Rumah Ekspos Impian Ari Wardana
Dari keinginan untuk memiliki rumah dengan nuansa batu bata ekspos, akhirnya Ari Wardana berhasil mewujudkan hal tersebut pada tahun 2013. “Pokoknya dari dulu kalau punya rumah saya ingin sekali punya rumah dengan nuansa batu bata ekspos”, ujarnya. Pembangunan rumah yang terletak di dusun Bantulan, Margokaton, Seyegan, Sleman tersebut memakan waktu kurang lebih 2 tahun karena memang dilakukan secara bertahap.
Untuk urusan desain rumah Ari menyerahkan sepenuhnya kepada saudara sepupunya yang memang bekerja di bidang arsitek. “Saya hanya minta dibuatkan konsep rumah yang unik dengan menonjolkan nuansa batu bata ekspos, untuk desainnya saya serahkan semua sama dia (red: saudara sepupu)”, tambah ayah dari Raditya dan Arindra ini.
Dilihat sekilas dari luar bangunan rumah ini nampak seperti gereja tua dengan ciri khas sudut atap yang menjulang tinggi. Di sekeliling halaman nampak kesan asri dengan dihiasi berbagai tanaman hijau. Halaman yang ditumbuhi rumput hias ini semakin cantik dengan adanya jalan setapak yang terbuat dari batu tertata rapi membelah hijaunya rumput. Pada sisi barat halaman terdapat sepasang pintu tua yang menghubungkan langsung dengan kebun mini yang ia tanami dengan berbagai macam pohon buah-buahan serta sebagai tempat memelihara seekor anjing mungil miliknya.
Masuk ke dalam rumah, kita akan tertuju ke ruang tamu yang tidak begitu luas namun terkesan nyaman. Kursi dan meja kuno pada ruang tamu ini semakin menambah nuansa klasik. Menurut Ari, kursi dan meja itu adalah peninggalan dari orang tuanya yang telah direstorasi ulang agar tampilannya lebih cantik. “Kebetulan meja dan kursi ini peninggalan bapak yang saya ambil dari rumah beliau, daripada di sana tidak terawat mending saya perbaiki dan saya bawa ke sini”, ungkap pria yang bekerja di salah satu perusahaan swasta yang berpusat di Jerman ini. Pada sudut ruang tamu tampak beberapa botol wine koleksinya tertata rapi pada sebuah cabinet yang menambah manis ruangan tersebut.
Ruang keluarga di rumah bergaya klasik ini cukup nyeleneh karena terdapat sofa kulit berwarna hitam yang justru terkesan modern, berbanding terbalik dengan konsep rumah ini sendiri. “Kalau untuk ruang keluarga ini saya ingin tetap nyaman, jadi saya lebih memilih pakai sofa daripada kursi kayu”, jelas Ari. Dinding pada ruang ini masih tetap mempertahankan tampilan batu bata ekspos. Namun salah satu sisi dinding dibuat berwarna putih, berbeda dengan sisi dinding lain yang dominan berwarna coklat. Hal tersebut dilakukan agar ruangan tidak terkesan gelap, jadi terlihat lebih terang dengan patulan warna putih dari salah satu sisi dinding tersebut. Ini juga ia aplikasikan pada setiap kamar tidur yang ada di lantai dasar rumahnya.
Pada tengah ruangan terdapat meja kayu yang berhiaskan pasir pantai berwarna putih lengkap dengan fosil kerang dan bintang laut pada bawah kaca meja tersebut. Di ujung ruang keluarga terdapat sebuah televisi layar datar yang diletakkan pada sebuah cabinet kayu lengkap dengan sound system sebagai entertainment. Pada sebuah lorong kecil yang menghubungkan ruang keluarga dengan halaman samping, nampak sebuah alat musik organ piano mengisi space pada bagian ini. “Ini dulu saya beli piano karena anak-anak ikut les, tapi sekarang mereka sudah bosan ikut les jadi ya dijadikan pajangan saja pianonya”, tandas suami dari Lucia Anggraini Sayekti ini. Pada dinding di atas piano dihiasi beberapa foto keluarga dan pernak-pernik.
Tidak jauh dari ruang keluarga terdapat sebuah mini bar yang menjadi satu dengan dapur. Untuk material top table kitchen set, Ari memilih keramik dengan dominan warna hitam agar nampak selaras dengan warna coklat dari kitchen cabinet dan kursi bar yang berbahan kayu jati. Gelas-gelas kaca yang menggantung rapi, sepasang lampu gantung bergaya minimalis, dan beberapa toples camilan semakin menambah kesan classy pada mini bar miliknya. Pada ujung dapurnya terdapat sebuah wastafel yang mempunyai view langsung menuju halaman rumah melalui jendela kaca yang cukup luas.
Untuk kamar tidur sendiri di rumah ini memiliki 3 kamar, 1 kamar tidur utama, 1 kamar tidur anak, dan kamar tidur untuk tamu. Memasuki kamar tidur utama milik pasangan suami istri ini masih dengan nuansa yang menonjolkan batu bata ekspos pada dindingnya dan satu buah springbed king size nampak mendominasi ruangan. Yang menarik dari kamar tidur ini yaitu adanya pintu keluar yang langsung menuju ke halaman belakang rumah dengan berbagai tanaman hiasnya. Hal tersebut juga nampak pada kamar tidur kedua anaknya yang berada di samping kamar tidur utama. “Rencananya besok saya ingin buat teras di belakang kamar tidur saya dan anak-anak yang saling terhubung”, ungkap Ari sambil berjalan di atas rumput hijau pada halaman belakangnya. Untuk tampilan kamar tidur anak tidak berbeda jauh dengan kamar tidur utama, hanya saja karena kamar ini dipakai oleh 2 orang anaknya, maka Ari memilih springbed dengan model slide. Pada kamar tidur tamu sendiri hanya nampak sebuah tempat tidur berukuran sedang karena memang kamar ini jarang sekali dipakai. “Paling hanya dipakai kalau pas ada saudara yang menginap disini saja”, tambah Ari.
Bangunan dengan luas ± 210 m2 yang mulai ditempati pada tahun 2014 silam ini memiliki 2 lantai. Dari ruang keluarga menuju ke lantai atas rumah ini dihubungkan oleh sebuah tangga yang dihiasi railing besi bernuansa klasik berwarna bronze berpadu warna gold pada ornamen-ornamennya. Untuk anak tangga ia memilih keramik bertekstur garis dengan dominan warna coklat yang lebih muda. Tepat di bawah anak tangga tersebut oleh Ari dimanfaatkan sebagai kamar mandi tamu. Sampai di tengah tangga menuju lantai atas tersebut terdapat sebuah jendela kaca besar yang lagi-lagi memiliki view menuju halaman belakang rumahnya yang asri.
Ari bercerita bahwa untuk lantai atas sendiri sampai saat ini belum difungsikan secara optimal, masih nampak space kosong layaknya sebuah aula di lantai atas. “Saya sendiri juga masih belum tahu nantinya di atas mau dibikin apa, karena memang kami belum begitu lama tinggal di sini sehingga masih banyak yang harus ditambahkan terutama pada lantai atas. Mungkin situasional saja nanti sesuai kebutuhan ke depannya bagaimana”, imbuh Ari sembari berjalan menuruni anak tangga menuju ke lantai dasar.
Satu hal menarik dari rumah ini adalah sebagian besar dari pintu-pintu, jendela, bahkan konstruksi kayunya yang memanfaatkan kayu bekas. Ari mengaku bahwa ia sering mencari rumah-rumah yang dibongkar atau direnovasi untuk membeli berbagai macam konstruksi kayu bekasnya. “Untuk kayu semua ini memanfaatkan kayu bekas saja gak ada yang baru. Kalau ada bongkaran rumah gitu saya beli kayu-kayunya untuk kemudian jadi pintu dan usuk-usuk rumah ini”, tuturnya sembari menutup perbincangan sore itu. Farhan-red

















































































