Kombinasi Apik, Tatahan Ukir & Gaya Minimalis
Membangun rumah sesuai dengan karakter sang penghuni rumah adalah dambaan setiap orang. Rumah dapat mencerminkan si penghuni. Kebiasaan, aktifitas, hobi sampai dengan pola pikir si pemilik rumah dapat dicerminkan dalam lingkungan rumah. Perlu kecermatan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Bagaimana pola hubungan antar ruang, pernik-pernik dan furnitur sebagai penghias ruangan dapat terkoneksi menjadi satu kesatuan karakter yang kuat. Kesan bangunan dengan karakter yang kuat tersebutlah yang coba dibangun oleh pasangan Teguh Wiyanto dan Linda Martalena dalam huniannya.
Rumah yang beralamat di Pakem, Tamanmartani, Kalasan, Sleman tersebut secara tampak depan sudah berbeda dengan lingkungan di sekitarnya. Karakter yang kuat sebagai salah seorang yang memiliki kecintaan terhadap seni ukiran sudah terasa kental sejak pintu gerbang. Pintu gerbang rumah dua lantai tersebut tampil apik dengan sentuhan ukiran pada bagian atasnya. Dikisahkan sang pemilik rumah, dalam pembangunan rumah tersebut tidaklah langsung sesuai dengan apa yang diinginkannya. Mengusung konsep rumah berjalan atau tumbuh lambat laun Teguh, panggilan akrabnya, terus mewujudkan hunian yang sesuai dengan apa yang didambakannya.
“Rumah ini dahulunya bergaya minimalis kental, namun berjalannya waktu saya merasa tampilan rumah kok terkesan polos, lalu sekitar tahun 2004 saya coba finishing ulang dengan menambahkan beberapa aksen kayu pada fasad rumah untuk menghadirkan keindahan”, ungkap Teguh. Menurut bapak yang memiliki kecintaan kuat terhadap kayu ukir ini, kehadiran kayu pada wajah rumah akan memberikan rasa 'adem' saat dipandang mata.
Perpaduan apik antara bangunan bergaya minimalis dengan hiasan kayu ukir dihadirkan Teguh pada jendela dan pintu rumah. Dikatakannya lebih lanjut, jendela dan pintu sengaja dibingkai dengan ukir kayu jati gaya Jepara untuk menampilkan karakter rumah. “Dalam pembuatan bingkai jendela dan pintu tersebut saya mengundang pengrajin ukir kayu, tidak membeli jadi, pengrajin tersebut saya undang untuk mengukur, sehingga hasilnya pas dengan ukuran Jendela dan pintu, ukiran ini bergaya Jepara”, terang Teguh sembari menunjukan bingkai jendela.
Karakter yang ramah dari sang pemilik rumah coba dihadirkan pada bagian taman depan rumah. Dalam taman tersebut terlihat perpaduan yang match di mata antara material-material yang dipilihnya. Rumput manila yang hijau dengan jalan setapak dari batu tampak bersinergi dengan beberapa pepohonan. Kecintaannya pada kayu benar-benar dihadirkannya pada taman tersebut. Sebuah gasebo dengan motif ukir di hadirkan ayah dua putri ini sebagai center point dari taman. Kolam ikan bergaya minimalis di bawah gasebo menambah kenyamanan. Pada salah satu sudut kolam nampak sebuah replika candi Prambanan. Tepat di depan gasebo tersebut terdapat sebuah ayunan, satu set meja kursi kayu akar jati dan ukir akar kayu jati sebagai pemanis dan menambah keindahan area taman. “Kalau malam hari dengan pencahayaan yang saya buat, area taman ini akan terasa semakin hidup” ujarnya.
Diungkapkan pria yang berprofesi sebagai suplier ikan, seafood, daging dan sosis ke hotel-hotel di sekitaran Jogja ini, area taman depan rumah merupakan lokasi yang nyaman untuk menikmati sore hari sambil bercengkerama dengan anggota keluarga. Salah satu hal yang menarik dari area taman ini adalah adanya ukir akar kayu jati yang menggambarkan kehidupan bawah laut. Ukiran akar kayu jati tersebut seakan ingin menggambarkan usaha ayah dari Intan Grycelda dan Celda Nataniela Khrishana. Lebih lanjut di tengah kesibukannya menerima pesanan, pria kelahiran tahun 1975 tersebut berbagi kisahnya dalam menjalani usahanya.
“Saya memulai usaha ini dulu dari membantu orang tua yang juga sebagai suplier buah dan sayuran ke hotel-hotel, lalu di tahun 2005 saya mencoba mandiri dengan menawarkan sebagai suplier ikan, dan daging, suka duka dalam usaha itu hal biasa, ya sudah 10 tahunan saya menekuni usaha ini. Saya berpedoman semakin banyak teman akan semakin banyak rejeki, saya yakin itu. Saat ini sudah ada kurang lebih 40 hotel yang saya pegang”, kisahnya. Lebih lanjut bapak yang memiliki background pendidikan D3 akuntansi ini menceritakan untuk mendapatkan barang-barang tersebut pada awalnya beliau harus berburu ke Semarang, Surabaya, dan Bali. “Dulu awal saya selalu bolak balik Semarang, Surabaya, atau Bali untuk dapat pasokan ikan, tetapi sekarang ya sudah enak, sudah bisa merasakan hasilnya”, ungkapnya penuh kebanggaan.
Menyusuri rumah dengan luas tanah 450 m² dan luas bangunan kurang lebih 250 m², akan ada banyak hal yang menginspirasi. Hiasan ukir wajah Budha dan ukir akar kayu jati berbentuk elang dan ular diletakkan Teguh di area teras rumah. Hiasan tersebut tampil senada dengan ukir gaya Jepara di pintu rumah. Ruang tamu keluarga ini tak kalah menarik dengan penataan sederhana hanya menempatkan dua buah kursi bergaya kayu dan meja dengan alas batu marmer tampak fungsionalnya. Pada dinding ruang tamu terdapat beberapa lukisan alam yang semakin menghidupkan suasana ramah sang penghuni rumah. Yang membuat ruang tamu ini semakin berkelas adalah adanya gebyok ukir gaya Kudus dengan dua muka. “Gebyok ini dua muka, dilihat dari belakang dan depan sama, ini sebagai pembatas ruang tamu dan ruang santai kami, saya suka kayu karena terasa adem, mudah perawatannya dan lebih awet”, tutur Teguh semangat. Masih di area ruang tamu, lagi-lagi ukir akar kayu jati dihadirkannya sebagai center point dari ruangan tersebut. Pencahayaan ruangan tersebut menggunakan lampu gantung dengan material sejenis marmer, dengan bias cahaya yang kekuningan semakin menghidupkan aroma kayu yang ada.
Pada ruang santai, Teguh menyettingnya terasa lebih simple namun secara fungsi tetap mengakomodir kebutuhan. Satu buah kursi ukir dengan meja di letakan di area ini. Perlengkapan elektronik seperti TV diletakan dengan background gebyok ukir. “Di ruang ini kami biasa bersantai berbincang sambil nonton televisi”, ucapnya. Plafon ruang ini cukup menginspirasi, permainan ukir kembali dihadirkan untuk memberi sentuhan kayu. Pada salah satu sudut ruang santai terdapat sebuah anak tangga yang menghubungkan ke lantai 2 hunian tersebut. Anak tangga ini terlihat istimewa dengan balutan ukiran. “Rumah ini ada 6 kamar, 3 di bawah, dan 3 di atas. Namun, saat ini lantai atas belum saya maksimalkan, karena putri kami masih kecil, jadi semua masih terkonsentrasi di lantai satu”, kata Teguh. Kamar tidur utama pasangan yang menikah sejak tahun 2008 ini juga tak luput dari sentuhan kayu. Sebuah ranjang dengan motif ukir nampak gagah sebagai tempat beristirahat.
Sambil menunjukkan gebyok ukir yang ada, suami dari Linda Martalena mengungkapkan bahwa, di lokasi yang tak jauh dari rumahnya, ia telah membangun Joglo dan Limasan. Menurutnya bangunan tersebut merupakan bukti kecintaannya pada ukiran kayu. “Saya juga punya bangunan Joglo dan Limasan full ukiran, tempatnya tak jauh dari sini, bangunan ini merupakan klangenan saya, saat ini lebih sering saya gunakan untuk berkumpul bersama teman, ya masih buat nongkrong saja, tetapi kedepan saya akan sewakan, bisa untuk acara wedding, atau gathering”, terangnya. Bangunan Joglo dan Limasan tersebut sudah dilengkapi dengan beberapa furnitur yang senada dengan nuansa kayu yang ada. “Bangunan ini belum selesai, masih ada beberapa gebyok ukir yang belum terpasang, kalau sudah siap ya tinggal disewakan”, pungkas Teguh semangat. Greg-red

















































































