Pasang IKLAN BARIS GRATIS! DAFTAR | LOGIN


Konsep Hunian Terbuka & Rendah Hati

    Konsep Hunian Terbuka & Rendah Hati
    Konsep Hunian Terbuka & Rendah Hati
    Konsep Hunian Terbuka & Rendah Hati
    Konsep Hunian Terbuka & Rendah Hati
    Konsep Hunian Terbuka & Rendah Hati

    Bila dilihat dari luar, sekilas kediaman milik Warsito di Dusun Taraman, Sinduharjo, Ngaglik Sleman tampak biasa saja. Dari depan, Bangunan seluas 366 meter persegi itu nyaris serupa dengan kebanyakan rumah masa kini. Desainnya sedehana dan minimalis. Siang itu, ketika disambangi RumahJogja Indonesia, kami disambut oleh pintu gerbang setinggi 1 meter yang terbuat dari kayu jati. Disinggung mengenai tinggi pintu gerbangnya yang relatif pendek, dengan rendah hati Warsito menjawab, “Biar bisa tetap srawung (bergaul) dengan tetangga mas,” ujarnya sambil tersenyum. Memasuki halaman rumah, tampak deretan conblock bentuk persegi tersusun melintang di depan garasi yang berada sisi kanan rumah. Di sisi kiri, sebuah taman kecil yang ditanami rumput manila serta beberapa tanaman hias lain seperti Gelombang Cinta.

    Naik ke teras rumah, sebuah batu relief berukuran 1 x 0,5 meter bermotifkan dedaunan menempel di tembok sebelah kiri rumah. Dibawahnya, sebuah lampu sorot mengarah tempat batu relief. Warsito memang sengaja tidak memasang lampu di bagian atas terasnya karena ingin mendapatkan efek cahaya berpendar yang diperoleh dari lampu sorot di malam hari. Begitu masuk ruang tamu, semua nampak biasa. Hanya sofa biasa dan sebuah meja kaca. Namun, ada yang menarik, bagian kiri ruang tamu dibiarkan tanpa jendela alias menganga. Akibatnya, ruang tamu masih terang benderang, meski hari sudah beranjak sore.

    Masuk lebih dalam, kami mulai terkejut saat melihat ruang keluarga. Begitu lega. Nyaris tak terlihat sekat disana. Ruang keluarga berbatasan langsung dengan garasi. Uniknya, antara garasi dan ruang keluarga hanya dibatasi tembok tak lebih dari setengah meter. Selebihnya hanya ditutupi kaca bening berisi kaligrafi bertuliskan lafaz “Allah” di tengahnya. Disamping kanan sekat kaca tersebut, terdapat pintu kaca yang menghubungkan antara ruang keluarga dan garasi. “Saya sengaja hanya memberi sekat kaca antara ruang keluarga dan garasi. Selain membuat suasana lebih lega, juga tetangga tidak merasa tersinggung saat menghadiri acara seperti kenduri di rumah saya, dan terpaksa harus duduk di garasi karena terbatasnya tempat di ruang tamu maupun teras,” imbuh Warsito.

    Ruang keluarga sendiri hanya berisi sebuah sofa dan sebuah televisi. Selain itu terdapat pula dapur bersih dan meja kursi makan di bagian utara. Di sebelah barat ruang keluarga, terdapat tangga dari kayu dan baja ringan. Tangga tersebut menghubungkan antara ruang keluarga dan lantai dua. Ketika kami naik, lantai dua terdapat kamar tidur untuk tamu yang dilengkapi kamar mandi sendiri, selain itu lantai dua juga berfungsi sebagai perpustakaan di bagian depan.

    Di perpustakaan tersebut, terdapat sebuah rak kayu besar yang berisi buku- buku koleksi sang istri, Yayuk Eny Rahayu, yang berprofesi sebagai pengajar di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Di depan perpustakaan terdapat taman kecil yang ditanami rumput manila dan berbagai jenis bunga. Yayuk mengaku, selain membaca, dirinya juga lebih senang melakukan koreksi tugas- tugas kuliah mahasiswanya di perpustakaan. “Lebih lega kalau kerja disini mas,” akunya.

    Kembali ke bawah, setelah melewati ruang keluarga, kami menemui sebuah ruang terbuka tanpa atap yang memisahkan antara ruang keluarga dan ruang tidur utama. Ruang terbuka tersebut ditanami rumput manila dan dipasang sejumlah batu pijak (stone pad). Di sudut barat bagian tersebut, terdapat sebuah gasebo mungil dari kayu berukuran 2 x 3 meter. Gasebo tersebut dihiasi sebuah ukiran berbentuk siluet Ka'bah. Selain digunakan untuk bersantai anggota keluarga, bangunan tersebut juga berfungsi sebagai tempat ibadah atau mushola. Di sebelah kiri gasebo, ada sebuah pancuran yang digunakan sebagai tempat wudhu.

    Setelah melewati ruang terbuka, kita akan mememui sebuah bangunan lagi. Dipisahkan oleh sebuah lorong, sebelah kiri merupakan dua kamar tidur anak sedangkan sebelah kanan adalah ruang tidur utama. Yang unik dalam kamar tidur anak adalah, terdapat sebuah kamar mandi yang memiliki dua buah pintu. Satu pintu yang lain terdapat di kamar anak sebelahnya. “Biar anak- anak terbiasa berbagi dan tidak egois, makanya hanya saya buatkan satu kamar mandi bagi mereka,” kata Warsito lagi.

    Pada salah satu kamar tidur anak dilengkapi pendingin udara. Bapak tiga anak tersebut terpaksa memasang alat pendingin udara saat sekitar enam bulan yang lalu sang istri melahirkan anak mereka yang ketiga. “Saya, terpaksa pasang AC semenjak punya bayi lagi. Terus terang, saya eman (sayang), cuaca belakangan, kan, cuaca tidak menentu. Lagi pula akhir- akhir ini suhu udara panas sekali. Saya tidak ingin bayi saya merasa tidak nyaman karena kepanasan,” aku Warsito.

    Masuk ke kamar tidur utama, terdapat sebuat tempat tidur berukuran lumayan besar. Di sebelah tempat tidur, ada sebuah meja rias yang digunakan sang istri. Kamar tidur utama juga dilengkapi sebuah kamar mandi. Diujung lorong antara kamar tidur anak dan kamar tidur utama terdapat sebuah kolam kecil yang berisi berbagai macam ikan hias.

    Pria asal Klaten tersebut bercerita, proses pembangunan rumah ini cukup lama. Mulai dari pencarian lahan, penentuan desain dan legal harus sesuai keinginannya. Setelah proses pencarian beberapa waktu, Warsito akhirnya mendapatkan tanah di Dusun Taraman, yang menjadi rumahnya sekarang. Lokasi tersebut dipilih karena selain lokasinya belum begitu ramai udara masih bagus, juga jarak dengan bandara tidak terlalu jauh. Butuh waktu cukup lama sebelum akhirnya rumah tersebut mulai dibangun. Selain karena menunggu IMB turun, Warsito sampai harus tiga kali berganti arsitek dalam perancangan rumahnya.

    Baru, setelah desain dari arsitek ketiga yang dirasa cocok sesuai keinginannya, mulailah rumah tersebut dibangun. Tak banyak yang berbeda antara desain dengan hasil jadi rumah. Hanya beberapa hal teknis yang menurut Warsito perlu disesuaikan. Seperti desain pintu gerbang yang pada awalnya dirancang tinggi. Dirinya merasa tidak sreg dengan desain tersebut lantaran dirasa “sombong” dan seoalah- olah membuat sekat dalam pergaulan dengan tetangga. Maka digantilah dengan desain pintu gerbang baru yang lebih pendek.

    Soal perabot di dalam rumah, Warsito mengaku dirinya tidak neko- neko. Menurutnya, tidak ada perabot rumahnya yang dibeli dengan harga mahal. Seperti meja makan antik yang terbuat dari kayu sonokeling, hanya ditebus dengan harga dua juta rupiah saat dirinya tak sengaja melihat meja tersebut ketika berkunjung di salah satu desa di Klaten. “Yang penting kita sabar dan telaten mas, kalau langsung beli di galeri seni, harganya bisa berlipat- lipat.”

    Disinggung mengenai rumahnya yang minim sekat, dan hampir semua pintu dan jendela yang berada di dalam rumah terbuat dari kaca bening, Warsito menjelaskan bahwa dirinya ingin mendidik anak- anaknya sifat terbuka dan jujur sejak dini. “Kami ingin mengajarkan anak- anak terbuka dan jujur sejak dini. Hampir tidak ada hal yang disembunyikan antar anggota keluarga,” jelasnya. Namun, konsep rumahnya yang terbuka bukan tanpa kelemahan. Menurutnya, saat hujan abu akibat erupsi Gunung Kelud beberapa waktu yang lalu, hampir seluruh bagian rumahnya dipenuhi abu. “Tapi, ya, mau gimana lagi. Setiap pilihan pasti ada resikonya,” tandas Warsito.

    Disisi lain, konsep rumah terbuka tersebut juga dapat menekan penggunaan listrik. Pasalnya, karena berlimpahnya cahaya matahari yang masuk, lampu- lampu cukup dinyalakan pada malam hari saja. “Tiap bulan rekening listrik kita tidak sampai tiga ratus ribu (rupiah) lho,” timpal sang istri, Yayuk. Timur-Red

    PARTNER
    Archira - Architecture & Interior    A + A Studio    Sesami Architects    Laboratorium Lingkungan Kota & Pemukiman Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW    Team Arsitektur & Desain UKDW    Puri Desain