Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Rumah Yang Terekspos Karakter

    Rumah Yang Terekspos Karakter
    Rumah Yang Terekspos Karakter
    Rumah Yang Terekspos Karakter
    Rumah Yang Terekspos Karakter
    Rumah Yang Terekspos Karakter

    Rumah bergaya etnik dengan mempertujukkan karakternya yang kuat sebagai hunian yang nyaman nampak dalam bangunan milik Tugas Dwi Padma. Hunian yang beralamat di Jalan Geblagan, Tamantirto, Kasihan Bantul ini dari luar sudah berbeda dengan bangunan di sekitarnya. Dominasi batu bata ekspos pada muka bangunan nampak cantik dan terkesan alami. Taman depan rumah dengan rumput hijau dan beberapa tanaman perindang membuat bagian depan rumah ini terasa hidup.
    Tugas, panggilan akrab sang pemilik rumah ini menuturkan bangunan ini mulai dibangun pada tahun 2006 dan butuh waktu satu tahun untuk menyelesaikannya. Bangunan ini dibangun berawal dari keinginan Bapak 2 anak , untuk memiliki hunian yang bergaya etnik. Untuk menghasilkan konsep bangunan ini butuh waktu sekitar kurang lebih 3 – 4 bulan, berdiskusi dengan kakak dan temannya yang kebetulan bekerja di salah satu pengembang di daerah magelang.

    Setelah konsep dirasa matang, pembangunan rumah ini langsung dikerjakan. Setelah rumah selesai dibangun, ternyata tidak langsung ditempati oleh keluarga Tugas. Bapak berperawakan tambun ini mengisahkan, setelah rumah selesai dibangun, keluarga tidak langsung menempati. “ Sejak tahun 1989 kami sekeluarga tinggal di daerah Kotagede, rasanya berat untuk berpindah, karena harus menyesuaikan dengan lingkungan sekitar yang baru, baru setelah saya bertugas di kantor yang baru di BPN Bantul, pada Januari lalu kami putuskan kami untuk menempatinya”, kisah Bapak yang saat ini menjabat sebagai Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bantul.

    Permainan split level hunian ini sudah terasa sejak memasuki pintu gerbang. Taman depan memiliki ketinggian sama dengan jalan, lalu plataran rumah agak turun dan rumah kembali naik. Bapak yang juga pernah berdinas di kantor BPN Kulon Progo, Sleman dan Kota Jogja ini menceritakan, kondisi awal tanah yang ia miliki memang memiliki kontur tanah agak turun, sehingga ada beberapa titik yang harus diuruk untuk mendapatkan ketinggian yang dinginkan. “ Konturnya turun, kakak saya menyarankan rumah ini paling tidak sejajar dengan jalan, maka saya naikan sekitar 1 meter”, ceritanya. Dengan rumah yang dinaikan tersebut membawa efek rumah menjadi semakin terlihat tinggi, dan gagah.

    Mengulik lebih dalam hunian pasangan Tugas Dwi Padma dan Indri Prasasyaningsih ini memang cukup menarik diulas. Senada dengan tampilan depan rumah, bagian dalam rumah yang memiliki luas 12,5 m X 12,5 m tersebut juga mengusung konsep batu bata ekspos. Sejak ruang tamu, nuansa batu bata ekspos sudah terasa. Furnitur bergaya klasik, dengan material kayu, menghadirkan nuansa yang selaras dengan dinding. Beberapa hiasan seperti lukisan nampak menghiasi dinding ruang tamu. Ruang tamu ini akan terasa nyawa etnik naturalnya tatkala pencahayaan lampu gantung dengan temaram warna kuning dinyalakan.

    Dalam rancangannya, denah ruang ini mengacu pada konsep keterbukaan. Orang tua dari S. Oka Padma Saputra dan M Haris Padma Nugraha ini mengisahkan, konsep ruangan utama memang meminimalkan penggunaan sekat mati. Keterbukaan antar penghuni rumah adalah tujuan yang ingin dicapainya. “ Konsep keterbukaan dalam rumah sesuai dengan karakter keluarga kami, jadi ketika diluar kamar, kami dapat bersosialisasi dengan baik”, kisahnya.

    Dalam konsep keterbukaan yang diusungnya lebih lanjut Tugas mengisahkan, ada cerita menarik ketika ingin membangun pagar rumah. “ Dulu pada saat ingin membangun pagar keliling rumah saya harus beradu argumentasi dengan Nyonya (Indri Prasasyaningsih , sang istri – Red), beliau minta tidak ada pagar, supaya lebih terasa luas dan terbuka, tapi saya beralasan karena untuk privasi dan keamanan, alhasil ya kita tetap bangun pagar , tapi di depan hanya menggunakan besi saja, tidak tertutup”, kisahnya. Di ruang tengah ini konsep terbuka benar-benar terasa. Meja makan, meja santai dan televisi berada dalam satu ruangan tanpa batas. Jadi bila ingin melihat televisi tidak harus di ruang khusus, sambil makan atau sambil ngeteh tetap bisa. Furnitur ruangan tengah ini cukup ringkas sesuai fungsinya.

    Di salah satu sudut ruangan ini ada yang menarik dengan furnitur seperangkat meja kursi pendek, bergaya seperti meja Jepang. Meja ini, terang Tugas sambil menunjuk ke arah meja kami gunakan untuk bersantai, sambil ‘ngeteh’ dan berbincang-bincang bersama keluarga. Pernik penghias dinding hunian ini lebih banyak berisikan lukisan atau wayang dengan tokoh Punakawan. Menurut bapak yang senang dengan kesenian pewayangan ini menafsirkan tokoh pewayangan khususnya Punokawan memiliki makna yang mendalam jika dikaitkan dengan pekerjaannya sebagai pelayan masyarakat. Punakawan adalah karakter yang khas dalam wayang Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan. Dalam wayang Jawa karakter Punakawan terdiri atas Semar, Gareng, Bagong, Petruk. “ Punokawan itu menurut saya adalah sebagai pelayan masyarakat yang rendah hati, jadi ya patut di contoh”, terang Tugas semangat.

    Hunian yang memiliki 4 kamar ini juga memiliki teras di bagian belakang bangunan. Teras ini masih menyatu dengan bangunan induk, hanya saja lebih terbuka. Dari teras ini dapat melihat halaman belakang rumah yang masih cukup luas. Tata interior pada teras ini cukup simpel sebuah kursi panjang dengan model etnik, aquarium dan bale-bale mengisi beberapa sudut teras belakang ini. Menurut Tugas, teras belakang ini juga merupakan salah satu tempat favorit baginya dan keluarga untuk bercengkerama. “ Kolam ikan ini peliharaan anak saya yang nomor dua, di teras belakang ini kami sering bercanda, ngobrol “ngalor ngidul” bareng keluarga. Pemandangan disini lebih luas, kami bisa melihat halaman belakang”, ucapnya.

    Masih di area teras belakang, plafon ruangan ini cukup tinggi, yang unik adalah material yang digunakan. Tugas menerangkan material plafon ini adalah recycle dari kayu yang biasa digunakan untuk lantai kayu. Material ini memberikan sentuhan rapi namun senada dengan konsepnya. Setelah menjelajah di bangunan utama hunian ini masih terdapat dua bangunan lagi yang terletak di bagian belakang. Sebuah garasi hadir masih dengan konsep terbuka. Di samping garasi tersebut terdapat sebuah bangunan bergaya Joglo tertutup. Joglo tersebut memiliki cerita sendiri bagi sang pemilik. “ Joglo ini saya bangun lebih dahulu jika dibanding huniannya, cita-cita saya Joglo ini nantinya akan saya buka dan digunakan untuk menyimpan gamelan Jawa, saya senang dengan kesenian Jawa, jadi besok kalau terwujud bisa digunakan untuk lingkungan sekitar juga”, cerita Tugas. Greg-Red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain