Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Tembi Rumah Budaya Bale Inap Bersejarah

    tembi rumah budaya
    rumah budaya tembi
    rumah joglo jogja

    Penginapan yang memiliki fasilitas budaya dan mengedukasi para tamunya tentang kebudayaan khususnya budaya Jawa mungkin jarang kita temui. Sebuah penginapan yang sangat menarik dan unik bukan? Tembi Rumah Budaya adalah salah satu penginapan yang memiliki fasilitas tersebut. Fasilitas budaya berupa museum, galeri seni, dan pendopo yang sarat akan kegiatan seni. Menginap sembari menambah pengetahuan dan memanjakan batin kita akan sebuah tontonan yang adi luhung.

    Pada awal mulanya, Tembi Rumah Budaya bernama Lembaga Studi Jawa (LSJ) yang berdiri pada tahun 1995. Lembaga non-profit ini mempunyai visi dan misi untuk mempublikasikan dan memperkenalkan kebudayaan Jawa meliputi adat istiadat, literatur, dan kesenian kepada khalayak umum. Pada periode ini, museum dan pendopo menjadi bangunan utama. Menginjak tahun 2000, Lembaga Studi Jawa berubah nama menjadi Rumah Budaya Tembi (RBT) karena terletak di desa Tembi, Sewon, Bantul. Penambahan ruangan pun dilakukan di sisi barat yang sekarang menjadi galeri seni atau ruang pameran. Tahun 2006 terjadi gempa besar berkekuatan 5,9 skala Richter yang meluluhlantakkan wilayah Jogjakarta dan sekitarnya.

    Tak ayal, Rumah Budaya Tembi juga terkena dampaknya. Perbaikan pun dilakukan pada museum, galeri dan pendopo serta terbesit ide untuk melakukan konservasi rumah Jawa.” Pasca gempa tersebut rumah Jawa khususnya limasan sudah langka karena pada ambruk terkena gempa dan muncul ide untuk menyelamatkan rumah asli Jawa dan mengenalkannya kepada generasi berikutnya. Ini lho tempat tinggal simbah-simbahmu dulu,“ terang Sugihandono Kurniawan, Marketing Manager Tembi Rumah Budaya. “Pembangunan tersebut dilakukan di sisi timur pendopo yang dulunya berupa sawah dan diuruk menggunakan sisa puing-puing bangunan gempa,” tambah Handono, panggilan akrab pria separuh baya ini. Perburuan rumah-rumah lawas Jawa pun dilakukan di sekitar Jogja seperti di Klaten dan Wonosari, bahkan ada satu rumah yang didatangkan dari Sumedang. Dari perburuan tersebut didapatkan tujuh rumah dan satu kandang sapi.

    Medio tahun 2007-2008 dilakukan proses pembangunan konservasi rumah-rumah Jawa tersebut. Pembangunan kembali rumah-rumah tersebut memakan waktu yang cukup lama karena harus melakukan proses bongkar pasang. “Pembangunan rumah tempelan atau rumah pindahan asli lebih susah karena kita harus bongkar pasang, mirip Lego jadinya. Setiap kayu harus diberi nomor setiap lembarnya untuk menghindari salah pasang,” ujar Handono. Pembangunan tersebut dilakukan semirip mungkin seperti awal rumah tersebut didirikan hanya terdapat sedikit penggantian pada bagian genteng yang mulai usang dan penambahan ubin pada bagian lantai karena rumah aslinya beralaskan tanah. Pada tahun 2009, perubahan nama pun terjadi lagi. Rumah Budaya Tembi berubah nama menjadi Tembi Rumah Budaya (TRB). “Nama Tembi tetap dipertahankan bukan hanya karena terletak di Desa Tembi tapi lebih ingin mengangkat Tembi sebagai daerah budaya atau rumah budaya,” papar Handono. Nama “Tembi” juga digunakan untuk kantor yayasan sekaligus galeri seni yang berada di Gandaria, Kebayoran, Jakarta yang juga merupakan bagian dari Tembi, Jogjakarta.

    Seiring berjalannya waktu, penambahan rumah limasan juga dilakukan sehingga total menjadi sembilan rumah. Rumah-rumah tersebut adalah Badegan, Wuryantoro, Adikarto, Ngadirodjo, Ganjuran, Polaman, Kriyan Lor, Kriyan Kidul, dan Morangan. Penamaan rumah-rumah tersebut berdasarkan nama-nama daerah yang sempat didiami atau daerah-daerah yang memiliki ikatan khusus dengan pemiliknya. Hal ini dapat diketahui dari sebuah papan kecil yang terpampang di sebelah pintu masuk setiap rumah atau bale inap di Tembi Rumah Budaya yang berisi tentang keterangan asal-usul rumah dan riwayat penamaannya, misalnya saja Rumah Badegan.

    Rumah Badegan merupakan rumah panggung tradisional Sunda yang dibuat pada tahun 1954 yang diperoleh di daerah Sumedang, Jabar pada tahun 2006. Badegan adalah nama desa di Kab. Bantul yang merupakan tempat domisili Bpk. F.W. Santopratiknya sekitar tahun 1958 setelah pindah dari Pulo Segaran, Jogja. Rumah Badegan ini sangat unik, selain berbentuk rumah panggung, rumah ini berdiri di atas sebuah kolam sehingga untuk menuju ke sana kita akan meniti sebuah jembatan kayu sebagai penghubungnya. Semua bagian di rumah ini terbuat dari kayu mulai dinding hingga lantai yang mengalasinya. Sebuah bangku kayu panjang terletak di teras depan yang juga berbentuk panggung sehingga kita harus mendaki beberapa anak tangga. Memasuki Rumah Badegan kita akan mendapati ruang yang luas dan lapang. Sebuah tempat tidur berukuran double bed terletak di sisi kiri pintu masuk diapit oleh dua single bed yang berjejer rapi dan di belakangnya terdapat beberapa jendela dengan view pemandangan taman di samping rumah. Lampu spot kuning meremang sebagai penerangan di sudut-sudut kamar. Sebuah tirai putih menyelubungi pintu masuk untuk menuju kamar mandi yang berdinding batu bata ekspos dengan beberapa pot tanaman menambah nuansa segar dan natural.

    Di sebelah Rumah Badegan terdapat Rumah Adikarto dan Wuryantoro. Rumah Adikarto merupakan rumah limasan yang diperoleh dari Ngadirejo, Tepus, Gunung Kidul. Adikarto merupakan nama daerah Adikarto (Wates), Kulon Progo tempat domisili Bpk. F.W. Santopratiknya tahun 1931-1942 dan 1949-1955 sedangkan Rumah Wuryantoro merupakan rumah limasan yang didirikan tahun 1960 dan diperoleh dari Ngadirejo, Tepus, Gunung Kidul. Wuryantoro adalah nama suatu daerah di Wonogiri, Jateng tempat domisili Bpk. F.W Santopratiknya, ayahanda Bpk. P. Swantoro pada medio 1946-1948. Rumah ini memiliki pintu dengan bingkai atap yang cukup rendah sehingga disarankan bagi Anda yang mempunyai postur tubuh tinggi agak merunduk ketika memasukinya jika tidak ingin kepala Anda terantuk atap pintu. Lukisan pemandangan hijaunya sawah dan bunga bakung menghiasi angin-angin pada bingkai atap pintu. Sebuah kursi terdapat di bagian teras yang berlantaikan ubin berwarna hitam. Sebuah tempat tidur berukir dengan keempat pilar di sisinya yang menopang penutup kayu berukiran etnik dengan hiasan tirai putih yang menggelayut menimbulkan kesan elegan dan klasik terdapat di ujung ruangan. Meja kayu bulat dengan dua buah kursi bersender yang terbuat dari anyaman rotan terletak di dekat jendela yang berteralis kayu yang menyuguhkan pemandangan taman depan rumah. Sebuah lemari kayu antik dengan daun pintu berguratkan tatahan gaya klasik digunakan sebagai tempat menaruh pakaian terletak di sudut ruang berdekatan dengan jendela. Kamar mandi dengan dinding bersemen kasar serta batu-batu kali yang berserak menimbulkan nuansa berada di alam bebas. Beberapa taman dengan yang ditata cantik serta pohon rindang yang menaunginya menjadi pemisah atau penyekat antar rumah sehingga privacy tamu tetap terjaga. Uniknya, setiap tanaman diberi keterangan nama dan artinya sehingga juga mengedukasi atau menambah pengetahuan para tamu, misalnya saja pohon jambu Dersana yang terdapat di depan Rumah Wuryantoro. Dersana bermakna darsana/dresana yang berarti contoh/teladan- yang juga berarti sindudarsana/ terhormat. Unik bukan?

