Spirit Kuliner Nostalgia Di Rumah Belanda
Berkunjung ke Indiecology Café di Jalan Candra Kirana 14, Sagan, suasana vintage langsung terasa. Maklum, tempat nongkrong yang menyasar segmen anak muda tersebut menempati bangunan lawas peninggalan masa kolonial. Menempati tanah seluas 1200 m2, dan bangunan 400 m2, cafe yang beroperasi sejak 13 November 2013 tersebut nyaris tidak mengubah bentuk bangunan aslinya, yakni berbentuk rumah tinggal. “Lokasi yang kami tempati termasuk dalam cagar budaya, untuk itu kami tidak berani melakukan banyak perubahan,” ujar Manajer Operasional Indiecology, Hastomo Aditya Nugroho.
Masuk ke pintu utama dari arah barat, kita akan melihat gasebo tua beratap nyaris seperti kubah pada bagian kiri area parkir kendaraan. Namun, menurut Adit, sapaan Hastomo, gasebo tersebut bukan bagian dari bangunan asli. Gasebo tersebut merupakan koleksi pribadi pemilik yang sengaja dipindahkan ke tempat tersebut.
Layaknya sebuah rumah, setelah melewati pintu kaca berbingkai kayu setinggi tiga meter, ada ruang tamu yang diisi 3 set meja-kursi dari kayu yang hanya diamplas kasar. Masih banyak terlihat bekas cat yang tercecer pada meja- kursi tersebut. Adit menambahkan, material furnitur tersebut sengaja dibuat dari kayu bekas yang hanya diamplas kasar, hal ini dilakukan untuk memperkuat kesan klasik yang coba untuk disuguhkan.
Selain meja-kursi, “ruang tamu” tersebut juga berisi sebuah pesawat telepon kuno dan etalase kaca yang berisi berbagai macam camilan. Oh ya, di sebelah kiri ruang tamu terdapat sebuah butik yang berisi beberapa potong pakaian. Kita tidak akan membahas lebih jauh butik tersebut karena menurut Adit masih dalam tahap uji coba dan belum beroperasi maksimal.
Setelah melalui ruang tamu, kita akan memasuki ruangan berpendingin udara, di bagian ini terdapat pantry bergaya bar tempat meracik aneka minuman yang terdapat dalam daftar menu. Furnitur seperti meja – kursi hampir sama dengan yang terdapat di ruang tamu. Bagian tembok terlihat kusam karena hanya diamplas tanpa laburan cat baru. Terlihat sisa- sisa ceceran cat lama yang berwarna putih. Sedang untuk penghias ruangan terdapat sebuah piano, beberapa poster begaya vintage tesusun rapi pada di dinding di atasnya. Poster- poster itu, kata Adit, berasal dari beberapa pengrajin yang tersebar di Bantul.
Selanjutnya masuk dan ke arah kiri, terdapat dua ruangan private berfasilitas pendingin udara. Tidak banyak perbedaan dengan ruangan sebelumnya, hanya saja soal penerangan menggunakan belasan bolam lampu pijar yang digantung dengan kabel yang sengaja diurai memanjang. Terdapat pula beberapa sofa beludru dalam ruangan tersebut.
Selain di dalam ruangan, kebanyakan meja – kursi justru ditempatkan di bagian halaman. Pengunjung dapat berbincang di luar dengan ditemani cahaya lilin. Yang agak berbeda, meja kursi di bagian luar terbuat dari plat besi. Sekilas, terlihat seperti meja kursi hajatan tempo dulu, sederhana dan terkesan kaku. Adit berkisah, pihaknya mengalami kendala pada awal pendirian saat hendak sedikit mengubah bentuk bangunan. Padahal pihaknya hanya ingin menambah sedikit bagian, berupa emperan di sebelah selatan ruang tamu. Begitu juga saat hendak membangun gasebo di bagian depan. Maklum saja, lantaran termasuk sebagai bangunan cagar budaya, tentu saja izin sangat sulit diperoleh. Namun, setelah negosiasi yang alot dengan pihak Pemerintah Kota, dan, diyakinkan bahwa penambahan tersebut tidak merusak bangunan asli yang sudah ada, maka izin pun akhirnya keluar.
Selain digunakan sebagai tempat nongkrong, Indie Cology juga seringkali digunakan sebagai latar belakang sesi pemotretan pre wedding, selain itu, sejumlah Film Televisi maupun grup musik juga melakukan hal yang sama untuk ketika melakukan pengambilan gambar.
Masuk ke soal menu, meski lokasinya berada di kawasan “elit”, harga makanan dan minuman yang ditawarkan relatif terjangkau bagi kantong mahasiswa. Harga menu di Indie Cology dibanderol antara 6.000 rupiah hingga 30.000 rupiah.
“Karena lokasi yang ditempati milik owner, maka harga jual menu bisa kami tekan. Pasalnya, kami tidak perlu memikirkan biaya sewa tempat yang biasanya menjadi pengeluaran terbanyak,” kata Adit menambahkan.
Malam itu kami disuguhi Nasi Bakmoy dan Spaghetti Cabe Rawit yang menjadi menu andalan. Meski berwujud Pasta, namun olahan mie Italia dengan daging tuna tersebut disesuaikan dengan lidah lokal. Seperti namanya, menu pasta ini memadukan gaya Italia dengan rasa Indonesia. Rasa pedasnya irisan cabe rawit yang menggigit serta memiliki rasa yang gurih ini disajikan bersama irisan daging asap. Rasanya benar-benar fusion dan cocok dengan lidah saya. Meski ukurannya terbilang tak besar, namun rasanya pas di lidah.
Sedang menu kedua berupa Nasi Bakmoy, terasa ”enteng” di lidah. Rasa gurih yang tidak terlalu pekat, ditambah porsi yang tidak begitu banyak sangat pas untuk teman berbincang. Selain menyantap makanan – minuman sambil menikmati suasana kafe, pengunjung juga dapat melakukan beberapa permainan. Pengelola sendiri menyediakan beberapa alat permainan tradisional seperti halma, dakon (congklak), karambol dan papan catur.
Indiecology juga memiliki beberapa event reguler seperti live music dan pentas stand up comedy yang diadakan setiap Rabu dan Sabtu malam. Kafe ini sendiri buka mulai pukul 11 siang hingga 11 malam. Timur-Red
indie cology
cafe and boutique
Jl. Candra Kirana No. 14, Sagan, Yogyakarta
Telp. (0274) 511650
indiecologycafe@gmail.com

















































































