Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Wujud Cita-cita Ratminto Berlanggam Arsitektur Jawa

    Dr. Ratminto
    Rumah Arsitektur Jawa
    Ruang Rumah Arsitektur Jawa
    Dapur Arsitektur Jawa
    Arsitektur Jawa Modern

    Memiliki rumah atau hunian yang nyaman tentu saja merupakan salah satu hal yang sangat di dambakan oleh setiap orang. Hunian yang nyaman akan menjadi tempat yang menyenangkan untuk berkumpul dengan keluarga. Tentu saja, untuk memiliki sebuah rumah yang nyaman, Anda memang harus memperhatikan beberapa hal sebelum Anda memutuskan untuk memulai pembangunan. Sebagaimana kita ketahui, ide pembangunan rumah dewasa ini semakin kreatif saja. Banyak ide-ide bangunan yang baru muncul ke permukaan menyajikan ide yang unik dan nampak menarik. Rumah dengan aplikasi dinding menggunakan bata ekspos memang memberikan kesan rumah pedesaan tapi tetap elegan dan keren. Bata ekspos menjadi tren saat ini karena fleksibel dipadukan dengan gaya lain seperti skandinavian, rustic, maupun industrial. Rumah bata ekspos memberikan kesan hangat dan informal, serta kontras dengan kebanyakan kehidupan profesional di kota-kota besar. Setelah seharian berkutat di kantor dengan bangunan yang kaku, pulang ke rumah dengan gaya ekspos yang berbeda 180 derajat dari kantor membuat kita benar-benar terlepas dari masalah-masalah profesional yang cukup menyita pikiran.

    Hal ini yang menjadi alasan pasangan suami istri Ratminto dan Atik Septi Winarsih untuk membangun hunian yang berlokasi di daerah Karangjati, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Daerah yang belum begitu ramai dengan hiruk-pikuk dan cenderung tenang menjadi alasan keluarga tersebut memutuskan membangun rumah di sana. “Dulunya kami tinggal di daerah Janti yang notabene adalah kawasan yang cukup padat. Kalau ada saudara yang datang berkunjung saja sudah susah mau parkir kendaraannya,” cerita Ratminto.

    Nampak konsep bangunan dengan arsitektur Jawa klasik begitu kental pada fasad rumah yang berdiri di atas lahan seluas ± 1000 m² tersebut. Pada halaman depan rumah terdapat sebuah Pendopo dengan bangunan Joglo Polosan lawas. Hal tersebut merupakan salah satu cita-cita dari pria yang bekerja sebagai dosen pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Gadjah Mada itu. Bangunan joglo pada area depan rumah Ratminto tersebut berasal dari joglo lawasan yang direstorasi ulang sehingga tampilannya kembali menarik. Suasana Pendopo yang santai ditambah dengan nuansa alami di sekitar rumah menjadikan tempat ini sering digunakan untuk sekedar bersantai maupun sebagai tempat berkumpul bersama sanak saudara. ”Dari dulu memang saya punya cita-cita kalau bangun rumah ingin yang di depannya terdapat joglo. Karena pada dasarnya saya memang suka kumpul dan silaturahmi dengan teman dan keluarga. Kalau ada joglonya kan jadi enak kalau dipakai untuk ngobrol,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Direktur SDM Universitas Gajah Mada tersebut.

    Bangunan utama dengan konsep rumah Jawa yang didominasi pengaplikasian batu bata ekspos pada dinding dan beberapa pilarnya memberikan kesan hangat hunian tersebut. Untuk desain bangunannya, Ratminto menggunakan jasa arsitek yakni Tim Rumah Jawa Jogja dengan ide awal dari dirinya yang kemudian diterjemahkan dengan baik oleh sang arsitek sekaligus kontraktornya ke dalam sebuah bentuk rumah saat ini. Bata ekspos dipilih Ratminto karena alasan beberapa keuntungan yang didapatkan. Diantara keuntungan penggunaan dinding bata ekspos adalah memiliki kesan unik dan klasik, bisa memberikan nuansa desa atau sederhana, biaya relatif lebih murah, perawatan yang mudah dan sangat baik jika dikombinasikan dengan jenis furnitur klasik. Biaya yang relatif murah juga menjadi pertimbangannya menerapkan konsep desain menggunakan bata ekspos karena aplikasinya tanpa plester, hal itu tentu akan mengurangi budget anggaran yang dikeluarkan. Selain itu dinding akan lebih kokoh jika menggunakan bata ekspos karena sifat bata ekspos yang memiliki kepadatan tinggi sehingga tidak mudah hancur. Hal itu diperoleh dari bahan baku dalam pembuatan bata ekspos yang merupakan jenis bahan baku tanah liat khusus yang dapat menghasilkan bata ekspos yang kokoh saat digunakan.

    Ciri khas arsitektur rumah Jawa yaitu permukaan rumah yang yang lebih tinggi daripada permukaan tanah juga dipertahankan oleh Ratminto. Setelah melalui undakan, nampak sebuah teras sederhana dilengkapi dengan table set berbahan kayu bergaya klasik. Nuansa bata ekspos dan lantai berwarna kemerahan yang berpadu dengan material kayu dari table set memberikan kesan hangat pada area teras tersebut. Pintu utama juga mempunyai desain klasik juga berasal dari bekas copotan rumah lama. Pintu berbahan kayu dengan desain Jawa klasik semakin menambah kental nuansa yang diusung.

    Memasuki ruang utama, aplikasi batu bata ekspos masih mendominasi hampir di seluruh dindingnya. Kesederhanaan khas Jawa begitu terasa dengan tidak adanya furnitur seperti meja dan kursi atau pun sofa di area ruang keluarga. “Saya memang sengaja tidak menaruh sofa di sini (ruang keluarga –red) karena ingin menghadirkan suasana yang sederhana dan juga santai. Selain itu dengan tidak menaruh sofa menjadikan ruang keluarga terasa lebih luas, karena bangunan limasan sendiri pasti banyak pilarnya. Kalau ditambah dengan furnitur lagi pasti akan terasa sempit,” kata Ratminto. Hanya nampak cabinet kayu dengan ukuran yang tidak terlalu besar dengan televisi di atasnya, lengkap dengan perangkat home theater pada sisi-sisinya. Untuk menikmati waktu berkumpul bersama keluarga, Ratminto lebih memilih bersantai di lantai dengan diberi alas berupa karpet hangat.

    Pada salah satu sudut ruangan tengah terdapat sebuah dapur bersih lengkap dengan kitchen set dan cabinet bergaya minimalis. “Untuk objek-objek vital seperti dapur dan kamar mandi memang sengaja didesain lebih modern, karena untuk lebih mengedepankan sisi fungsionalnya saja. Yang penting sudah dapat nuansa Jawanya, kan repot juga kalau harus memakai dapur tradisional atau kamar mandi jaman dahulu,” canda ayah dari dua orang putri tersebut. Untuk memanfaatkan sudut lain di ruang tengah yang masih kosong, Ratminto menggunakan area tersebut sebagai tempat untuk beribadah.

    Di sisi lain ruangan tengah nampak sebuah pintu Gebyok klasik khas rumah Jawa pada jaman dahulu berbahan kayu yang lagi-lagi didapatkan Ratminto dari bekas bongkaran rumah tua. Pintu tersebut langsung menuju ke kamar utama sebagai tempat istirahatnya bersama istri. Pada ruang kamar tersebut tidak lagi ditemui aplikasi batu bata ekspos pada dindingnya dan terkesan lebih bergaya minimalis modern. Nampak sebuah spring bed king size pada area utama kamar tidur tersebut. Pada sisi kamar tidur juga terdapat sebuah almari pakaian berukuran cukup besar lengkap dengan cermin. Pada sudut kamar terdapat sebuah lorong langsung menuju kamar mandi.

    Bergeser menuju kamar anak, konsep pada kamar tersebut terbilang cukup unik. Untuk mengatasi ruangan yang tidak begitu luas, tempat tidur dibuat dengan konsep bertingkat. Tempat tidur dengan rangka kayu dibuat menggantung di atas sehingga ruang di bawah tempat tidur dapat dimanfaatkan sebagai ruang belajar. Tangga untuk menuju ke tempat tidur berbahan kayu juga dibuat menempel pada dinding tembok sehingga tidak begitu memakan tempat. Ruang tidur dengan meja belajar minimalis yang bertingkat semakin memberikan kesan futuristik dan menginspirasi, sebagai solusi atas keterbatasan ruang yang ada. Konsep kamar yang senada juga diaplikasikan pada kamar tidur anak kedua. Yang membedakan dari kedua kamar tersebut hanyalah nuansa warna dan aplikasi pernak-pernik di dalamnya saja. “Kalau untuk desain kamar anak-anak saya itu memang berasal dari mereka sendiri. Anak-anak ingin memiliki desain kamar yang lain daripada yang lain namun tetap fungsional,” beber Ratminto.

    Menuju ke area belakang rumah terdapat sebuah dapur utama yang lebih besar dengan banyak jendela kaca, sehingga sirkulasi udara dan cahaya begitu terjamin di ruangan ini. Halaman yang cukup luas juga nampak pada area belakang rumah tersebut. “Biasanya kalau ada keluarga yang datang, kami sering barbeque party di sini. Tapi saat hari-hari biasa ya hanya dipakai untuk parkir kendaraan saja,” menutup perbincangan. Farhan-red

    PARTNER
    Amata Desain    ABOV - Architecture.Branding.Visioning    Archira - Architecture & Interior    Yuliana Pertamanan    Lawangarep Studio    Puri Desain