    Dari Rumah Wuryantoro kita melangkahkan kaki ke Rumah Polaman, Ganjuran, dan Ngadirejo yang berada dalam satu kompleks. Untuk menuju ketiga rumah tersebut kita akan melewati hamparan rumput yang tergelar dengan taman-taman mungil di kanan-kirinya yang akan menyegarkan mata kita. Sebuah bangku kayu menunggu kita di ujung sana dengan jalan setapak batu kali yang membelah rerumputan. Sangkar burung perkutut tergantung di tiang bambu di depan rumah. Itulah gambaran depan Rumah Polaman. Melangkah lebih maju mata kita akan digiring kepada sepasang pot bambu air yang terdapat di kanan kiri pintu masuk. Bagian dalam rumah ini sangat luas dan lapang. Satu set meja tamu terletak di depan tempat tidur berukuran double bed dengan hiasan tirai putih yang menyelubunginya. Sebuah peti kuno dimanfaatkan sebagai meja untuk menaruh peralatan minum. Tempat tidur berukuran single bed terletak di sisi timur pintu masuk. Pada ujung ruangan terdapat sebuah pintu bilamana dibuka terhubung langsung ke kolam renang yang terletak tepat di bagian belakang Rumah Polaman. Kamar mandi pada rumah ini berkonsep alam dengan shower serta batuan kali pada dindingnya. Rumah Polaman merupakan rumah limasan yang dibuat tahun 1948 yang diperoleh dari Cawas, Kab. Klaten, Jateng. Polaman adalah daerah di Sedayu, Bantul tempat domisili F.W. Santopratiknya pada tahun 1929-1931. Di sebelah rumah Polaman terdapat Rumah Ngadirojo yang letaknya berdampingan. Rumah Ngadirojo adalah sebuah rumah limasan yang didirikan pada tahun 1946 yang juga diperoleh dari Cawas, Klaten, Jateng. Ngadirojo merupakan nama daerah di Kab. Wonogiri, Jateng yang merupakan tempat domisili F.W. Santopratiknya medio tahun 1944-1946.

    Selain rumah-rumah di atas masih terdapat Rumah Ganjuran, Rumah Morangan, serta Rumah Kriyan Lor dan Kriyan Kidul. Rumah Ganjuran memiliki interior yang hampir sama dengan Rumah Polaman. Rumah Morangan merupakan rumah modifikasi dari tiga rumah yang dijadikan satu. Dari kesemuanya, hanya Rumah Morangan yang terdiri dari dua lantai. Pada lantai satu kita akan mendapati sebuah meja berbentuk kotak dengan empat kursi yang mengitarinya. Di sisi barat ruangan terdapat dua bilik/senthong yang dimanfaatkan sebagai kamar mandi dan senthong lainnya sebagai kamar tidur. Memasuki senthong pertama kita akan disambut dengan tampilan batu bata ekspos pada bagian dindingnya. Melangkah lebih dalam lagi, dinding batu bata ekspos itu digantikan dengan dinding berkeramik putih yang serasi dengan bathtub yang juga berwarna putih bersih. Sebuah tempat tidur berukuran double bed terletak di senthong berikutnya. Lukisan yang menggambarkan kesibukan penduduk desa tergantung manis di dinding kayu belakang tempat tidur. Pintu lipat kaca dengan tirai putih jika dibuka akan menghadirkan pemandangan sawah pada bagian belakang rumah. Tangga kayu berputar menghubungkan antara lantai satu dengan lantai dua. Pada lantai dua ini hanya terdapat satu kamar yang berisi tempat tidur berkelambu putih serta sebuah meja rias dengan cermin berbingkai kayu berukiran. Sama halnya dengan lantai satu, pintu di lantai dua ini juga menggunakan pintu lipat di bagian belakang dan terdapat sebuah selajar yang memanjang ke samping sehingga kita dapat bercengkrama sembari menyaksikan hamparan sawah dan semilir angin yang menerpa.

    Dari Rumah Morangan kita beranjak ke utara bagian paling belakang dari Tembi Rumah Budaya untuk menuju ke Rumah Kriyan Lor dan Kriyan Kidul. Kedua rumah ini terletak dalam satu kompleks yang saling berhadap-hadapan. Uniknya kompleks Kriyan ini di bagian depannya terdapat sebuah gapura bertingkat menyerupai sebuah candi yang terbuat dari batu bata ekspos yang menyambung menjadi satu dengan pagar yang mengelilingi kompleks Kriyan. Kedua rumah itu dipisahkan oleh halaman yang ditanami pohon sawo dengan hamparan rumput di bawahnya. Di depan kompleks Kriyan terdapat sebuah gazebo berbentuk pendopo dan di sebelah utaranya terdapat sebuah panggung amphiteater dengan tempat duduk berundak dengan latar belakang gapura bertingkat dengan hamparan sawah di belakangnya.

    Secara garis besar, Tembi Rumah Budaya dibagi menjadi dua sisi yang berbeda, yaitu sisi barat dan sisi timur. Sisi barat merupakan kompleks budaya sedangkan sisi timur merupakan tempat penginapan. Sisi barat terdiri dari ruang dokumentasi meliputi ruang Madyasura, Purworedjo, dan Wonogiri, sedangkan untuk koleksi benda kuno, naskah dan buku lama di simpan di ruang perpustakaan (Mertayudan). Koleksi museum Tembi berupa senjata-senjata seperti keris, tombak dan pedang. Berbagai macam motif batik, alat permainan tradisional, dan beberapa naskah kuno seperti Babad Tanah Jawi, Babad Mangir,dll. Sebuah pendopo berdiri megah di bagian depan kompleks budaya ini yang biasa digunakan untuk latihan maupun pertunjukkan kesenian seperti tari, gamelan, ketoprak, dll. Ganang-Red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain