Bersahabatnya Alam Dalam Hunian Wiranata
Hunian milik Wiranata yang terletak di Dusun Gambretan, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, Jogjakarta dari luar tampak seperti bangunan yang tersembunyi. Dari jalan masuk menuju kediaman lulusan Sarjana Biologi dikelilingi dengan pagar batu kali dengan tinggi lebih dari 3 meter. Halaman yang lapang dengan balutan paving blok dengan rerumputan hijau menampilkan kesan rumah naturalis sangat kuat dalam hunian ini. Rumah yang dibangun pada tahun 1996 ini mengusung konsep warna cokelat dan hijau di dalamnya. “Saya memang suka warna cokelat dan hijau. Kedua warna tersebut lalu saya terapkan ke dalam rumah saya ini”, terang Wiranata.
Mengenai pemilihan lokasi, Wiranata sengaja memilih lahan yang tidak produktif agar tidak mengganggu keseimbangan alam dan lingkungan. Areal persawahan dan kebun milik warga khas pedesaan yang mendominasi keadaan lingkungan sekitar mempengaruhi pembangunan rumah milik Wiranata. Nuansa alam pedesaan khas pegunungan dengan batuan gunung diaplikasikan ke dalam hunian yang dirancang oleh tim arsitek dari Gurat Ungu Jogjakarta ini. Lahan yang digunakan untuk membangun hunian milik ketua Lembaga Pengkajian dan Pencegahan Bunuh Diri (LPPBD) Kunang2-Al Chodir ini merupakan tanah padas. Dengan luas tanah 800 m² dan luas bangunan 600 m² rumah ini menghadirkan landscape hunian pedesaan yang erat dengan nuansa alami.
Konsep hunian yang ditempati oleh tiga orang ini bersahabat dengan alam. Konsep tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai sudut rumah yang memilki 6 kamar tidur ini. Wiranata yang merupakan lulusan dari Magister Bioteknologi UGM sangat detail dalam membangun tempat tinggalnya. Selain dari warna dan desain bangunan, peran serta pemilik juga tampak dalam pemilihan bahan material pembangunan. “Untuk lantai saya sengaja menggunakan batu. Hal ini untuk mendukung konsep bersahabat dengan alam. Selain itu, dengan menggunakan lantai dari batu, perawatannya juga mudah. Lantai saya ini jarang sekali disapu”, ungkap Wiranata. Konsep rumah terbuka dengan menggunakan banyak bukaan-bukaan besar dalam setiap ruang menimbulkan efek luas. “Dahulunya rumah ini saya konsep menjadi rumah murah. Dengan material yang berasal dari lokal. Karena kecintaan saya terhadap daun hijau, maka warna hijau dan cokelat sangat kental dalam rumah ini”. tambah Wiranata yang merupakan seorang pembaca aktif.
Secara fasad, bangunan yang kental dengan batu ini terbagi menjadi dua bangunan utama yaitu bangunan induk berada di sisi utara, dan bangunan pendukung berada di sebelah selatan. Karakter tegas dan idealis pemilik rumah diimplementasikan ke dalam tiang-tiang penopang bangunan dengan tinggi lebih dari tiga meter. Plafon-plafon yang menjulang tinggi memaksimalkan sirkulasi udara sehingga tidak perlu menggunakan kipas angin maupun penyejuk udara. Pada bagian langit-langit rumah digunakan kayu bengkirai sebagai penopang atap. Untuk tembok semuanya menggunakan batu bata ekspos. “Batu bata dilapisi dengan cat sebanyak 5 lapis untuk menjaga kondisi batu bata agar awet dan tidak terkena lumut”, jelas Wiranata.
Rumah ini terdiri atas 3 bangunan yang difungsikan secara terpisah. Bangunan pertama difungsikan sebagai ruang tamu. Ada 2 ruang tamu dalam bangunan ini. Fungsi ruang tamu disesuaikan dengan siapa yang berkunjung di rumah ini. Bagi tamu resmi dijamu pada ruang tamu sebelah timur. Di dalam ruang tamu formal ini terdiri dari meja dan kursi kayu warna hijau dengan tembok kaca sebagai latar belakangnya. Sedangkan untuk tamu yang non formal disediakan ruang tamu di teras bagian barat.
Bangunan induk memiliki kesan luas dan terbuka. Pintu utama dari bangunan induk ini memiliki tinggi lebih dari dua meter. Tinggi atap dari permukaan lantai pun menjulang setinggi lebih dari 6 meter, sehingga secara stuktur bangunan induk ini terlihat kokoh dan elegan. Rangka-rangka bangunan yang terbuat dari besi hanya diplester dengan semen dan dipadukan dengan batu bata ekpos sebagai temboknya. Di dalam bangunan induk ini terbagi menjadi 4 split level. Level terendah berada pada ruang keluarga sedangkan level tertinggi berada pada kamar tidur utama. Bangunan induk ini kental dengan ornamen batu dan nuansa kayu pada setiap ornamen penghias dindingnya. Pembagian ruangan pada bangunan induk terbagi menjadi ruang keluarga, ruang kerja, kamar tidur utama dan kamar mandi. Selain dari lantai yang terbuat dari batu, penggunaan material batu diaplikasikan pada sebuah meja kerja. Meja kerja sengaja dibuat menggunakan batu andesit dan dirancang paten (tidak dapat dipindah posisinya). “Meja batu ini memang saya yang meminta pada tim arsitek. Saya membuat desainnya lalu tim arsitek yang mengerjakannya”, ungkap Wiranata.
Ruang kerja yang terletak pada sisi timur dalam bangunan induk ini berada lebih tinggi posisinya dibandingkan dengan ruang keluarga. Untuk dapat mencapai ke ruang kerja kita harus melewati sebuah tangga batu. Di depan ruang kerja terdapat dua buah lemari kaca dengan rangka kayu. Di dalam lemari kaca tersebut tersimpan beberapa benda-benda koleksi pribadi seperti piring hias dan berbagai barang antik lainnya. Di atas lemari masing-masing terdapat sebuah patung singa. Meja kerja yang terbuat dari batu pada bagian atasnya menggunakan lembaran kaca sebagai alasnya. Di dalam meja batu tersebut terdapat sebuah hamparan pasir pantai lengkap dengan batu-batu pantai. Menurut pemilik, kedepannya meja kerja ini juga akan dibuat menjadi sebuah akuarium mini. Ruang kerja milik Wiranata Adi Sasmita ini dilengkapi dengan sebuah rak buku besar yang menyatu dengan tembok. Rangka rak buku terbuat dari batu bata yang sekaligus berfungsi sebagai dinding ruangan.
Ruang keluarga dalam rumah dirancang tanpa batas. Dari ruang ini kita dapat dengan leluasa melihat seluruh eksterior rumah. Sebuah meja kayu dengan sebuah kursi panjang dan dua buah kursi. Di depan meja dan kursi tersebut terdapat sebuah meja konsol untuk meletakkan TV beserta media hiburan lainnya. Pada sisi kanan meja konsol terdapat sebuah meja semen tempat untuk meletakkan benda hias berupa tumpukan mosaik kayu yang bentuknya menyerupai sebuah pohon cemara. Pada dinding-dinding dalam ruang keluarga dipasang beberapa buah ukiran kayu yang terbingkai dalam sebuah pigura dan sebuah lukisan ikan koi sebagai center of view. Untuk penerangan digunakan lampu gantung dan beberapa lampu spot di sudut-sudut ruangan.
Meninggalkan ruang kerja dan ruang keluarga kita akan menuju ke ruang tidur utama. Untuk sampai ke ruang tidur utama kita harus melewati sebuah lorong yang terletak di belakang ruang keluarga dan ruang kerja. Konsep ruang tidur tropis dipilih oleh Wiranata yang merupakan penggemar makanan berbahan dasar tanaman organik ini. Nuansa private room sangat kuat dalam kamar tidur ini. Kamar tidur ini tampak seperti sebuah ruangan tersembunyi. Dikelilingi dengan kain blacu, kamar tidur bercahaya lampu temaram ini nampak unik. Sebuah kamar tidur menggunakan rangka batu permanen yang diposisikan asimetris sehingga menghasilkan kesan artistik yang tinggi. Warna hijau daun tetap dipertahankan pada kamar tidur ini. Selain pada bed cover, nuansa hijau ditemukan pada meja konsol yang yang terdapat di sisi Selatan kamar tidur. Di atas kamar tidur dipasang sehelai kain blacu yang tinggi untuk melindungi dari kotoran binatang. Penggunaan kain blacu sebagai tirai jendela ini tidak hanya pada kamar tidur utama saja tetapi juga pada keseluruhan ruangan. Meninggalkan bangunan induk kita akan disuguhi dengan dua bangunan lainnya yaitu sebuah bangunan di Barat bangunan utama yang berfungsi sebagai dapur dan sebuah bangunan lainnya yang difungsikan sebagai kamar tidur bagi tamu maupun kerabat yang hendak menginap. Dika-Red

















































































