakter minimalis ruangan saya, tetapi saya juga selipkan warna kesukaan saya, fuchsia sebagai pemanisnya”, terang ibu dua anak tersebut.

    Meski mengusung gaya minimalis modern, Tya tak lupa menghadirkan sentuhan tropis dalam huniannya. Pada bagian luar, tepat di samping meja makan bernuansa hitam, Tya menunjukkan, sentuhan tropis dengan taman kecil, lengkap dengan air mancur, yang memberikan kesejukan. Sebagai pemanis, ditambahkan juga beberapa batu pualam di sekitar kolam. Selain kolam ikan tersebut pada beberapa sudut lantai satu ini terdapat beberapa tanaman untuk lebih menyegarkan mata. “Kadang kita tidak menyadari, bahwa dengan adanya tanaman yang hijau ini, akan memberikan kesegaran pada rumah kita”, jelasnya sambil menunjukkan salah satu sudut rumahnya yang terdapat tumbuhan hijau.

    Meski hanya digunakan sebagai rumah singgah, Tya tetap mendesain rumahnya semaksimal mungkin. “Saya tidak selalu disini, karena bisnis, saya lebih sering tinggal di Jakarta, tetapi tidak menutup kemungkinan saya akan tinggal di sini”, cetusnya. Usaha mendesain rumah yang maksimal terlihat pada kamar tidur utamanya. Nuansa yang lebih teduh nan mewah dihadirkannya dalam mendesain kamar tidur. “Kamar tidur utama ini adalah kamar saya, desainnya sedikit berbeda, namun tetap senada, warna kesukaan saya, fuchsia tetap saya hadirkan sebagai pemanis, tidak perlu mendominasi”, ungkapnya semangat.

    Kesan mewah dalam kamar tidur ini dihadirkannya dengan menghadirkan ornamen kaca di samping kanan kiri tempat tidur. “Saya menyiasati ruangan ini agar terlihat luas dan mewah dengan cermin”, terangnya singkat. Dijelaskannya bahwa ia sengaja menyeting kamarnya dengan warna-warna kalem untuk mendapatkan suasana yang teduh. “Ini sengaja saya berikan wallpaper warna coklat, supaya suasanannya teduh dan santai”, tambahnya. Kesan feminim tapi tetap kokoh sengaja dipaparkannya dengan memadukan warna fuchsia dengan warna bunga Tulip yang ada dikamar tidurnya. Sejumlah foto bersama keluarga juga ikut menceritakan perjalanan hidup Kristyaningsih. Dibalut dengan wallpaper, kamar tidurnya terasa sangat nyaman dan bersih. Dikatakannya lebih lanjut, kamar tidur utama ini telah mengalami perkembangan dari desain standarnya. Ruang wardrobe dihadirkannya untuk memenuhi kebutuhannya.

    Penataannya memang tergolong tidak membutuhkan usaha yang terlalu berat, ia mengkondisikan rumahnya terlihat sederhana, tetapi tetap menonjolkan karakter desainernya. Sebagai seorang wanita yang memiliki mobilitas tinggi, ia sengaja menerapkan warna fuchsia pada rumahnya. Baginya warna fuchsia memberikan kesan yang kokoh tapi lembut. Selain itu diutarakan Tya, warna fuchsia, selain warna favoritnya juga memberikan sentuhan yang hangat dan romatis. Kebersaman dalam keluarga memang diperlukan untuk menjaga keakraban, antar anggota keluarga. Maka ia sengaja merancang sebuah tempat untuk saling berkomunikasi, pada waktu pagi hari. Lalu lahirlah sebuah mini bar. Mini barnya sendiri masih dalam radius yang berdekatan.

    Mini bar ini digunakan oleh penghuni rumah, apabila mereka ingin bercakap-cakap, jaraknya masih cukup dekat dengan dapur. Dengan bentuk bar yang dinamis, menyesuaikan ruangan, kehadirannya memberikan nuansa yang hangat tapi tetap cozy. Untuk memberikan kesan yang bersih serta luas pada ruangan, maka dipilihlah warna putih pada meja bar. Demi mendapatkan pencahayaan yang benderang, maka pada meja mini bar ia memasang lampu dengan warna lampu putih.

    Menilik bagian belakang mini bar, telah tertata dengan baik dua buah dapur. Kedua dapur itu adalah dapur basah dan dapur kering. Space yang terdapat di belakang bar, tidaklah terlalu memakan tempat, tetapi ruang yang tersisa dapat dimaksimalkan dengan baik. Diperlengkapi dengan kitchen set bermotifkan warna hitam putih, dapur bersih ini menjadi terasa selaras dengan konsep yang diusungnya. “Pada bagian dapur, saya memang menempatkan kitchen set bermotifkan warna deco”, ujar Ibu dari Lisa Maradina ini. Pada bagian lampu dapur ini, ia sengaja menempatkan settingan lampu kuning. Tindakan ini ia lakukan agar mendapatkan kesan romantis, dari lampu kuning yang temaram.

    Masih pada posisi lantai satu, disebelah mini bar terdapat sebuah mushola kecil. Selain menunjukkan sifat religius pemilik rumahnya, mushola kecil ini juga digunakan sebagai sarana untuk beribadah, para kerabat maupun handai taulan yang berkunjung ke rumahnya. Tempat beribadah yang dulunya garasi mobil ini disulapnya menjadi tempat untuk berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Pemilihan warna yang digunakan juga warna silver, warna yang mengesankan kemegahan pada Pencipta. “Sebenarnya saya membuat mushola di bawah ini, sebagai pertimbangan bagi manula yang akan sholat, saya berpikir, kalau di lantai atas pasti akan sangat menyulitkan bagi manula untuk sholat”, jelasnya. Selaras dengan tujuannya membuat mushola kecil, ternyata banyak tamunya yang terbantu dengan kehadiran mushola ini. Hadirnya mushola ini memberi berkah juga kepada Tya. Dirinya juga kerap diminta membuatkan mushola oleh para kliennya. “Banyak teman/klien saya yang minta dibuatkan mushola, seperti milik saya ini”, ungkap istri dari Djoko Sungkono ini.

    Kesukaan atau kegemaran, memang berdampak besar pada rumah yang akan ditampilkan. Praktis hal ini juga turut mempengaruhi pada tampilan fisik rumah secara keseluruhan, malahan kegemaran seseorang bisa memperkuat karakter si tuan rumah. Pada tiap bagian rumah ini, ia sengaja menambahkan bunga Tulip, upaya ini ia lakukan, lantaran dirinya amat mengagumi bunga Tulip. “Warna bunga Tulip yang beraneka ragam, saya fungsikan juga sebagai penyeimbang warna rumah”, jelas Ibu yang memakai hijab serba ungu ini. Seperti layaknya seorang wanita sejati yang mengagumi keindahan sebuah bunga. Ibu yang kerap berkeliling ke luar kota ini juga mempunyai filosofi sendiri tentang bunga Tulip. “Bagi saya bunga Tulip itu, bunga yang spesial, sebab bunga Tulip tidak memiliki cabang, sama seperti saya yang berfokus pada satu hal saja”, jelasnya. Ia mengagumi bunga Tulip karena bunga itu juga merepresentasikan dirinya yang setia pada pasangannya. Tak mudah berpaling ke lain hati. “Bunga Tulip itu tunggal, dan bentuknya menjulang tinggi ke atas, itu sama seperti saya yang juga cuma setia pada suami saya”, ungkapnya tegas.

    Melangkahkan kaki ke lantai dua, suasana hangat dari wallpaper berwarna Fuchsia langsung menyambut. Lantai dua ini dikonsep sebagai ruang yang lebih private. Hendak menuju lantai dua, di tangga terdapat beberapa memorabilia dari beberapa negara yang pernah disinggahi pemilik La Mecca interior desain ini. Karakter ruangan yang hangat di lantai dua sudah disajikannya sejak meniti tangga penghubung. Warna coklat kayu dihadirkan istri dari Djoko Sungkono untuk menghadirkan suasana hangat. Jauh berbeda dengan lantai satu, di lantai dua motif kayu dihadirkan pada lantai. Meski bermotif kayu lantai ini tetap bersanding cantik dengan dominasi warna fuchsia. Masih dilengkapi dengan hiasan berupa tumbuhan hijau, di beberapa sudutnya. Tak ketinggalan juga beberapa bunga sungguhan dan bunga imitasi, untuk melengkapi lantai dua agar kelihatan lebih sempurna.

    Pada lantai dua, terdapat satu ruang keluarga, tiga kamar tidur. Dua kamar tidur digunakan untuk anaknya, dan satu lagi untuk kamar tidur tamu. Kamar tidur tamu, merupakan kamar tidur yang sengaja dibiarkan netral/tidak mendapat sentuhan personal dari Ibu yang masih enerjik ini. Ruang keluarga diposisikan sebagai jantung rumah untuk menghabiskan waktu lebih banyak bersama anggota keluarganya. “Living room ini sebagai pusat berinteraksi kami, makanya saya buat senyaman mungkin dengan aroma kebersamaan”, terang wanita yang masih aktif di beberapa komunitas highclass di Jogja ini.

    Menurut pecinta warna fuchsia ini, sebuah pemilihan warna ikut mempengaruhi suasana hati penghuninya, disamping itu sebuah warna juga ikut membangun nuansa dari rumah itu sendiri. Maka pilihlah warna dengan bijak, pertimbangkan dengan matang. Sangat membantu sekali bagi penghuni rumah dan pengunjungnya untuk mendapatkan kesan hangat, terlebih lagi setelah beraktifitas di luar ruangan seharian penuh. Tak pelak lagi kreasi dalam memilih warna mutlak dibutuhkan. Untuk mengurangi stress, dan membantu meningkatkan mood dari orang yang melihatnya. Ada yang mau mencoba warna fuchsia?. Aji-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain