Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Rumah Menengah Semakin Meriah-bagian1

    padma residence
    pondok indah banguntapan
    perumahan jogja
    wiyoro the residence

    Tingginya pertumbuhan daerah akan berbanding seimbang dengan permintaan rumah tinggal. Secara nasional ketidakseimbangan antara supply and demand telah membuat backlog sebesar 13,6 juta rumah atau 800.000 per tahun. Di kota Jogja sendiri di tahun 2009 menurut data REI backlog sudah terjadi sebesar 91.000. Di tahun ini kebutuhan akan rumah di Jogja mungkin sudah di atas 100 ribu unit. Dari tingginya permintaan akan rumah tersebut sampai saat ini 80% dipenuhi oleh swadaya atau mereka membangun sendiri sedangkan 20% biasanya disediakan oleh sektor perumahan. Perkembangan properti Jogja memang sedang berada pada posisi yang cukup bagus. Banyak developer memiliki keyakinan di tahun 2013 potensi properti Jogja masih cukup prospektif untuk digarap. Terutama pemenuhan rumah bagi masyarakat segmentasi menengah, menengah bawah.

    Memiliki rumah sendiri bagi keluarga baru tentu saja sangat membanggakan, apalagi didukung dengan letak perumahan yang memiliki akses yang mudah untuk dijangkau. Aksesibilitas menjadi salah satu dasar yang harus dipikirkan sebelum menjatuhkan hati untuk membeli salah satu produk perumahan. Perumahan dengan kemudahan untuk menjangkau sarana-sarana pembangkit lingkungan atau berada pada jalur yang mudah untuk dijangkau tentu saja menjadi keunggulan. Lokasi yang strategis, akses mudah akan berpengaruh pada tingkat penjualan produk tersebut. Segmentasi kelas menengah dengan harga di bawah 600 jutaan saat ini merupakan segmentasi perumahan yang banyak disasar para pengembang Jogja. Pasar ini menyimpan potensi yang cukup besar untuk digarap. Jika pengembang jeli menyasar konsumen kelas menengah, dapat dipastikan perputaran uang akan terus berjalan.

    Namun, tak dipungkiri juga keterbatasan lahan untuk segmen menengah memang dirasa sulit untuk didapatkan. Ditambah kendala harga dasar tanah yang sudah tinggi kadang membuat para developer kesulitan untuk menyasar segmen tersebut. Harga dasar tanah di kota Gudeg ini memang mengalami kenaikan yang cukup signifikan, atau bisa dibilang memasuki tahap yang tidak realistis. Jika di sekitar suatu lokasi terlihat ada aktifitas pembangunan, maka secara sadar akan mengerek harga tanah di sekitarnya. Hal ini tentu saja akan menjadi kendala bagi pengembang untuk menghadirkan perumahan bagi segmentasi kelas menengah. Lokasi yang masih dapat terjangkau biasanya akan berada di daerah-daerah penyangga pusat kota. Di Jogja sendiri, daerah yang masih banyak menyediakan perumahan dengan segmentasi menengah lebih banyak berada di Kabupaten Bantul, Sleman barat, dan Sleman timur. Meski berada di daerah penyangga pusat kota, lokasi-lokasi tersebut tetap menyajikan aksesibilitas yang mudah untuk menjangkau pusat kota.

    Lokasi, lokasi, dan lokasi sudah menjadi hukum paten bagi setiap pengembang dalam rangka akan mengembangkan sayap perumahannya. Lokasi suatu produk perumahan tersebut menjadi salah satu pertimbangan awal apakah ketika membuka lokasi perumahan di tempat itu akan laku atau tidak. Rata-rata perumahan di Jogja berada pada lokasi yang cukup menjanjikan. Kemudahan akses untuk menjangkau dan di jangkau sarana pembangkit lingkungan menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi konsumen. Seiring perkembangan properti kota Jogja yang mulai merata, membuat di berbagai sudut kota ini terlihat aktifitas pembangunan. Banyak pengembang mencoba menawarkan produknya dengan segmentasi pasar yang terjaring dengan sendirinya. Mulai dari segmentasi kelas menengah- atas, menengah sampai dengan menengah – bawah. Segmentasi kelas menengah saat ini berada pada posisi yang top untuk digarap secara matang oleh para pengembang.

    Beberapa kecamatan di Kabupaten Bantul kini tengah menjadi sasaran empuk para developer untuk menyediakan perumahan kelas menengah. Harga dasar tanah yang relatif masih terjangkau akan memudahkan para pengembang untuk menyediakan rumah bagi segmentasi menengah. Meski harga dasar tanah masih cukup terjangkau, lokasi-lokasi ini tetap menyajikan kemudahan akses. Kecamatan Kasihan yang berada di sisi utara Kabupaten Bantul, memiliki akses yang baik untuk menjangkau berbagai universitas dan pusat kota. Daerah ini memiliki kedekatan untuk menjangkau jalur ringroad selatan dan ringroad barat kota Jogja.

    Perlu diketahui di daerah tersebut terparkir berbagai sarana pembangkit lingkungan. Berbagai universitas , seperti kampus UMY Terpadu (Universitas Muhamadiyah Yogyakarta), STIKES A. YANI, STIKES ALMA ATA, dan BSI (Bina Sarana Informatika) terparkir di sepanjang ringroad barat. Selain itu, berdirinya kampus-kampus ini tentu akan membuat perekonomian daerah tersebut berkembang pesat. Berbagai rumah makan atau bahkan minimarket akan ikut ambil bagian meramaikan perekonomian. Hal ini tentu saja menjadi salah satu alasan para konsumen. Selain itu akan dibukanya kampus STEI HAMFARA di sekitar Bangunjiwo tentu akan semakin menambah pertumbuhan ekonomi daerah tersebut. Di kecamatan ini kini mulai banyak terparkir perumahan-perumahan berskala kecil maupun besar. Para pengembang yang menyasar daerah ini tentu saja bukan tanpa alasan, faktor kedekatan dan kemudahan untuk menjangkau berbagai sarana pembangkit lingkungan menjadi salah satu alasan utamanya.

    Kecamatan Kasihan terbagi menjadi 4 desa, yaitu desa Ngestiharjo, Tirtonirmolo, Bangunjiwo, dan Tamantirta. Di keempat wilayah tersebut pertumbuhan propertinya bisa terbilang cukup signifikan. Selain kedekatan dengan sarana pembangkit lingkungan berupa sarana pendidikan, kecamatan Kasihan juga memiliki daya tarik sentra Industri kerajinan gerabah di Kasongan, sentra kerajinan pahat batu, di Lemah Dadi, Bangunjiwo, dan sentra kerajinan ukir kulit di Gendeng, Bangunjiwo. Selain itu Kecamatan Kasihan memiliki beberapa sumber wisata berupa, Pesanggrahan Ambarbinangun di Dusun Kalipakis Tirtonirmolo, Sendang Banyu Tumpang di Dusun Salakan, Bangunjiwo, Sisa pagar tembok Keraton di Dusun Jomegatan, Ngestiharjo, Masjid Dongkelan, dan Sendang Kasihan, Petilasan Sunan Kalijaga di Dusun Kasihan Tamantirta. Lokasinya yang mudah untuk dijangkau akan banyak dilirik mereka yang mencari rumah untuk tempat tinggal ataupun investasi. Pertumbuhan daerah dan ekonomi di daerah tersebut cukup berpengaruh pada penjualan perumahan.

    Tak bisa dipungkiri, ketika suatu wilayah sesuai Rencana Tata Ruang Wilayah memang diperuntukkan sebagai kawasan pemukiman, maka akan tumbuh banyak perumahan di wilayah tersebut. Bak istilah ada gula ada semut, kiranya ini pantas disematkan pada sisi tenggara kota Jogja, tepatnya di Kecamatan Banguntapan dan Pleret. Beberapa tahun silam Kecamatan Banguntapan dan Pleret, tak pernah dilirik sebagai kawasan hunian, namun setelah beberapa pengembang mencoba memasarkan produknya di daerah tersebut dan memperoleh hasil yang menjanjikan, banyak pengembang lain mengikutinya. Prospek wilayah yang terus berkembang seiring dengan perekonomian masyarakat sekitarnya yang terus meningkat, tak heran banyak pengembang menanamkan uangnya di dua kecamatan tersebut. Di sepanjang Jalan Raya Pleret yang masih berada di wilayah Banguntapan memperlihatkan pertumbuhan ekonomi masyarakatnya yang semakin ramai. Terlihat dari banyaknya warung, toserba, dan pusat perekonomian lainnya berdiri menghiasi sepanjang jalan. Jalan Raya Pleret masih memiliki potensi besar untuk digarap secara matang. Berdirinya tempat wisata Balong Waterpark, Rumah Sakit Rajawali, SPBU, dan kantor kecamatan Banguntapan, yang berlokasi segaris di sepanjang Jalan Raya Pleret menjadi sarana pembangkit lingkungan yang cukup signifikan untuk sebuah perumahan.Greg-Red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain