Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Mengintip Kemegahan Hunian Bernuansa Kolonial

    Rumah gaya kolonial Belanda
    Furniture Kayu Jati
    Kamar Anak
    Kamar Utama dan Kolam Renang
    Cosmas Lili Sudrajat

    Rumah bergaya modern kolonial rupanya masih banyak diminati oleh sebagian orang. Rumah tinggal milik Cosmas Lili Sudrajat ini salah satunya. Gagasan desain rumah berawal dari keinginan pemilik untuk mempunyai rumah yang berkarakter dan bergaya kolonial. Ia terinspirasi oleh bangunan bergaya kolonial di salah satu hotel daerah Sumatera. Di lain pihak pemilik juga menginginkan bangunan lain dari pada yang lain. “Dulu rumah saya hanya rumah minimalis modern biasa, namun jika lama ditempati akan terkesan biasa saja. Jadi saya memutuskan untuk membangun rumah baru dengan konsep kolonial yang terkesan megah dan kokoh,” ucapnya.

    Fasad bangunan segitiga menunjukkan ciri bangunan kolonial pada umumnya. Pilar kotak di area teras berdiri kokoh menyambut setiap tamu yang datang ke hunian tersebut. Pemilihan warna putih di lingkup depan rumah juga menjadi ciri dari bangunan kolonial. Dinding pagar depan dibuat agak tinggi dengan konsep terbuka agar menimbulkan kesan tidak tertutup dan sirkulasi udara yang lancar. Penghawaan asri juga dihadirkan lewat taman hijau yang cukup luas lengkap dengan pohon-pohon besar di sampingnya. “Dulunya dinding pagar depan dibuat tertutup, lalu saya ubah dengan melubanginya agar tidak terkesan tertutup sekali dari luar,” kata Cosmas panggilan akrabnya.

    Eksterior dan interior rumah yang baru ditempati pada tahun 2014 lalu di desain sendiri oleh Cosmas. “Dulu rumah yang saya beli ini seperti rumah tumbuh, lalu saya ubah untuk kenyamanan keluarga saya. Banyak perubahan yang saya lakukan, salah satunya pada bagian fasad bangunan. Saya ubah menjadi rumah konsep kolonial, dan di belakang dulunya ada kolam ikan lalu saya ubah fungsi menjadi kolam renang. Perubahan pembangunan kurang lebih sekitar satu tahun,” terang Cosmas yang merupakan salah satu pecinta motor antik club Jogja.

    Pintu masuk utama didesain rangkap dua dengan material kaca kotak-kotak sama halnya dengan jendela didesain rangkap dua khas rumah kolonial yang terkesan tua. Masuk lebih ke dalam terdapat area pubik yang cukup luas. Hunian yang memiliki luas tanah sekitar 505 m² dan luas bangunan sekitar 200 m² tersebut memiliki ruang tamu yang luas. Peletakkan furniture meja dan kursi kayu di sebelah kanan dan kiri. Furniture di dalam rumah sebagian besar menggunakan material kayu. Masih di area ruang tamu, beberapa ornament seperti jam, lemari antik diletakkan di sisi kiri, lemari kayu tempat koleksi diletakkan di sisi kanan. Furnitur tersebut memberikan sentuhan klasik yang menyatu dengan konsep keseluran hunian tersebut. Dan hiasan foto keluarga turut hadir untuk menambah kesan harmonis di area tersebut. Lantai keramik warna putih tampil senada dengan dinding rumah yang sebagian besar berwarna putih. Pencahayaan dengan penggunaan lampu gantung menambah kesan kemegahan di area ruang tamu.

    Masuk lebih ke dalam, terdapat area hobi dengan memanfaatkan jalan menuju ke area yang lebih private. Terdapat set alat musik piano berwarna hitam dan meja kayu tempat menaruh piala-piala penghargaan. Bapak dua anak tersebut memberikan fasilitas untuk menunjang kreatifitas sang anak dengan menghadirkan piano untuk putri sulungnya. “Kebetulan anak saya yang perempuan suka bermain piano jadi ruang ini saya manfaatkan untuk kegiatan anak saat berada di rumah,” tutur bapak dari Lidwina Damar Kinanti Sudrajat.

    Sampai ke area yang lebih private terdapat livingroom dengan view taman kecil di dalam rumah. Peletakkan deretan jendela kaca transparan agak tinggi digunakan untuk memaksimalkan pencahayaan alami ke dalam rumah. Kabinet TV flat lengkap dengan karpet berbulu warna cokelat. Pemandangan kebelakang di area livingroom yang tak kalah menarik adalah kolam renang. Pintu kaca kusen lipat menampilkan view kolam renang yang menyegarkan mata. Kursi dan meja kayu diletakkan agak ke belakang untuk area kumpul bersama keluarga. Beberapa koleksi hiasan terpajang rapi di lemari kayu kaca yang terdapat di sudut ruang keluarga tersebut.

    Rumah satu lantai yang beralamatkan di Jl. Karangsari Wetan No.3 RT 24 RW 36, Banguntapan, Yogyakarta tersebut memiliki enam kamar tidur. Dua kamar anak, satu kamar utama, satu kamar untuk saudara atau keluarga, satu kamar pembantu dan satu kamar tamu yang diubah fungsi menjadi gudang. Penempatan kamar anak dibuat saling berhadapan. Di tengah kamar anak terdapat kamar mandi. Konsep kamar anak sendiri juga dibuat oleh Cosmas sesuai keinginan sang anak.

    Untuk konsep kamar anak perempuannya dipilih tema balet dan untuk kamar anak lelakinya dipilih tema pesawat. “Dulu area ini tidak ada kamarnya hanya ruang luas saja, lalu saya ubah untuk kamar kedua anak saya. Tema kamar anak pun saya sesuaikan dengan tema yang anak-anak saya sukai. Dengan memanfaatkan hobi seni saya, saya sengaja tidak memberi wallpaper untuk tema balet dan tema pesawatnya, tetapi saya menggunakan cat tembok biasa untuk melukisnya. Temanya sesuai permintaan anak, yang perempuan selain hobinya bermain piano dia juga senang menari balet. Sedangkan anak lelaki saya suka dengan pesawat,” jelas Cosmas yang juga memiliki hobi menggambar tersebut. Kamar mandi anak yang letaknya ditengah-tengah dikonsep sesimpel mungkin. Penggunaan skat terbuat dari kaca dipadupadankan dengan keramik berwarna kuning.

    Menuju kamar utama terdapat tempat tidur yang cukup besar dengan material kayu jati ukir yang bernilai seni tinggi. Kabinet lemari lengkap dengan TV dihadirkan untuk hiburan sebelum beristirahat. Jendela kaca dengan gorden warna putih dihadirkan untuk memaksimalkan pencahayaan di dalam kamar utama. Lantai kamar utama dibuat sedikit berbeda, yakni memakai keramik bermotif warna cokelat. Menuju area servis yang letaknya agak di belakang, terdapat ruang makan yang menyatu dengan dapur. Ruang makan keluarga didesain sesuai dengan fungsinya. Meja lapis kaca memanjang dengan set kursi kayu dilengkapi dengan lampu gantung cup rotan sebagai sumber pengcahayaan.

    Suasana lain akan terasa setelah memasuki area servis yang terpisah dengan rumah induk. Ruang tersebut dimanfaatkan untuk ruang santai, gudang, kolam renang dan garasi. Letaknya berada di samping rumah belakang. Kolam renang dengan konsep terbuka dihadirkan untuk kegiatan olahraga keluarga. “Dulunya ini kolam ikan saya ubah menjadi kolam renang untuk aktifitas olahraga di rumah. Kedalamannya dibagi menjadi dua, sekitar setengah meter hingga satu setengah meter,” tambah Cosmas.

    Di sekitaran kolam renang terdapat tanaman hijau sebagai penghiasnya. Kemudian ada ruang yang cukup lebar difungsikan sebagai tempat bersantai keluarga. Di area tersebut terdapat kursi sofa memanjang dan set TV. “Dulunya ruang ini adalah kamar, lalu saya bongkar menjadi ruang terbuka untuk bersantai,” tambah Cosmas.

    Sudut ruang yang cukup memukau mata ada ruang garasi. Garasi memanjang digunakan sebagai tempat memarkirkan koleksi motor-motor antik pemilik rumah. Deretan model motor antik koleksi Cosmas terjejer rapi. Beberapa hiasan lukisan pensil dengan frame ditempelkan di area dinding. “Motor-motor tersebut saya peroleh dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan ada yang saya datangkan langsung dari luar negeri. Sedangkan untuk lukisan tersebut merupakan koleksi lukisan pensil saya sendiri. Dan ada juga lukisan wajah saya sendiri,” ungkapnya gembira. Ada 6 koleksi motor antik yang sudah ia miliki. Yanti-red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain