Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Tata Regulasi Pemetaan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sleman

    Tata Regulasi RTRW Sleman
    Tata Regulasi RTRW Sleman

    Perkembangan Kabupaten Sleman kental terasa dipengaruhi oleh pertambahan penduduk sebagai akibat daya tarik Sleman sebagai pusat pemerintahan, perekonomian, pendidikan, rekreasi/pariwisata dan sejenisnya. Daya tarik tersebut dianggap memberikan peluang yang lebih besar bagi perkembangan kehidupan. Salah satu dampak yang timbul dari perkembangan kehidupan tersebut adalah terjadinya perubahan fisik, khususnya penggunaan lahan, sosial dan ekonomi, sebagai jawaban atas tuntutan kebutuhan permukiman, sarana dan prasarana usaha/perekonomian, transportasi, telekomunikasi, utilitas kota, dan prasarana lainnya yang mendukung kehidupan. Tuntutan perkembangan tersebut tentu saja harus diimbangi dengan tetap tersedianya ruang terbuka hijau yang memadai.

    Tingginya tuntutan dan intensitas perkembangan ekonomi, pendidikan dan perumahan menjadikan Sleman sebagai daerah aglomerasi perkotaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Tanpa pengaturan ruang yang sistematis perubahan tersebut akan memunculkan konflik antar kepentingan. Untuk itu Pemerintah Kabupaten Sleman, telah membuat Rencana Tata Ruang Wilayah guna mengatur pertumbuhan penggunaan lahan. Dalam usaha mengatur tata ruang, Pemerintah Kabupaten Sleman telah menerbitkan Peraturan Daerah Kabupaten Sleman No 12 Tahun 2012, tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Sleman tahun 2011 – 2031. “ Perda RTRW berlaku dalam jangka waktu 20 tahun, namun dalam kurun waktu setiap 5 tahun akan diadakan evaluasi”, terang Dona Saputra Ginting, Ka Sub Bidang Tata Ruang Perkotaan, Bappeda Kabupaten Sleman. Penyusunan RTRW Kabupaten Sleman adalah mewujudkan ruang wilayah kabupaten yang memenuhi kebutuhan pembangunan dengan senantiasa berwawasan lingkungan, efisien dalam alokasi investasi, bersinergi dan dapat dijadikan acuan dalam penyusunan program pembangunan untuk tercapainya kesejahteraan masyarakat.

    Peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) ini akan sangat berfungsi sebagai grand design pembangunan wilayah Sleman. Dengan RTRW tersebut masyarakat dapat mengetahui daerah-daerah mana saja yang dapat digunakan sebagai kawasan pemukiman, industri, pertanian dan lain sebagainya. RTRW tersebut masih bersifat makro atau sangat luas. Seperti diutarakan Dona lebih lanjut, perbandingan RTRW yang masih 1 : 50.000, tentu masih sangat makro. “ RTRW ini masih sangat luas cakupannya, skalanya masih 1:50.000, jadi dalam 1 centimeter itu dalam kenyataannya mencakup 500 meter. Tentu ini sangat luas, maka seharusnya masih ada Rencana Dasar Tata Ruang (RDTR) yang mengatur pengendalian tanah secara lebih detail”, jelasnya. Diakui Ka Sub Bidang Tata Ruang Perkotaan BAPPEDA Sleman, untuk saat ini RDTR Kabupaten Sleman masih dalam tahap penggodokan dan akan segera diPerda-kan. Sehingga saat ini perencanaan pengembangan daerah masih banyak bertumpu pada RTRW. “Selama ini RDTR masih sebatas kebijakan, maka jika ada permasalahan dengan hasil RTRW yang tidak sesuai dengan analisis RDTR maka kami ( BAPPEDA-Red) akan menyerahkan ke aspek teknis lainnya, seperti Dinas Lingkungan Hidup, Bidang SosBud, Bidang Penguasaan Lahan, dan Bidang Ekonomi untuk meninjau lebih lanjut apakah lokasi tersebut boleh digunakan sebagai pemukiman atau tidak”, terang Dona.

    Dalam dunia perumahan maupun perorangan peran RTRW dan RDTR tersebut akan sangat berperan dalam hal pemanfaatan tanah. Pembangunan rumah skala perorangan maupun kelompok (developer) sebaiknya disesuaikan dengan RTRW dan RDTR daerah yang ingin di bangun. Hal ini akan berpengaruh pada proses perijinan yang berlaku. Jika tanah tersebut peruntukannya sebagai daerah resapan dan pertanian, tentu saja perijinan tersebut tidak akan keluar sebagai kawasan permukiman. Adapun Kabupaten Sleman terbagi menjadi 4 wilayah, yaitu:

    1. Wilayah Utara
    Dimulai dari jalan yang menghubungkan kota Tempel, Pakem, dan Cangkringan (ringbelt), dari lereng selatan sampai dengan puncak Gunung Merapi. Wilayah ini merupakan sumber daya air dan ekowisata yang berorientasi pada aktivitas Gunung Merapi dan ekosistemnya. Bagian utara wilayah Kabupaten Sleman, bila dilihat dari faktor tanah, curah hujan serta kelerengan lahan cocok untuk kawasan resapan air. Hutan yang berada di sekitar Gunung Merapi penting keberadaannya untuk memenuhi kondisi hutan nasional. Hutan ini telah ditetapkan sebagai kawasan hutan lindung dengan nama Taman Nasional Gunung Merapi. Penetapan ini telah membuat pemanfaatan kawasan yang tidak hanya berada di Kabupaten Sleman, tetapi juga Kabupaten Boyolali dan Kabupaten Magelang menjadi sangat ketat dan terutama hanya untuk Hutan Lindung. Kawasan yang berada di bawahnya diperbolehkan untuk menjadi kawasan budidaya yang sesuai dengan kondisi lahan, yaitu pertanian. Dengan demikian, pemanfaatan lahan tidak sampai merusak bentang alam yang ada. Perubahan guna lahan secara terbatas untuk pariwisata, industri maupun permukiman diperbolehkan untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah kawasan Sleman utara ini.

    2. Wilayah Timur
    Meliputi Kecamatan Prambanan, sebagian Kecamatan Kalasan, dan Kecamatan Berbah. Wilayah ini merupakan tempat peninggalan purbakala (candi) yang merupakan pusat wisata budaya, daerah lahan kering, serta sumber bahan batu putih. Situs-situs yang berupa candi ada yang sudah tercatat oleh BP3 (Badan Pelestarian Peninggalan Purbakala) dan dalam pemanfaatan untuk tujuan wisata, yaitu Kompleks Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko namun sebagian besar belum dikembangkan. Penetapan Kawasan Pengembangan ini terutama untuk memastikan konservasi terhadap situs-situs ini. Kegiatan industri pengolahan masih diperbolehkan selama tidak mengganggu keberadaan kawasan budaya sehingga yang perlu dilakukan adalah mendata secara lengkap peninggalan berupa candi dan menetapkan gambar pemetaan (delineasi) serta tindakan untuk memungkinkan orang dapat melakukan apresiasi terhadap candi-candi tersebut. Perubahan guna lahan secara terbatas untuk pariwisata, industri maupun permukiman diperbolehkan untuk tetap mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah kawasan ini.

    3. Wilayah Selatan
    Yaitu Aglomerasi Perkotaan Yogyakarta (APY) yang meliputi Kecamatan Mlati, Sleman, Ngaglik, Ngemplak, Depok, dan Gamping. Wilayah ini merupakan pusat pendidikan, perdagangan dan jasa. Kawasan pengembangan selatan adalah area yang sebagian besar perkotaan dengan aktivitas ekonomi yang dominan pada sektor tersier. Sektor ini merupakan penyumbang terbesar untuk PDRB Kabupaten Sleman secara keseluruhan.

    4. Wilayah Barat
    Meliputi Kecamatan Godean, Minggir, Seyegan, dan Moyudan, merupakan daerah pertanian lahan basah yang tersedia cukup air dan sumber bahan baku kegiatan industri kerajinan mendong, bambu, serta gerabah. Kawasan pengembangan barat merupakan kawasan yang basis pengembangan ekonomi adalah pertanian serta industri pengolahan yang material oriented.

    RENCANA PENGEMBANGAN KAWASAN
    1. Zona Pengembangan Kawasan Utara
    - Karakteristik Khusus
    Merupakan kawasan hutan lindung yang ditetapkan dalam Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), resapan air serta potensi rawan bencana Gunung Merapi. Bagian selatan berbatasan dengan Kawasan APY.
    - Cakupan
    Kecamatan Cangkringan, Turi, Pakem, sebagian Ngaglik, sebagian Ngemplak, Sleman, dan Tempel.
    - Ketentuan Pemanfaatan
    Kawasan hutan lindung, Kawasan pertanian lahan kering, Kawasan pertambangan pasir secara terbatas kawasan permukiman pedesaan. Kepadatan penduduk diarahkan untuk rendah di kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan lindung. Kepadatan sedang untuk kawasan yang ditetapkan sebagai sub pusat pengembangan.

    2. Zona Pengembangan Kawasan Timur
    - Karakteristik Khusus
    Banyak ditemukan situs peninggalan arkeologis terutama candi-candi.
    - Cakupan
    Kecamatan Prambanan, Kalasan, Berbah.
    - Ketentuan Pemanfaatan Lahan
    Kawasan lindung cagar budaya serta wisata budaya minat khusus. Kawasan permukiman pedesaan. Kepadatan penduduk diarahkan untuk rendah di kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan lindung serta kawasan pedesaan. Kepadatan sedang untuk kawasan yang ditetapkan sebagai sub pusat pengembangan. Bagian barat berbatasan dengan Kawasan APY.

    3. Zona Pengembangan Kawasan Selatan
    - Karakteristik Khusus
    Merupakan bagian dari Kawasan Perkotaan Yogyakarta yang berkembang sebagai kawasan budidaya dan pusat berbagai kegiatan.
    - Cakupan
    Kecamatan Depok, beberapa bagian Kecamatan Gamping, Godean, Mlati, Ngaglik dan Ngemplak.
    - Ketentuan Pemanfaatan Lahan
    Kawasan permukiman perkotaan. Kepadatan penduduk diarahkan untuk tinggi.

    4. Zona Pengembangan Kawasan Barat
    - Karakteristik Khusus
    Kawasan pertanian dan industri terutama Industri Kerajinan Rumah Tangga (IKRT). Bagian timur berbatasan dengan Kawasan APY
    - Cakupan
    Kecamatan Moyudan, Minggir, Seyegan, beberapa bagian Kecamatan Mlati, dan Godean
    - Ketentuan pemanfaatan Lahan
    Kawasan pertanian dengan desa wisata untuk mendukung budidaya pertanian yang lebih berdaya guna. Kawasan peruntukan industri terutama IKRT. Kawasan permukiman pedesaan. Kepadatan penduduk diarahkan untuk rendah di kawasan yang ditetapkan sebagai kawasan lindung. Kepadatan sedang untuk kawasan yang ditetapkan sebagai sub pusat pengembangan.

    Untuk mendapatkan informasi tentang RTRW maupun RDTR suatu lokasi masyarakat dapat datang langsung ke bagian informasi Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah (DPPD) Kabupaten Sleman yang berada di Jl. KRT Pringgodiningrat 5 Beran Tridadi Sleman, atau bisa juga masyarakat langsung ke kantor Bappeda Kabupaten Sleman di Jl. Parasamya Beran Tridadi Sleman atau kunjungi website : bappeda.slemankab.go.id , email: bappeda@slemankab.go.id atau email ke dppd@slemankab.go.id. Untuk saat ini peta ruang yang dapat diakses melalui internet baru kecamatan Depok, Mlati, Ngaglik, dan Gamping dengan mengakses website www.slim.slemankab.go.id. Guna mengetahui rencana tata ruang daerah yang diinginkan masyarakat harus mengetahui koordinat lokasi bidang tanah yang dimaksud. Greg-Red

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
    (BAPPEDA) Kabupaten Sleman:

    Jl. Parasamya, Beran, Tridadi, Sleman, Yogyakarta 55511
    Phone/Fax : (0274) 868800
    http://bappeda.slemankab.go.id
    bappeda@slemankab.go.id

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain