Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Sepotong London di Demangan

    Tickles Cafe and Resto
    Tickles Cafe and Resto
    Tickles Cafe and Resto
    Tickles Cafe and Resto
    Tickles Cafe and Resto

    Swinging London, itu yang disebutkan oleh pemilik saat kami mendatangi “Tickles Cafe and Resto” pada suatu sore yang hujan. “Kami berempat kebetulan memiliki minat yang sama mengenai hal- hal yang berbau Inggris. Termasuk soal makanan dan budayanya,” kata Andi Wardhana, satu dari empat pemilik Tickles.

    Terletak di lingkungan kampus Atma Jaya Yogyakarta dan kampus Sanata Dharma Yogyakarta, tepatnya di Jalan Kenari No. 4 Demangan Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, pemilik memang mengincar kalangan mahasiswa sebagai target pasar utama. “Kalau kita mau berbisnis di Jogja, kami berpandangan, harus melibatkan kalangan mahasiswa,” imbuh Andi. Menurut Andi, hingga saat ini belum ada kafe yang mengusung konsep tematik di Jogja. Peluang inilah yang coba diambilnya.

    Begitu tiba di lokasi, kami langsung disambut oleh bangunan berbentuk kotak khas pertokoan Inggris tahun '70 an dengan dominasi cat biru muda dan pintu - jendela bercat putih. Selain itu, jajaran bata merah tanpa plester melekat di bagian atas bangunan memperkuat kesan British restoran dan kafe yang mulai operasional Februari 2013 silam.

    Tickles sendiri dalam bahasa Inggris bisa diartikan sebagai hal yang menggelitik atau perasaan senang. Setiap sudut bangunan Tickles menyimpan banyak cerita. Sentuhan-sentuhan unik interior dikombinasikan dengan apik. Melangkahkan kaki pada bagian pertama, sebelah kanan meja kasir ada sebuah pintu kaca, ketika membuka pintu suasana chick. Nuansa chick tampak dalam deretan meja kursi aneka warna tersusun rapi di atas lantai bermotif papan catur. Pada area chick dinding dibungkus dengan cat putih pada tembok bagian dalam ruangan. Selain itu, tirai berwarna merah jambu menjadi penghias jendela. Di sudut barat, atau sebelah kanan dari pintu masuk, tembok dilukis dengan gambar bus tingkat khas Kota London berwarna merah yang konon terkenal ke seantero dunia.

    Masuk lebih dalam suasana santai lebih terasa. Kembali ruangan ini dibatasi pintu kaca, suasana yang lebih santai menyambut kami. Pencahayaan lampu tampak lebih redup. Area ini nyaman untuk berbincang-bincang bersama teman atau kolega. Jajaran sofa dan meja pendek tampak lebih dominan dibandingkan meja kursi “biasa” pada ruangan pertama. Alunan lagu- lagu kelompok musik The Beatles mulai menyambut kami saat mulai memasuki ruangan tersebut. Warna putih masih menghiasi pada beberapa bagian tembok, namun tumpukan bata merah(ekspos) tanpa plester mulai dominan. Pada ruangan tersebut juga terdapat pantry bergaya bar tempat para barrista meracik minuman yang terletak di bagian selatan bangunan. Area dapur terletak di belakang pantry.

    Berbelok ke kanan, kita akan memasuki bagian kafe yang merupakan kawasan merokok. Tampak lantai semen lusuh tanpa dilapisi keramik , selain itu, furnitur juga diisi sejumlah meja kursi yang terbuat dari kayu dan baja kusam. Menurut Andi, interior bagian kafe sengaja dibuat “kasar” untuk memperkuat konsep industrial yang coba disuguhkan. Ruang tersebut juga satu- satunya yang tidak dilengkapi pendingin udara. Hanya ada beberapa kipas angin yang menempel di berbagai sudut ruangan.

    Di sudut barat smoking area sejumlah foto band legendaris asal Liverpool, The Beatles tampak menempel di dinding yang terbuat dari susunan bata merah tanpa plester. Di sebelah selatan terdapat panggung kecil yang digunakan untuk pertunjukan musik.

    Tickles Cafe and Resto didirikan oleh dua pasang suami istri yang juga teman satu SMA yakni Andi Wardhana – Anita Nuraini dan Bayu Soediono – Haswita Leonie Putri. Bayu berkisah, sebenarnya mereka berempat sudah sejak lama bermimpi untuk memiliki restoran bersama. Persahabatan yang sudah terjalin sejak di bangku sekolah membuat mereka sudah saling mengenal dan percaya satu sama lain. Namun, karena kesibukan masing- masing, mimpi mereka baru bisa terwujud sekitar tiga tahun yang lalu. “Kita awali dengan hunting lokasi, setelah wira - wiri di sejumlah tempat, akhirnya kita putuskan untuk membuatnya di tempat yang sekarang ini,” ujar pria berperawakan tambun ini.

    Menurut Bayu, pada awalnya tempat yang saat ini menjadi Tickles merupakan bangunan terbengkalai. Lokasi ini tampak ramai dan strategis, akhirnya mereka berempat memutuskan untuk menempati bangunan seluas 600 m² tersebut. Atas bantuan seorang arsitek yang kebetulan teman mereka, mulailah proses pembangunan resto yang mulai dibuka pada bulan maret 2014 dengan konsep british yang mereka usung. Membutuhkan beberapa langkah untuk mengeksplorasi dan membangun konsep Tickles Cafe And Resto tersebut. Langkah pertama yang dilakukan adalah menggempur sekat- sekat yang sebelumnya banyak terdapat di dalam bangunan. Kemudian membuat sekat baru yang membagi ruangan menjadi tiga bagian utama. Membutuhkan sekitar empat bulan untuk merombak bangunan hingga mendapat hasil yang sesuai keinginan dua pasangan suami istri tersebut.

    Furnitur Tickles Cafe And Resto sebagian besar merupakan furnitur customized dari owner sendiri. Menurut Bayu, mereka berburu tukang di sejumlah tempat di Pulau Jawa untuk mengerjakan meja, kursi maupun sofa. “Hampir setiap meja, kursi, maupun sofa dikerjakan oleh tukang yang berbeda. Hal tersebut kami lakukan untuk mendapatkan variasi bentuk maupun gaya,” katanya lagi.

    Lain lagi soal pernak pernik yang menghiasi ruangan, sebagian besar merupakan benda koleksi para pemilik. Selain itu, ada beberapa barang seperti tabung pemadam api yang merupakan oleh- oleh dari sanak famili maupun teman yang baru pulang dari Inggris. “Dulu kami tidak mengira benda- benda koleksi maupun oleh- oleh akan dijadikan pernak pernik penghias kafe,” ujar Bayu sambil terkekeh.

    Masuk ke menu makanan, meski yang diusung sebagian besar merupakan makanan dan minuman barat, tidak serta merta cita rasa mentah- mentah dibuat sama dengan aslinya. “Cukup tampilan saja yang kami duplikasi, soal rasa, tetap lidah lokal yang kami akomodir dengan menggunakan banyak variasi bumbu rempah. Pasalnya, sebagian besar konsumen kami adalah orang lokal,” imbuh Haswita.

    Benar saja, ketika kami mulai mencoba Spicy Tuna Baked Rice yang disuguhkan, lidah tidak merasa asing. Meski di atasnya ditaruh selembar irisan keju mozarella, menu tersebut serupa dengan rasa nasi kuning, dengan rasa yang lebih “ringan” tentunya. Gurihnya nasi dan keju berpadu dengan olahan daging tuna yang manis pedas.

    Begitu pula dengan Union Jack Spaghetti dan Classic Chesee Pizza yang disajikan selanjutnya, tak ada “gegar rasa” yang terjadi ketika makanan tersebut mulai masuk ke mulut dan bersinggungan dengan lidah. Minuman yang disajikan, secara umum masih bisa diterima oleh lidah lokal.

    Orang dapat saja tertipu apabila belum membaca banderol makanan dan minuman yang tertera di buku menu. Meski terkesan “wah” dari segi interior maupun eksterior bangunan, harga makanan dan minuman ternyata ramah untuk kantong mahasiswa. Harga minuman dipatok mulai dari 7.000 Rupiah, sedang untuk makanan mulai 15.000 Rupiah.

    Haswita mengatakan pihaknya berusaha menyiapkan bahan baku organik untuk menu- menu yang disajikan. “Untuk sayur mayur, kami jamin seratus persen organik, selain itu, juru masak kami juga tidak menggunakan MSG dalam mengolah makanan,” ujarnya.

    Selain digunakan untuk makan dan bersosialisasi antar pengunjung resto, Haswita mengaku tempatnya juga sering dijadikan untuk melakukan foto pre wedding. Namun, karena banyaknya permintaan, untuk sementara ini maksimum hanya diijinkan untuk dua sesi pemotretan setiap harinya. “Biar konsumen tidak terganggu,” imbuhnya.

    Kedepan, Haswita ingin merangkul berbagai komunitas seperti fotografi untuk bersinergi dengan tempatnya. “Selain menjadikan kalangan mahasiswa sebagai target utama konsumen, kami juga ingin mengembangkan Tickles dengan basis komunitas,” tandas perempuan berparas ayu tersebut. Timur-Red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain