Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Sinergi Alam dalam Hunian Eko Prawoto

    Rumah Eko Prawoto
    Rumah Eko Prawoto
    Rumah Eko Prawoto

    Nampak dari luar, rumah itu begitu asri dengan banyaknya tanaman dan pepohonan yang memayungi. Sebuah gapura batu bata ekpose dengan pintu kayu yang rendah menyambut kehadiran Tim Rumah Jogja Indonesia. Melangkahkan kaki lebih ke dalam lagi kita akan melihat sebuah kolam ikan dengan teratai dan enceng gondok yang mengampung di atas permukaan airnya. Sebuah patung kepala budha dan air mancur mini berbentuk cerukan mengalirkan air yang jatuh berderai menimbulkan suara gemericik ditambah dengan latar belakang dinding yang dipenuhi dengan tanaman merambat menambah kesan sejuk dan alami. Itulah gambaran depan dari rumah Eko Prawoto yan terletak di Jl. Bener, Gg. Pandan Wangi No.11, Jogja. “Rumah yang relatif sangat sederhana, alami, terbuka, yang akrab, dan tidak mengintimidasi orang, “ beber Eko menerangkan rumahnya.

    Sepasang patung induk macan dengan anaknya terbuat dari gerabah menyambut kita di depan beranda. Melihat patung itu menerbangkan khayalan dan mengingatkan akan bentuk celengan zaman kita kecil dulu. Dinding dengan batu bata ekspos begitu menyatu dengan bangku-bangku yang mulai pudar dan mengelupas catnya menambah kesan antik. Hiasan dari kulit kerang menggantung manis di beranda rumah ini. Dari beranda menuju ruang tamu, kita akan dibuat tercengang dengan interior ruang tamu yang unik, yang tidak kita jumpai di rumah lain. Masih dengan dinding batu bata ekspos dengan warna putih, tergantung gambar-gambar sketsa dan di atasnya terdapat sebuah kayu dengan gambaran etnik. “ Sketsa-sketsa itu merupakan pemberian teman-teman seniman dan kebetulan saya suka sketsa black dan white,” tutur arsitek dan juga dosen UKDW ini. Sebuah meja marmer putih dengan dikelilingi kursi beranyaman rotan terletak tepat di tengah ruangan. Sebuah pohon jambu terletak di ruang terbuka di depan ruang tamu. Ruang terbuka ini berfungsi sebagai sirkulasi dan pencahayaan pada siang hari.

    Gebyok kayu berukir dengan pintu lipat menjadi pemisah antara ruang tamu dan ruang bersantai. Di ruang santai kita kan kembali menemukan tampilan batu bata ekspose pada dindingnya. “Rumah ini memang banyak material ekspos yang ngga difinish. Awalnya pertimbangan harga, membangun dengan biaya minim dan karakter alam yang dihasilkannya, kami suka, “terang Eko. “ Rumah ini termasuk tradisional, dalam artian tradisional bukan bentuknya tapi sikap dan nilai ruangnya. Rumah itu tidak dipetak-petak menurut fungsi secara ketat. Rumah menawarkan serangkaian nuansa atau suasana dan aktifitas itu yang memilih ruang yang sesuai untuk itu, “ tambah Eko menjelaskan rumahnya. Hal itulah yang melandasi bahwa ruangan di rumah ini bisa berubah-ubah sesuai kondisi. Dahulu, cerita Eko, dapur berada di ruang santai kemudian baru dipindah ke bagian belakang rumah. Fleksibilitas itu dicapai dengan struktur bangunan yang berdiri di atas ukuran 3x3. Membuat keleluasaan dalam membagi ruang dan sekat-sekat ruang tidak terlalu ketat dan bisa dipindah-pindahkan. Di ruang santai ini terdapat koleksi Eko berupa kapak batu dari zaman Neolitikum yang disimpan rapi dalam rak kaca. Pernak-pernik seperti setrika jago, tas punggung yang terbuat dari kulit kayu sagu yang biasa digunakan mengangkut barang oleh orang dari wilayah Indonesia bagian timur, dan pernak-pernik etnik lainnya. “ Barang-barang lama itu lebih untuk alat belajar serta mengapresiasi tradisi. Kapak batu itu merupakan teknologi paling tua, alat pertama manusia. Bisa untuk memotong, menguliti, dan membunuh binatang. Saya berpikir dengan kemudahan seperti ini, serba tersedia, dan termanjakan kita menjadi sangat konsumtif, kreatifitas menjadi tumpul. Kita harus belajar dari orang zaman dulu. Dalam keterbatasan menjadi kreatif, “ terang Eko.

    Rumah yang berdiri di area seluas 350m² ini mempunyai interior yang sangat unik sekali, misalnya saja pintu kayu lipat yang biasanya terdapat di toko-toko zaman dahulu dipasang di lantai dua sebagai dinding. Hiasan kepala rusa terbuat dari kayu dengan tanduknya yang menjulang terpampang di atas pintu dan aneka pernak-pernik etnik lainnya. Pemanfaatan material bekas untuk mendekorasi dan mempercantik rumah. Rumah yang alami dan menyatu dengan alam diwujudkan dalam ruang-ruang terbuka yang banyak dijumpai di rumah ini. Pot-pot gantung dengan tanaman yang menjulur teruntai ke bawah berpadu dengan tanaman yang berada di bawahnya. Penggunaan material tanaman ini bahkan sampai menyentuh kamar mandi. “ Rumah ini selalu menyisakan ruang luar untuk taman. Membuat udara menjadi dingin, tidak perlu AC, membantu penerangan pada siang hari. Lebih ke bangunan yang akrab dengan alam, tidak memusuhi alam,” ujar Eko. Bapak tiga putra itu juga menambahkan, “ Orang kota dewasa ini kurang memperhatikan penghijauan. Kadar oksigen yang kurang menimbulkan kecemasan. Hidup menjadi tegang sekali. Berbeda jika dekat dengan tanaman. Kualitas oksigen bagus menambah kualitas hidup. Tanaman memberi banyak hal. Bergerak tumbuh, bunga mekar memberi energi positif daripada benda mati, diam, dan statis.”

    Berkunjung ke rumah ini seperti berjalan di lorong-lorong kampung. Lorong-lorong ini menghubungkan ke setiap bagian rumah. Kita akan banyak melihat gambaran kehidupan kampung di rumah ini. Batu bata ekspos, pernak-pernik terakota, penggunaan kayu dan bambu pada bagiannya. “ Rumah ini tidak minta dikagumi, tidak mengintimidasi orang untuk takut berkunjung,” papar Eko. Pada bagian lain rumah ini terdapat limasan di sisi timur. Rumah limasan tersebut diperuntukkan untuk ruang keluarga. Sebagai tempat interaksi antaranggota keluarga, rumah limasan itu ditata dengan begitu nyaman. Kursi-kursi yang penuh dengan bantal empuk dibalut dengan kain atau selendang bermotif etnik mendominasi ruang ini. Sebuah TV terletak di atas lemari kecil, dibelakangnya sebuah jam bandul kuno yang masih berfungsi tergantung. Sebuah pohon duren menjulang tinggi menembus atap pada ruang keluarga. “ Pohon ini memang sengaja tidak ditebang, biar rumah ini yang menyesuaikannya,” beber Eko yang telah tinggal di rumah ini sejak tahun 1988. Melangkah lebih ke dalam lagi kita akan menemui ruang dapur dan ruang makan. Ruang makan dengan atap melengkung serta dihiasi bambu yang ditata melintang menutupinya. Di ujung ruang makan terdapat sebuah kolam kecil dengan kayu sebagai tempat duduk di pinggirnya. Ingin menghadirkan rumah dengan nuansa sederhana dan dekat dengan alam seperti hunian Eko. Semoga dapat menginspirasi Anda. (Domek, RJI.com)

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain