Mahakarya Filosofi Griya Ir. Ngatijan Suryo Sutiarso
Rumah itu praja (status). Rumah merupakan gambaran atau cerminan dari penghuninya. Semua kebutuhan penghuni dan kebutuhan ruang terwadahi, jadi jangan asal bikin tapi harus direncanakan betul dari awal. Kalau ngga cuma bongkar pasang, tambal sulam,” terang Ngatijan. Rumah memang mempunyai makna yang berbeda-beda sesuai keinginan si pemilik. Pemikiran dan idealisme pemilik sering dituangkan dan diwujudkan dalam setiap bentuk bangunan, ornamen, dan simbol.
Nampak sekilas, rumah bertingkat ini berfasad minimalis modern dengan sentuhan garis-garis yang tegas. Sebuah balkon berbentuk kotak dengan atap penutup bagian luar yang flat semakin menguatkan hal itu. Floral ornament yang memanjang dari atas ke bawah menghiasi dinding bagian luar. Dinding dengan sapuan warna orange yang dipadankan dengan batuan kali semakin tampil elegan dan mencuri perhatian mata. Pintu kayu dengan tambahan kaca akrilik yang berwarna-warni akan menyambut para tamu yang berkunjung ke rumah yang beralamat di Jl. Diponegoro 333, Depok, Bantul.
Melangkah masuk ke ruang tamu kita akan menjumpai nuansa yang berbeda sekali pada bagian luar rumah. Ruang tamu di hunian ini lebih bercita rasa klasik dengan penataan interior berupa kursi tamu berukir berwarna kuning gading ditambah lagi dengan hadirnya lampu gantung kristal yang menjuntai turun dengan kerlipnya menyinari ruang untuk menerima tamu atau kolega. Teralis bermotif daun menjadi pengaman pada bagian jendela dipadukan dengan tirai berwarna orange tampil mempermanis ruangan. “Konsep arsitektur rumah ini adalah gabungan. Kebanyakan klasik tapi juga dimasukkan unsur minimalis biar kesan modern juga tetap ada, misalnya di teras depan. Tapi secara umum adalah klasik ukir-ukiran,” terang Ngatijan.
Rumah ini terasa begitu luas dan lapang karena tidak terlalu banyak penggunaan sekat antar bagian ruang terutama di bagian ruang keluarga, ruang makan, dan dapur yang dibiarkan tanpa batas. Deretan sofa cantik dalam balutan warna orange dapat ditemukan di ruang keluarga bersanding dengan hiasan bambu cendani yang diletakkan di sudut ruang. Sebuah karpet tebal tergelar menjadi alas di ruang keluarga ini sehingga bagian bawah tubuh tetap hangat ketika berkumpul bersama menyaksikan suguhan tayangan di televisi. Wallpaper berwarna coklat menutupi dinding bagian utara dari ruangan ini.
Sebuah teralis bermotif melati lagi-lagi dapat kita jumpai di ruang keluarga ini sehingga interaksi dengan ruang tamu tidak terpisah begitu saja. “Konsep warna dalam rumah ini banyak menggunakan permainan warna orange karena orange itu simbol transisi pelan-pelan menjadi kefokusan seperti ketika matahari tenggelam dan kebetulan istri juga suka orange,” papar pria yang berprofesi sebagai Arsitek ini. Ia pun menambahkan, “Ukiran teralis berpola bunga melati karena melati merupakan simbol keduniawian. Bunga melati di bagian tangkainya berduri yang mengandung arti sebaik apapun orang hidup di dunia pasti ada cacatnya, ada jeleknya.”
Bagian belakang rumah ini terdapat sebuah tempat bersantai tanpa penutup atap sehingga ketika malam menjelang kita dapat melihat taburan bintang yang berkelip di langit. Tempat bersantai ini terasa lebih menyatu dengan alam dengan hadirnya tanaman dalam pot-pot gantung yang menghiasi dinding. Nuansa alam lebih terasa lagi dengan sentuhan dinding mozaik dari batu-batu alam. Dinding mozaik ini diapit pilar bertrap bermotif floral seperti di bagian depan rumah. “Ukiran di pilar itu itu merupakan bentuk kaligrafi dari Bismillah, sedangkan pilar bertrap itu mempunyai makna dalam bahasa religius, manusia itu mempunyai 3 tingkatan, yaitu Baitul Makmur, Baitul Muharram, dan Baitul Muqaddas.
Baitul Makmur itu tempatnya leher ke atas, Baitul Muharram, leher ke bawah hingga perut, dan perut ke bawah adalah Baitul Muqaddas. Baitul Makmur itu simbol pikiran, Baitul Muharram simbol hati/jiwa, dan Baitul Moqaddas simbol hawa nafsu. Sedikit-sedikit saya masukin filosofi-filosofi dalam bangunan. Dalam falsafah Jawa, pria itu harus memiliki bondo, garwa, griya, turangga, dan kukila. Pria yang sudah bekerja dan mempunyai bondo (harta) itu harus berkeluarga dan memiliki garwa (istri). Setelah menikah, mereka harus memiliki griya (rumah) dan turangga (kuda), kalau sekarang ya kendaraan. Serta memiliki sesuatu yang membuat senang dan tentram hati yaitu kukila (burung), atau hobi. Rumah harus bisa mewadahi keempat faktor tadi (bondo, garwa, turangga, kukila). Jika filosofi tersebut dijalankan maka aura rumah akan hidup dan nyaman,” terang bapak dua anak ini.
Untuk memenuhi konsep garwa (istri), interior dapur dibuat semenarik mungkin agar istri merasa betah dan nyaman berlama-lama memasak. Dipilihlah kitchen set dengan warna kayu untuk menyimpan perkakas dapur. Nuansa natural dihadirkan dengan tampilan dinding batuan kali dan penggunaan marmer hitam dipermukaan meja dapur. Menurut Ngatijan, kelemahan batu karena dia gelap sehingga dipasanglah lampu di bawah lemari. Selain sebagai penerang, tampilan dapur menjadi eksotik dan elegan. Dapur ini tembus langsung ke garasi dan ruang makan. Kesan klasik juga dihadirkan di ruang makan. Meja kayu lonjong berwarna coklat tua menjadi center di ruang ini.
Empat kursi model kuno dengan sandaran punggung dari rotan mengelilingi meja tersebut. Suasana makan semakin menarik dengan pendaran cahaya yang berasal dari lampu hias berpola papan catur tergantung menerangi meja makan. Hunian yang berdiri di atas luas tanah 400m² dengan luas bangunan 200m² ini terdiri dari 5 kamar tidur dan 1 kamar pembantu di bagian belakang. Untuk menuju lantai 2, kita harus menapaki anak tangga terlebih dahulu. Tangga ini berupa sebuah lorong yang dihiasi wallpaper berwarna coklat dan naik ke atas lagi berganti dengan railing berukiran. Lantai 2 di rumah ini dikhususkan untuk aktivitas anak yang terdiri dari 2 kamar tidur dan Musholla. Di bagian tengah lantai 2 terdapat sebuah ruang bersantai lengkap dengan meja dan kursi. Dari ruang bersantai kita menuju ke balkon yang dipisahkan oleh sebuah pintu kayu.
Di balkon ini terdapat sebuah bangku yang digunakan sebagai tempat duduk untuk menikmati pemandangan sekitar dari ketinggian. Balkon ini juga berfungsi sebagai pemenuhan konsep Baitul Makmur, seperti yang dituturkan Ngatijan,”Untuk mengasah di bagian Baitul Makmur harus merenung, menenangkan hati karena sumber ilmu itu berasal dari Sang Maha Pencipta dan itu bisa datang dalam kondisi hati yang tenang untuk mendapatkan inspirasi.”Ganang-Red

















































































