Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Serba Telo di tengah suasana Ndeso

    Kampung Labasan Resto
    Limasan kayu Jati
    Kampung Labasan Resto
    Tela Saus Rica
    Tela Penyet

    Berkunjung ke Kampung Labasan Resto yang terletak di Dusun Paraksari, Pakembinangun, Pakem, Sleman, suasana perkampungan langsung terasa. Masih banyak areal persawahan yang terletak di sekelilingnya. Berdiri di atas lahan seluas 5000 meter persegi, Labasan Resto menempati 600 meter persegi dari keseluruhan kawasan dengan konsep “ndeso”. Berkunjung dan makan di Kampung Labasan Resto, meski dalam keadaan siang terik menyengat, suasana sejuk masih terasa, pasalnya, hamparan persawahan dan rimbun pepohonan yang berada di sekeliling lokasi masih terjaga keasriannya.

    Sejak awal segmen Kampung Labasan Resto menyasar para turis, maka konsep pedesaan Jawa yang coba hadirkan. Kebanyakan turis yang bersantap di sini, merupakan masyarakat perkotaan. Dua buah bangunan Joglo dan Limasan akan menyambut sebagai kawasan labasan Resto. Joglo dan Limasan sering digunakan sebagai tempat pertemuan oleh kalangan perusahaan maupun lembaga pemerintah. Joglo dapat menampung kapasitas 100 orang dan Limasan dapat menampung kapasitas 60 orang. Secara garis besar, furnitur pengisi Joglo maupun Limasan tersebut berupa beberapa set meja kursi kuno yang terbuat dari kayu jati. Pada bagian Joglo, kita akan menemui sejumlah meja kursi kuno yang terbuat dari kayu jati. Selain itu, ada pula beberapa lukisan yang terpasang disana. Meja kursi tersebut kebanyakan berukuran besar dan berbentuk persegi panjang. Namun ada pula beberapa meja bundar mungil dengan kursi berbentuk melengkung pada sandaran punggung seperti yang sering kita saksikan dalam film maupun sinetron yang berlatar belakang etnis betawi.

    Oh ya, bila kita melihat lebih teliti, pada bagian emperan Joglo bisa kita temui berbagai macam tanaman obat maupun bumbu dapur seperti serai maupun jahe merah yang oleh pengelola sengaja ditanam mengelilingi bangunan. Melihat ke bagian Limasan yang berada di seberang Joglo, pada bagian tersebut terdapat meja kasir yang juga merangkap sebagai tempat resepsionis. Soal furnitur yang digunakan, tidak jauh berbeda dengan yang terdapat pada bangunan Joglo. Hanya saja, pada bagian pojok kanan bangunan terdapat meja bar mungil (mini bar). Namun bar mungil tersebut hanya digunakan sebagai asesoris penghias ruangan, pasalnya berbagai macam minuman diracik di bagian pantry yang terletak pada samping mini bar yang menyambung dengan dapur.

    Selain dua bangunan tadi, kita akan mendapati dua baris deretan pergola dan gasebo yang berfungsi sebagai bilik makan. Di tengah- tengahnya terdapat dua buah kolam ikan yang berfungsi sebagai pemisah. Pergola maupun gasebo tersebut dibangun menggunakan kayu glugu atau dari batang pohon kelapa, sedangkan atapnya terbuat dari rumbia. 4 unit gasebo masing-masing berkapsitas 10 orang , dan 3 unit pergola masing –masing dapat menampung kapasitas 6 orang. Secara umum, pada bagian pergola pengunjung disediakan meja dan kursi untuk menyantap hidangan sedang bagian gasebo disiapkan untuk pengunjung yang memilih menikmati makanan dan minuman secara lesehan.

    Bonny berkisah, latar belakang pendirian resto tersebut merupakan keprihatinannya bersama Sang Pemilik, Topan Satir soal kurang diliriknya bahan pangan alternatif seperti singkong, ubi dan sejenisnya. Meski menyediakan berbagai menu olahan dari ikan air tawar seperti gurami, nila, dan ikan mas, namun daftar menu andalan yang disajikan Kampung Labasan Resto menggunakan singkong sebagai bahan baku utamanya.

    Sebagai menu pembuka, kita disambut dengan Tela Penyet dan Sambal Terasi sebagai teman minum teh. Sekilas, tak ada yang istimewa. Potongan singkong seukuran dua ruas jari tangan orang dewasa tersebut bentuknya sama dengan singkong goreng kebanyakan. Namun ketika digigit, bagian dalamnya terasa begitu lumer di lidah. Tela Penyet ini akan lebih nimat dengan cara di cocolkan pada sambal terasi. Enak..!!! Singkong goreng yang rasanya tawar (karena sejak awal memang sengaja tidak diberi bumbu) bercampur dengan sambal terasi yang berasa pedas, manis menimbulkan sensasi tersendiri di lidah. Sembari menunggu menu utama, menu Tela Saos Rica Rica juga patut kita coba. Olahan berupa potongan singkong goreng yang dipotong kecil- kecil kemudian diguyur dengan saus rica-rica. Paduan rasa saus rica-rica yang pedas, manis dan sedikit asin dikombinasikan dengan rasa singkong yang tawar. Sangat pas dijadikan sebagai makanan sela diantara jam makan utama.

    Menu utama Kampung Labasan Resto cukup menarik untuk dicermati. Menu Mie Lethek Goreng menjadi salah satu menu utama yang banyak dicari para tamu. Sesuai namanya, mie berbahan dasar singkong tersebut terlihat kusam/ lethek karena tidak menggunakan bahan pewarna. Rasanya pun tidak kalah dengan mie berbahan dasar gandum, beras.

    Tak hanya itu, menu utama lainnya juga cukup menarik perhatian. Tumis Pucuk Daun Pakis dan Tumis Jantung Pisang Pedas merupakan menu yang jarang kita temui di resto pada umumnya. Dua bahan makanan tersebut sudah jarang digunakan oleh masyarakat di pedesaan Jawa sekalipun. Rasa daun pakis renyah, sekilas seperti daun kacang panjang (lembayung) yang lazim diolah menjadi sayur lodeh. Sedang jantung atau bunga pisang, terasa sedikit kenyal. Mirip dengan jamur tiram.

    Ajaibnya, jantung pisang tersebut sama sekali tidak terasa sepat. Bonny pun membuka sedikit rahasia kepada kami. Selain harus direbus dahulu menggunakan air yang diberi garam, resto nya pun hanya menggunakan bunga dari pisang kepok.
    Sebagai lauk, Sambal Ikan Kotes menemani makan malam kami petang itu. Ikan kotes atau Channa Striata merupakan ikan air tawar yang memiliki kandungan protein cukup tinggi. Namun sayang, karena sungai- sungai yang menjadi habitatnya kebanyakan sudah rusak, jumlahnya pun menurun.

    Bonny bercerita, meski sambal kotes terhitung masakan yang cukup laris, pihaknya beberapa kali terpaksa mengosongkan menu tersebut akibat minimnya pasokan dari pengepul. Sedang untuk minuman, kami disuguhi Wedang Jahe Sere Gula Jawa dan Es Buah Markisa. Rempah- rempah yang terdapat dalam wedang jahe sere tersebut membuat badan terasa hangat. Sedang es buah markisa memberi rasa segar usai menyantap hidangan “serba pedas” tadi.
    Harga makanan dan minuman di Kampung Labasan Resto dibanderol mulai dari Rp. 4.000,00 untuk minuman sedang untuk makanan mulai dari Rp. 10.000,00. Yang menarik, Kampung Labasan Resto terintegerasi dengan penginapan yang terdiri dari empat buah Bungalow. Kampung Labasan Resto juga memiliki beberapa program seperti cooking class masakan tradisional. Di sini, para tamu akan diajarkan bagaimana mengolah berbagai masakan maupun camilan tradisional, khususnya yang berbahan dasar ketela atau singkong seperti sup krim tela, dan mie lethek goreng .

    Selain paket cooking class tradisional, ada pula paket yang mengajarkan cara meracik jamu tradisional. Disana, tamu akan diajarkan meracik beberapa jenis jamu seperti beras kecur dan kunyit asam.“Kalau ingin merasakan suasana pedesaan yang kental sekaligus mencicipi makanan otentik nya, silahkan mampir ke sini. Biar tambah akrab,” tandas pria yang juga menjabat sebagai Bendahara DPD PHRI Yogyakarta ini.Timur-Red

    Kampoeng Labasan Resto
    Jl. Kaliurang km 17,5 Pakem,
    Sleman, Yogyakarta
    Phone : (0274) 895-896
    www.kampunglabasan.com

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain